Resonansi
Saat Jenderal Dipensiunkan Dini
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth memensiunkan dini Kepala Staf Angkatan Darat AS Jenderal Randy George.
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Lihat peristiwa militer sebelumnya. Dalam perang Vietnam, jenderal-jenderal diganti bukan hanya karena medan perang, tetapi bisa juga disebabkan tekanan politik di Washington. Begitu juga ketika perang Irak terjadi. Strategi berubah cepat daripada peristiwa di lapangan.
Carl von Clausewitz, seorang jenderal dan pemikir militer asal Prusia jauh-jauh hari sudah mengingatkan bahwa dalam teori perang modern, perang bukan tindakan acak atau semata kekerasan.
Perang menjadi alat mencapai tujuan politik. Negara berperang bukan hanya untuk menang, tetapi untuk memaksakan kehendaknya. Dan ketika perang beririsan dengan politik, kambing hitam diperlukan sebagai pijakan.
Kemungkinan-kemungkinan ini terus bekerja dalam alam kekuasaan. Melalui apa yang bisa dilakukan, atau yang tidak boleh dilakukan. Itu berarti dalam situasi seperti ini, keputusan mengganti orang sering kali bukan soal benar atau salah, tetapi soal kesesuaian dengan arah.
Masalahnya, ada ironi yang dalam soal arah tersebut. Perang yang terjadi bukan lagi soal siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang bisa bertahan. Saat itu berlangsung, apesnya penonton justru ikut membayar tiket paling mahal.
Yuk, kita lihat saat Selat Hormuz terganggu. Dampaknya tidak lokal, melainkan global. Saat kapal tanker berhenti sejenak, harga energi langsung naik, biaya produksi meningkat dan tekanan merembet ke negara-negara nan jauh dari Timur Tengah, termasuk Indonesia.
Sistem global tiba-tiba bekerja seperti tubuh. Jika satu arteri utama mampet, seluruh organ merasakan dampak.
Atas hambatan di Selat Hormuz, Indonesia menanggung biaya produksi yang kian meningkat, inflasi energi yang menekan rumah tangga dan sektor riil yang kian terjepit.
Hadirnya pun beragam. Ia hadir dalam harga bensin, ongkos logistik dan keputusan-keputusan efesiensi di sederet perusahaan.
Begitulah sistem bekerja. Entah sedih atau gembira, atas peristiwa perang itu, negara berkembang sering menjadi pihak yang paling terdampak.
Dan dalam jalinan konektivitas global yang kerap dibangga-banggakan, kita justru paling sedikit mengendalikan. Hal ini bukan karena tahu apa yang akan terjadi, tetapi karena terlalu banyak yang tidak diketahui.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)