Tribunners
Inovasi SAKIP: Dari Ortala Setempoh hingga Lempah
Inovasi SAKIP bukan sekadar pembaruan sistem administrasi. Inovasi SAKIP adalah simbol perubahan paradigma birokrasi.
Selain itu, resistensi perubahan juga masih menjadi tantangan klasik birokrasi. Setiap inovasi sering kali dihadapkan pada keraguan, bahkan penolakan. Ada kekhawatiran perubahan akan menambah beban kerja atau mengubah pola kerja yang sudah nyaman dijalani bertahun-tahun.
Karena itu, penguatan budaya kinerja ASN menjadi sangat penting. ASN harus dipandang bukan sekadar pelaksana administrasi, tetapi agen perubahan. ASN dituntut mampu belajar cepat, beradaptasi, dan bekerja kolaboratif.
Energi perubahan
Setiap reformasi membutuhkan energi perubahan. Energi itu lahir dari visi kepemimpinan, budaya organisasi, dan keberanian untuk berinovasi. Launching inovasi SAKIP di Kanwil Kemenag Babel merupakan salah satu bentuk energi perubahan tersebut.
Yang menarik, inovasi yang dibangun tidak sekadar menghadirkan sistem baru, tetapi juga membangun identitas organisasi yang lebih humanis dan dekat dengan kearifan lokal. Ini penting, sebab reformasi birokrasi sering gagal karena terasa terlalu teknokratis dan jauh dari kultur organisasi.
Melalui pendekatan Ortala Setempoh, Lebah, Serumpun, dan Lempah, reformasi birokrasi terasa lebih membumi. Ada semangat kolektif yang ingin dibangun bahwa perubahan bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan kebutuhan bersama.
Lebih jauh lagi, inovasi ini juga mengirim pesan bahwa birokrasi tidak boleh hanya sibuk mengejar nilai evaluasi. Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah dampak nyata bagi organisasi dan kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, inovasi SAKIP bukan sekadar pembaruan sistem administrasi. Inovasi SAKIP adalah simbol perubahan paradigma birokrasi. Dari birokrasi yang sibuk mengejar dokumen menuju birokrasi yang fokus menciptakan dampak.
Launching inovasi SAKIP oleh Kanwil Kemenag Babel menunjukkan bahwa reformasi birokrasi dapat dikemas secara kreatif, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan. Pendekatan Ortala Setempoh, Lebah, Serumpun, dan Lempah menjadi bukti bahwa inovasi dapat tumbuh dari kearifan lokal sekaligus menjawab tantangan modernisasi tata kelola pemerintahan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260526_Bambang-Ari-Satria.jpg)