Rabu, 13 Mei 2026

Apa Itu MSCI, Perusahaan Riset yang Ditemui Pjs Dirut BEI Imbas Ratusan Saham Anjlok

Morgan Stanley Capital International (MSCI) adalah perusahaan riset sebagai penyedia indeks global yang menjadi acuan utama investor

Tayang:
Istimewa/Tribunnews.com
Jeffrey Hendrik resmi menjabat Pjs Direktur Utama Bursa Efek Indonesia setelah IHSG anjlok dan trading halt terjadi dua kali. 

Berdasarkan laman resmi msci.com, Morgan Stanley Capital International (MSCI) adalah perusahaan riset sebagai penyedia indeks global yang menjadi acuan utama investor institusi di seluruh dunia, termasuk dana pensiun, reksa dana global, dan exchange traded fund (ETF).

Indeks MSCI digunakan untuk menentukan alokasi investasi lintas negara, sekaligus menentukan klasifikasi negara sebagai Developed Market, Emerging Market, atau Frontier Market.

Dalam pengumumannya, MSCI menyatakan akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak menambahkan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Selain itu, MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari Small Cap ke Standard. Tujuannya adalah memitigasi risiko turnover indeks dan risiko investabilitas.

"Sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan peningkatan transparansi yang lebih bermakna,” tulis pengumuman MSCI, Selasa (27/1) malam.

Selain itu, MSCI mengungkap langkah untuk mengurangi potensi reverse turnover pada Index Review Mei 2026 akibat penerapan metodologi pembulatan free float.

“Oleh karena itu, pada Index Review Februari 2026, MSCI hanya akan menerapkan perubahan free float yang bersifat signifikan,” jelas MSCI.

 
Dampak dan Krisis Kepercayaan

Tim Riset KISI Sekuritas Indonesia menilai, interim freeze MSCI berarti tidak ada penambahan saham baru atau promosi Small Cap ke Standard untuk emiten Indonesia pada periode review Februari 2026.

“Dampak langsung ke (saham) kandidat adalah seluruh tesis investasi berbasis inklusi MSCI untuk Februari ini gugur,” tulis riset yang dikutip Kontan.

Masalah utama yang diangkat MSCI adalah krisis kepercayaan. Investor global disebut tidak percaya pada data kepemilikan saham, baik yang tercatat di KSEI maupun BEI. Masalah ini terkait struktur kepemilikan yang buram (opacity) dan dugaan manipulasi harga terkoordinasi (coordinated trading behavior).

“Secara sederhana market kita dianggap terlalu banyak 'gorengan' dan data free float-nya tidak mencerminkan realita,” kata tim riset KISI.

Jika hingga Mei 2026 transparansi tidak membaik, MSCI mengancam akan menurunkan bobot seluruh saham Indonesia dan bahkan menurunkan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

“Jika terjadi, maka potensi dana asing yang keluar dapat mencapai minimal US$10 miliar, dengan asumsi frontier market tidak termasuk ke dalam mandat investasi,” tambah mereka.

Investor pun diingatkan untuk berhati-hati terhadap saham-saham yang naik karena spekulasi masuk MSCI.

"Sentimen negatif untuk IHSG dalam beberapa waktu ke depan. Asing akan melihat ini sebagai governance risk,” ujar Tim Riset KISI Sekuritas Indonesia.

(Tribunnews/Tribunnews Maker/Bangkapos.com)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved