Mutiara Ramadhan
Ego Spiritual tanpa Ibadah Sosial
Kriteria kualitas keberagamaan seseorang tidak diukur dari banyaknya ibadah mahdhah yang dilakukan, tetapi ibadah sosial.
Oleh, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar
Dalam lintasan sejarah dunia Islam, skandal spiritual menyebabkan jatuhnya sejumlah makhluk dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan.
Malaikat jatuh karena mereka
membangkang dan takabur (istikbar).
Malaikat turun ke Baitul Ma’mur dari ‘Arasy karena
mempertanyakan kebijakan Tuhan (over kritis) dan menepuk dada sebagai ahli ibadah (al-‘alin), dan manusia jatuh ke bumi karena tidak kuat menahan nafsu.
Dalam sebuah hadis diceritakan di dalam kitab Ihya Ulum al-Din karya Imam Al-Gazali, seorang alim dan ahli ibadah yang semata-mata mencurahkan waktu dan pikirannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ia banyak mengasingkan diri dari keramaian demi untuk menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi dosa dari orang-orang awam.
Baca juga: Surat Cinta Tuhan
Suatu ketika seorang pelacur mencari ulama untuk curhat dan sekaligus meminta nasihat bagaimana meninggalkan dunia hitam yang selama ini digelutinya.
Ia juga menanyakan apakah masih ada harapan Tuhan memaafkan dan menerima tobatnya setelah malang melintang hidupnya di tengah lumpur dosa.
Mendengarkan keinginan itu, sang ahli ibadah itu menolak harapan perempuan nakal itu dengan mengatakan, aku tidak mau menodai diriku dengan berkomunikasi orang kotor seperti itu.
Mendengarkan cerita itu, maka Nabi mengatakan sang ahli ibadah itu penghuni neraka dan perempuan yang karena ketulusannya ingin bertaubat adalah penghuni syurga. Subhanallah.
Riwayat ini mengingatkan kita, kriteria kualitas keberagamaan seseorang tidak diukur dari banyaknya ibadah mahdhah yang dilakukan, tetapi ibadah sosial seperti memperhatikan nasib fakir miskin dan anak yatim piatu.
Bahkan, celakalah bagi orang salat yang tidak membawa dampak sosial kemasyarakatan.
Aktivitas ibadah dan spiritual yang dilakukan tanpa memperdulikan lingkungan masyarakat di mana ia berada malah dikhawatirkan terjebak dengan apa yang disebut dengan ego spiritual atau kesombongan spiritual.
Ego spiritual ialah orang-orang yang terlalu mengedepankan hubungan vertikalnya dengan Tuhan tanpa mau tahu lingkungan masyarakat sekitarnya. Bahkan ia cenderung menghindarinya karena seolah-olah dirinya sudah tidak selevel dengan mereka.
Ia mengklaim dirinya sebagai orang-orang kelas atas dalam dunia spiritual.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250228-Nasaruddin-Umar-Menteri-Agama-RI.jpg)