Rabu, 20 Mei 2026

Penyebab Rupiah Merosot ke Rp17.728 per Dolar AS

Kenali penyebab rupiah yang merosot ke level Rp17.728 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026) siang.

Tayang:
Penulis: Evan Saputra CC | Editor: Evan Saputra
kompas.com
Ilustrasi uang logam dan uang kertas 

Sementara itu, untuk tenor 10 tahun merangkak naik ke level 4,631 persen, dan tenor jangka panjang 30 tahun melesat hingga menyentuh 5,159 persen.

Ariston menambahkan, meroketnya yield obligasi AS ini menjadi angin segar bagi mata uang dolar AS.

Dampaknya, terjadi aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan negara-negara berkembang karena investor memilih mengamankan aset mereka ke dalam bentuk dolar. 

Penguatan absolut dolar AS inilah yang akhirnya memukul mundur nilai tukar mata uang lainnya, termasuk rupiah.

Selain digempur oleh sentimen luar negeri, nilai tukar rupiah juga harus menghadapi tekanan ganda dari dalam negeri. 

Sentimen domestik pertama datang dari tingginya beban impor energi nasional akibat meroketnya harga minyak dunia yang kini bertengger di atas level 100 dolar AS per barel.

Kondisi harga minyak yang melambung tinggi ini tidak hanya membuat harga berbagai kebutuhan masyarakat di tanah air ikut mengalir naik, tetapi juga menguras pasokan valuta asing. 

Tingginya biaya impor minyak mentah secara otomatis meningkatkan volume permintaan dolar AS di dalam negeri guna menyelesaikan transaksi perdagangan tersebut.

Tekanan terhadap mata uang rupiah semakin diperparah oleh faktor musiman korporasi. 

Saat ini, pasar keuangan Indonesia tengah memasuki bulan dividen.

Banyak perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri mulai melakukan repatriasi atau pengiriman kembali keuntungan (dividen) mereka kepada pemegang saham di luar negeri.

Proses repatriasi dividen keluar negeri ini mewajibkan perusahaan-perusahaan tersebut mengonversi dana rupiah mereka ke dalam mata uang dolar AS dalam jumlah besar.

“Selain itu, ini lagi bulan dividen, repatriasi dividen keluar negeri yang meningkatkan permintaan dolar AS juga menekan rupiah,” ungkap Ariston.

Lonjakan permintaan dolar AS yang terjadi secara bersamaan baik untuk kebutuhan impor energi di tengah mahalnya harga minyak dunia maupun penarikan dividen korporasi asing menjadi beban berat yang kian menyudutkan posisi rupiah di pasar valas hingga siang ini.

(Kompas/Tribunnews)

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved