Tribunners
Ngantor Setelah Lebaran dan Adaptasi Mental di Era Kerja Fleksibel
Setelah merasakan fleksibilitas WFA, banyak pekerja kini berada dalam “ruang antara”—tidak sepenuhnya ingin kembali ke pola lama
Penulis: Muhammad Isnaini
(Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang)
Lebaran selalu menjadi jeda paling dinanti dalam ritme kehidupan masyarakat Indonesia.
Ia bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum kultural yang sarat makna: pulang, memaafkan, menyambung kembali yang sempat renggang. Namun, seperti semua jeda, Lebaran pun memiliki titik kembali.
Tahun ini, dinamika tersebut terasa berbeda. Kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang diberlakukan di awal dan akhir masa libur Idul Fitri 1447 H memberi ruang baru bagi pekerja untuk menikmati fleksibilitas, sekaligus memperpanjang momen kebersamaan.
Di sisi lain, ketika masa WFA berakhir dan rutinitas kantor kembali normal, muncul satu tantangan yang kerap luput dari perhatian: adaptasi mental.
Kembali ngantor setelah Lebaran sejatinya bukan hanya soal mengganti baju santai dengan pakaian kerja, atau berpindah dari kampung halaman ke ruang kantor.
Ia adalah proses psikologis yang melibatkan penyesuaian ulang ritme hidup, ekspektasi, dan bahkan makna bekerja itu sendiri.
Terlebih setelah merasakan fleksibilitas WFA, banyak pekerja kini berada dalam “ruang antara”—tidak sepenuhnya ingin kembali ke pola lama, tetapi juga belum sepenuhnya siap menghadapi realitas kerja konvensional.
Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep post-holiday blues, kondisi psikologis yang ditandai dengan perasaan lesu, kehilangan motivasi, bahkan kecemasan ringan setelah masa liburan berakhir.
Dalam konteks Lebaran, gejala ini bisa menjadi lebih kompleks. Bukan hanya karena durasi libur yang relatif panjang, tetapi juga karena kedalaman pengalaman emosional yang dialami—bertemu orang tua, bercengkerama dengan saudara, hingga merasakan kembali kehangatan rumah yang mungkin selama ini jauh.
Ketika WFA hadir sebagai jembatan antara dunia kerja dan kehidupan personal, batas di antara keduanya menjadi lebih cair.
Pekerja bisa menyelesaikan tugas sambil tetap berada di kampung halaman, menghadiri rapat daring di sela-sela silaturahmi, atau menyusun laporan di teras rumah masa kecil.
Fleksibilitas ini, meski memberi kenyamanan, juga menciptakan standar baru dalam persepsi tentang bekerja.
Kantor tidak lagi identik dengan ruang fisik tertentu, melainkan fungsi yang bisa dijalankan dari mana saja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/31032026-Muhammad-Isnaini-Dekan-di-UIN-Raden-Fatah.jpg)