Senin, 18 Mei 2026

Tribunners

Jejak Panjang Peradaban: Dari Tablet Tanah hingga Perpustakaan Nasional

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan ilmu pengetahuannya.

Tayang:
Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Eqi Fitri Marehan
Eqi Fitri Marehan, S.I.Kom. - Guru MTsS Plus Bahrul Ulum Sungailiat 

Oleh: Eqi Fitri Marehan, S.I.Kom. - Guru MTsS Plus Bahrul Ulum Sungailiat
 
SEJARAH peradaban manusia sejatinya adalah sejarah bagaimana manusia mencatat, menyimpan, dan meneruskan pengetahuannya. Tanpa kemampuan mengabadikan gagasan dan peristiwa, peradaban manusia tidak akan berkembang melebihi generasi sebelumnya, dan ilmu pengetahuan hanya akan berputar di tempat, hilang begitu saja ketika pemiliknya tiada.

Di sinilah letak pentingnya keberadaan perpustakaan, sebuah institusi yang sering kali kita pandang sebelah mata, padahal ia adalah nadi utama kelanjutan peradaban umat manusia. Menengok kembali catatan sejarah yang panjang, kita bisa menelusuri bagaimana perpustakaan berevolusi, mulai dari tumpukan tablet tanah di zaman kuno hingga menjadi institusi nasional yang megah seperti yang kita kenal saat ini.
 
Jejak tertua perpustakaan yang tercatat dalam sejarah peradaban manusia bermula jauh sebelum masehi, tepatnya pada abad ke-7 sebelum masehi di Kota Niniwe, wilayah Mesopotamia kuno. Dikenal sebagai Perpustakaan Ashurbanipal, tempat ini menjadi saksi bisu bahwa keinginan manusia untuk mengumpulkan dan merawat ilmu pengetahuan sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Di sana, tersimpan sekitar 30.000 keping tablet tanah yang berisi berbagai catatan, mulai dari hukum, sastra, ilmu perbintangan, hingga catatan sejarah dan mitologi.

Jika kita merenungkan hal tersebut , betapa hebatnya pemikiran manusia masa itu. Di tengah kehidupan yang masih sangat bergelut dengan alam dan kelangsungan hidup, mereka tetap menyisihkan waktu, tenaga, dan sumber daya untuk membuat catatan demi masa depan. Bagi saya, ini adalah bukti nyata bahwa peradaban yang maju selalu diikuti oleh keberadaan tempat penyimpanan ilmu. Ashurbanipal bukan sekadar ruangan berisi benda keras dan tulisan paku, tetapi juga benteng tempat menaruh harapan agar anak cucu di masa depan tidak perlu mengulang dari nol apa yang sudah dipelajari nenek moyangnya.
 
Melompat jauh dari tanah Mesopotamia, sejarah kemudian mencatat langkah penting di bumi pertiwi kita sendiri. Pada tahun 1778, tepatnya di Batavia atau yang kini kita kenal sebagai Jakarta, perpustakaan pertama di wilayah Indonesia resmi didirikan. Inisiasi ini dilakukan oleh perkumpulan ilmu pengetahuan bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.

Meskipun pada masa itu latar belakang pendirian perpustakaan masih erat kaitannya dengan kepentingan kolonial dan penelitian terhadap kekayaan alam serta budaya Nusantara, namun peristiwa ini tetap menjadi tonggak sejarah yang sangat berarti. Ini adalah titik di mana tradisi mencatat dan menyimpan ilmu pengetahuan mulai tumbuh di tanah ini, di mana naskah-naskah kuno, buku-buku, dan dokumen penting mulai dikumpulkan dalam satu wadah agar tidak hilang termakan waktu. Perpustakaan ini menjadi cikal bakal keberadaan lembaga pengelola informasi di Indonesia, yang perlahan-lahan tumbuh dan berkembang mengikuti perubahan zaman dan dinamika politik bangsa.
 
Perjalanan panjang itu akhirnya sampai pada satu momen bersejarah yang sangat membanggakan bagi kita sebagai bangsa Indonesia, yaitu tanggal 17 Mei 1980. Pada tanggal itulah, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) resmi lahir dan ditetapkan sebagai sebuah institusi nasional. Peresmian ini dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Daoed Joesoef.

Momen tersebut bukan sekadar perubahan nama atau pemindahan tempat, namun juga sebuah integrasi besar. Berbagai koleksi yang sebelumnya tersebar dan dikelola secara terpisah, akhirnya disatukan dalam satu manajemen besar yang memiliki visi dan misi yang jelas: menjadi pusat pembinaan dan pengembangan perpustakaan di seluruh Indonesia.

Lahirnya Perpusnas RI menandakan bahwa negara ini sadar sepenuhnya bahwa ilmu pengetahuan dan warisan budaya adalah aset bangsa yang harus dijaga, dirawat, dan dikembangkan secara nasional. 
 
Bagi saya yang sehari-hari mengabdikan diri sebagai pendidik di lingkungan madrasah, di MTsS Plus Bahrul Ulum Sungailiat, sejarah panjang ini menyimpan pesan yang sangat mendalam dan relevan. Mengajar generasi muda di masa kini, saya sering kali berhadapan dengan tantangan di mana minat baca dan budaya mencari sumber pengetahuan mendalam mulai tergerus oleh arus informasi yang serba cepat dan dangkal.

Ketika saya menceritakan bahwa ribuan tahun lalu manusia rela mengukir tulisan di atas tanah yang keras dan berat hanya agar ilmunya bisa diteruskan, para siswa sering kali tertegun. Mereka jadi sadar bahwa buku, bacaan, dan perpustakaan bukanlah hal yang asing atau baru, melainkan bagian dari napas sejarah manusia itu sendiri.
 
Keberadaan Perpustakaan Nasional hari ini, yang berdiri megah dan menjadi rujukan utama, adalah warisan dari perjuangan panjang tersebut. Institusi ini tidak hanya berfungsi sebagai gudang buku, tetapi sebagai garda terdepan dalam menjaga identitas bangsa. Di dalamnya tersimpan memori kolektif bangsa Indonesia, mulai dari naskah kuno, buku-buku perjuangan, hingga karya-karya ilmiah masa kini.

Jika Perpustakaan Ashurbanipal di Niniwe bertahan berabad-abad hanya dengan tablet tanah, dan perpustakaan masa kolonial bertahan di tengah keterbatasan zaman, maka sudah menjadi kewajiban kita semua untuk menjaga dan memajukan Perpustakaan Nasional RI dengan segala kemajuan teknologi yang ada saat ini.
 
Lebih dari sekadar bangunan fisik, makna perpustakaan haruslah hidup di hati setiap warga negara, terutama di kalangan pelajar. Di madrasah tempat saya mengajar, kami selalu berusaha menanamkan bahwa perpustakaan adalah jembatan emas menuju masa depan. Seperti halnya para pendiri Bataviaasch Genootschap yang ingin mengumpulkan pengetahuan tentang Nusantara, atau pemerintah Indonesia tahun 1980 yang ingin menyatukan kekayaan ilmu bangsa, kita pun memiliki tugas serupa. Tugas kita adalah memanfaatkan ilmu tersebut, mengembangkannya, dan menambah kekayaan peradaban ini agar kelak kita pun bisa mewariskan sesuatu yang berharga bagi generasi setelah kita.
 
Sejarah telah membuktikan, mulai dari tablet tanah di Niniwe, koleksi di Batavia, hingga berdirinya Perpusnas RI, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan ilmu pengetahuannya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memahami bahwa perpustakaan bukan sekadar ruangan penuh debu, tetapi juga pusat kehidupan intelektual yang menjaga akal budi bangsa tetap terjaga.

Mari kita maknai setiap tanggal 17 Mei sebagai panggilan jiwa untuk terus mencintai, merawat, dan memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber kekuatan peradaban Indonesia yang agung. (*)
 
 
 

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved