Tribunners
Ketika Hati Nurani Menjadi Fatwa
Pada diri manusia terdapat tiga unsur jasmani beserta pancaindra, akal dan hati (unsur rohani)--hal yang membedakannya dengan makhluk lain.
Jika potensinya berupa unsur jasmani atau fisik tentu butuh asupan makanan bergizi agar tumbuh sehat, istirahat dan olahraga teratur, pengobatan serta dijaga kebersihan dan kesuciannya.
Begitu pula unsur akal dan hati. Selain dioptimalkan, ia juga butuh perawatan atau disucikan agar fitrahnya terjaga.
Dalam dunia filsafat pendidikan Islam terdapat beberapa disiplin ilmu terkait ketiga unsur/potensi manusia tersebut, misalnya ilmu fikih, filsafat Islam (terutama ilmu mantiq/logika) serta tasawwuf.
Jika bidang ilmu yang pertama banyak berkaitan dengan urusan yang bersifat jasmaniah (seperti pada bab thaharah yang membahas tentang bersuci terkait anggota tubuh), yang kedua berkaitan dengan olahfikir atau akal, sedangkan yang ketiga adalah bersinggungan dengan masalah olahrasa atau batin (hati).
Dalam ilmu fikih khususnya bab thaharah, misalnya, mensucikan unsur jasmaniah manusia dapat dilakukan dengan tayamum, berwudhu ataupun mandi.
Sementara melalui filsafat atau ilmu mantiq (logika), dengan mengarahkan akal berfikir secara logis dan sistematis tentang sesuatu, potensinya pun diyakini akan teraktualkan sehingga tak mudah alami degradasi atau penurunan fungsi seperti mudah pikun dan lain-lain.
Semakin sering akal digunakan untuk berfikir logis, semakin berkembang pula potensinya.
Begitu pula dengan tasawwuf atau sufi, merupakan ilmu, pendekatan atau metode yang digunakan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.
Hati--yang merupakan inti manusia--pun perlu didekatkan dengan cara mengingat Sang Penciptanya agar ia menjadi tenang (nafs al-muthmainnah).
Peran Jasmani, Akal dan Hati
Dalam menjalankan peran dan fungsinya, antara jasmani, akal serta hati tentu saling kait-mengait.
Jasmani ataupun panca indera, misalnya, dalam melakukan sesuatu didasari atas logika akal sehat serta niat atau kemauan hati. Begitu pula akal.
Dalam berfikir tentang suatu persoalan pun ia seringkali merujuk pada kehendak hati.
Sedangkan hati sendiri, karena menjadi pusat rujukan bagi jasmani dan akal, maka ia bukan sekadar penentu di ruang pusat komando, melainkan wajah bagi diri (nafs) manusia itu sendiri.
Karenanya, agar hati dapat memberi keselamatan (qolbun salīm) bagi diri manusia maupun seisi alam semesta niscaya hati pun tak boleh berjauh-jauh dari Tuhan sekaligus Tuannya itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260301-Rahman-Azim.jpg)