Resonansi
Harapan
Satu gol dari kaki Zidane Iqbal mengakhiri harapan ratusan juta fan sepak bola Indonesia
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.
Editor in Chief
Bangka Pos/Pos Belitung
HARAPAN YANG RETAK DI JEDDAH. Begitu seorang kawan mencurahkan kekesalan atas kekalahan Timnas Indonesia versus Irak.
Satu gol dari kaki Zidane Iqbal mengakhiri harapan ratusan juta fan sepak bola Indonesia untuk melihat Timnas Indonesia menuju Piala Dunia.
Ya, harapan besar itu begitu rapuh. Padahal, harapan itu bersemi sejak 12 Oktober 2023 lalu. Dari sebuah sore saat Indonesia meladeni Brunei Darussalam, berlanjut ke laga nan jauh demi mendulang kemenangan atas nama Piala Dunia.
Sedikitnya 47 pemain turut andil dalam upaya memulai sejarah baru Indonesia di kancah sepakbola tersebut. Namun, tak ada keajaiban menit akhir di Jeddah. Tak ada satu poin yang bisa diselematkan. Skuad Garuda menutup asa di dasar klasemen Kualifikasi Piala Dunia.
Ada batas dan kenyataan atas harapan yang terkadang datang melalui jalan yang sunyi. Ia tumbuh begitu saja di antara obrolan warung kopi, layar televisi, makian dan teriakan supporter di tribun. Atau bahkan, tetiba muncul dalam ruang batin yang tak terucap.
Padahal, para filsuf di zaman Yunani Kuno sudah mengingatkan manusia soal harapan ini. Bahkan, mereka memperdebatkan harapan, apakah masuk berkah atau kutukan untuk manusia.
Penyair Yunani Hesiodos dalam Works and Days misalnya, menggambarkan harapan sebagai satu-satunya hal baik yang tersisa bagi manusia. Sebab, harapan tidak ikut keluar dan menjadi kejahatan dunia seperti penyakit dan penderitaan. Ia justru terpendam di dalam tempayan, atau kotak pandora untuk manusia agar memiliki masa depan yang lebih baik lagi.
Filsuf Jerman Friedrich Nietzsche berbeda cerita. Harapan justru kejahatan terburuk dalam pandora karena ia memperpanjang siksaan manusia. Harapan seolah memberikan penghiburan palsu. Seolah, hanya membuat manusia bertahan dalam kondisi yang seharusnya sudah ditinggalkan sejak lama.
Penjelasan ini sejalan dengan curahan hati kawan malam itu. Ia merasa lagu Tanah Airku, yang dinyanyikan berkali-kali justru terasa menyesakkan. Kekalahan Timnas Indonesia atas Irak terasa lebih perih. Kekalahan yang terasa bukan hanya soal angka di papan skor. Tapi, kekalahan itu menguburkan impian kolektif yang dirajut sepanjang dua tahun terakhir. Hingga, akhirnya di akhir percakapan, ujaran tersisa adalah tak ingin bermimpi atau melihat laga Timnas Indonesia kembali.
Beruntung, ada kawan yang meredakan emosi malam itu. Kekalahan atas Irak yang juga menguburkan Timnas Indonesia di pentas dunia, bukan akhir segalanya. Anggap saja, itu hanya batu yang tergelincir. Seperti torehan esai Filsuf dan penulis Prancis-Aljazair Albert Camus pada 1942, bertajuk Le Mythe de Sisyphe (The Myth of Sisyphus).
Dalam karyanya tersebut, Camus menggunakan mitos Sisifus sebagai metofora untuk kondisi manusia modern. Dimana, pertanyaan mendasar yang digugatnya adalah tentang apakah hidup ini layak dijalani, ketika pada dasarnya hidup tidak memiliki makna yang pasti?
Pertanyaan itu muncul karena kondisi saat ini sebagai absurditas, yakni pertentangan antara hasrat manusia untuk mencari makna dan keheningan alam semesta yang tak kunjung memberi jawaban. Camus lalu membuat metofora kehidupan itu mirip dengan Sisifus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)