Rabu, 20 Mei 2026

Penyebab Rupiah Merosot ke Rp17.728 per Dolar AS

Kenali penyebab rupiah yang merosot ke level Rp17.728 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026) siang.

Tayang:
Penulis: Evan Saputra CC | Editor: Evan Saputra
kompas.com
Ilustrasi uang logam dan uang kertas 

BANGKAPOS.COM - Pergerakan rupiah yang merosot ke level Rp17.728 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026) siang, murni disebabkan oleh faktor eksternal dan siklus tahunan pasar keuangan.

Selain karena melonjaknya tingkat imbal hasil (yield) obligasi AS, penurunan ini diperparah oleh tingginya permintaan valas di dalam negeri untuk kebutuhan musiman repatriasi dividen korporasi asing dan penyesuaian harga minyak dunia.

Mata uang rupiah ambles puluhan poin akibat tekanan sentimen global dan kebutuhan internal domestik yang melonjak.

Baca juga: Cek Fakta: Mobil di Atas 1.400 cc Dilarang Isi Pertalite per 1 Juni? Ini Kata Pertamina

Berdasarkan data pasar pada pukul 11.02 WIB, rupiah bergerak melemah sebesar 60 poin atau terkoreksi 0,34 persen ke level Rp17.728 per dolar AS. 

Posisi ini menunjukkan penurunan yang cukup tajam jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.668 per dolar AS.

Dipicu Sentimen Global dan Inflasi AS

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai pelemahan tajam yang dialami mata uang rupiah kali ini masih didominasi oleh faktor eksternal. 

Efek domino dari ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai menjadi motor utama penguatan dolar AS yang menekan mata uang negara berkembang.

“Ini masih euforia konflik Timur Tengah yang merembet ke mana-mana seperti kenaikan harga minyak mentah dan inflasi,” ucap Ariston di Jakarta, Selasa (19/5), dikutip dari Antara.

Ketegangan di Timur Tengah tersebut berimbas langsung pada meroketnya harga komoditas energi dunia. 

Lonjakan harga minyak mentah ini kemudian memicu kekhawatiran baru terhadap kenaikan ekspektasi inflasi di Negeri Paman Sam. 

Akibat ekspektasi inflasi AS yang meninggi, tingkat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) pun ikut terkerek hingga mencetak rekor baru.

Yield Obligasi AS Cetak Rekor Tertinggi Baru di Tahun 2026

Kenaikan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS terpantau melesat secara merata di berbagai tenor.

Bahkan, angka yang tercatat pada hari ini merupakan level tertinggi baru sepanjang tahun 2026 berjalan.

Situasi ini membuat aset keuangan AS menjadi jauh lebih menarik bagi para investor global.

Tercatat, yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 2 tahun kini berada di angka 4,105 persen. 

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved