Jumat, 24 April 2026

Tribunners

Ketika Hati Nurani Menjadi Fatwa

Pada diri manusia terdapat tiga unsur jasmani beserta pancaindra, akal dan hati (unsur rohani)--hal yang membedakannya dengan makhluk lain.

Editor: Fitriadi
Dokumentasi Rahman Azim
Rahman Azim, Pengawas Sekolah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangka. 

Rahman Azim

Pengawas Sekolah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangka

Banyak orang berkata bahwa manusia adalah makhluk unik.

Boleh jadi penilaian seperti itu muncul oleh karena pada diri manusia terdapat tiga unsur/potensi: jasmani beserta pancaindra, akal dan hati (unsur rohani)--hal yang membedakannya dengan makhluk lain.

Dengan modal tersebut manusia bukan hanya dinilai sebagai puncak ciptaan, tapi oleh Sang Maha Pencipta sendiri ia dijadikan sebagai "khalifah" di muka bumi. 

Innī jã'ilun fi al-ard khalīfah : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi (Qs. Al-Baqarah/2: 30).

Kata "khalīfah", secara bahasa, berasal dari bahasa Arab: khalafa-yakhlufu-khalfan-khilafatan, berarti: pengganti, wakil, penerus atau belakang.

Kata ini merujuk pada seseorang yang menggantikan peran, fungsi atau kedudukan orang sebelumnya. Namun secara hakiki kata "khalīfah" dapat pula dimaknai sebagai: manusia diutus untuk memakmurkan bumi, menegakkan keadilan, menebar kemaslahatan, serta menjaga alam dari kerusakan.

Namun demikian menjadi khalifah di muka bumi bukanlah satu-satunya tujuan penciptaan manusia. Dalam Qs. Az-Zariyat/51: 56, Allah juga berfirman: Wa mâ khalaqtul-jinna wal-insa illâ liya‘budûn : Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Dengan demikian, di saat menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi manusia sejatinya mengintegrasikan nilai-nilai Ketuhanan bersumber dari nilai-nilai ibadah yang ia jalani.

Boleh jadi karena perannya itulah manusia dianggap sebagai puncak daripada ciptaan Tuhan, suatu peran yang tak dimiliki makhluk lainnya.

Unsur-unsur Manusia

Jika jasmani merupakan unsur yang keberadaannya nyata atau dapat terlihat, akal dan hati justru sebaliknya: bersifat rohaniah.

Akal dan hati yang dimaksud bukanlah dalam artian fisik atau berwujud sebongkah daging (al-kabidu), tetapi merupakan suatu potensi kemampuan berfikir dan merasa. Dan di antara ketiga unsur tersebut, hati boleh dikata merupakan core (inti) dari eksistensi seorang manusia.

Agar ketiga unsur tersebut sustainable, berfungsi dengan semestinya, tentulah ia butuh maintenance (perawatan). Caranya pun tak mesti sama.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved