Jumat, 5 Juni 2026

Berita Bangka Selatan

Dua Tahun Nihil Kasus, Pemkab Bangka Selatan Jaga Status Bebas Malaria

Kabupaten Bangka Selatan berhasil mempertahankan status bebas malaria dengan catatan nihil kasus selama dua tahun terakhir. Meski ...

Tayang:
Bangkapos.com/Cepi Marlianto/Cepi Marlianto
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kabupaten Bangka Selatan terus mempertahankan status sebagai daerah bebas malaria. Hingga saat ini, wilayah tersebut tercatat tidak menemukan kasus malaria dalam dua tahun terakhir, sekaligus memperkuat capaian eliminasi malaria yang telah diraih sejak tahun 2015.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin mengatakan, Bangka Selatan telah memperoleh sertifikat eliminasi malaria pada tahun 2015. Status tersebut menunjukkan daerah ini telah berhasil menghentikan penularan malaria secara lokal melalui berbagai upaya pengendalian yang dilakukan secara berkelanjutan. Namun, pemerintah daerah tetap menjaga kewaspadaan untuk mempertahankan capaian tersebut.

“Kabupaten Bangka Selatan sudah mendapatkan sertifikat bebas malaria pada tahun 2015 dan sampai saat ini terus kami pertahankan,” ujar Slamet Wahidin kepada Bangkapos.com, Jumat (5/6/2026).

Slamet Wahidin mengungkapkan, selama dua tahun terakhir hingga saat ini tidak ditemukan kasus malaria di Bangka Selatan. Kondisi tersebut didukung oleh pelaksanaan pemeriksaan dan pengawasan yang terus dilakukan oleh petugas kesehatan di lapangan. Kendati begitu, kewaspadaan tidak boleh berkurang mengingat masih adanya wilayah lain yang memiliki kasus malaria.

Upaya yang dilakukan adalah melaksanakan surveilans migrasi terhadap penduduk yang berpotensi membawa risiko penularan malaria. Pengawasan dilakukan terhadap warga yang datang dari wilayah yang masih memiliki kasus malaria, baik di dalam maupun luar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk mendeteksi secara dini kemungkinan adanya kasus impor malaria.

“Kami tetap melakukan skrining melalui surveilans migrasi terhadap penduduk yang datang dari daerah yang masih terdapat malaria,” jelas Slamet.

Menurutnya, mobilitas pekerja musiman menjadi perhatian dalam upaya pencegahan masuknya kasus malaria ke Bangka Selatan. Beberapa wilayah seperti di Kabupaten Bangka Barat maupun sejumlah daerah lain masih menjadi lokasi yang memiliki tingkat penularan malaria relatif tinggi. Karena itu, setiap pekerja yang datang dari daerah tersebut perlu mendapatkan perhatian dan pemantauan kesehatan.

Ketika ada pekerja musiman yang datang dari wilayah malaria, maka harus segera dilakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah terinfeksi malaria atau tidak. Selain pengawasan, pemerintah daerah juga terus menggencarkan promosi kesehatan dan edukasi kepada masyarakat. Kegiatan tersebut dilakukan melalui berbagai forum pelayanan kesehatan masyarakat seperti Posyandu dan Posbindu. Edukasi diberikan agar masyarakat memahami cara pencegahan serta mengenali gejala malaria sejak dini.

“Kegiatan promosi dan edukasi tetap kami lakukan melalui Posyandu, Posbindu, dan berbagai kegiatan kesehatan lainnya,” urainya.

Slamet Wahidin menegaskan masyarakat tetap perlu waspada meskipun Bangka Selatan telah dinyatakan bebas malaria. Penyakit tersebut ditularkan melalui gigitan nyamuk sehingga risiko penularan masih dapat terjadi apabila terdapat kasus yang masuk dari luar daerah. Oleh karena itu, upaya perlindungan diri dan menjaga kebersihan lingkungan tetap menjadi bagian penting dalam pencegahan malaria.

Ia mengimbau masyarakat yang mengalami gejala seperti demam, menggigil, atau keluhan lain yang mengarah pada malaria agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Pemeriksaan dini diperlukan untuk memastikan penyebab penyakit sekaligus mencegah keterlambatan penanganan apabila ditemukan kasus positif. Seluruh dugaan kasus malaria harus dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium sesuai standar yang berlaku.

“Apabila mengalami gejala yang mengarah ke malaria, segera berobat ke puskesmas atau rumah sakit terdekat,” sebutnya.

Kini pemeriksaan mikroskopis masih menjadi standar utama dalam penegakan diagnosis malaria. Hasil pemeriksaan laboratorium menjadi dasar bagi tenaga kesehatan untuk menentukan apakah seseorang benar-benar terinfeksi malaria atau tidak. Langkah tersebut penting untuk memastikan penanganan dilakukan secara tepat dan sesuai prosedur.

“Gold standard pemeriksaan malaria saat ini harus dibuktikan secara mikroskopis, sehingga diagnosisnya benar-benar akurat,” ucapnya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved