Sabtu, 11 April 2026

Video

Video: China Tutup Langit 40 Hari, Area yang Dibatasi Jauh Lebih Luas

Pemerintah China secara mengejutkan menetapkan zona larangan terbang di wilayah udara lepas

Penulis: Vigestha Repit Dwi Yarda | Editor: Rusaidah

BANGKAPOS.COM -- Pemerintah China secara mengejutkan menetapkan zona larangan terbang di wilayah udara lepas pantainya dengan durasi yang tidak lazim.

Keputusan ini langsung memicu perhatian dan spekulasi di kalangan dunia penerbangan internasional.

Tanpa penjelasan resmi dari Beijing, area udara tertentu dibatasi selama 40 hari berturut-turut jauh lebih lama dibandingkan praktik latihan militer yang umumnya hanya berlangsung beberapa hari.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 8 April 2026 Terpantau Naik, Cek Juga Harga Buyback

Kebijakan ini diumumkan melalui Notice to Air Missions (NOTAM), yakni sistem peringatan bagi otoritas penerbangan terkait potensi bahaya atau pembatasan ruang udara sementara.

Laporan Wall Street Journal menyoroti bahwa durasi tersebut merupakan anomali. Biasanya, pembatasan semacam ini hanya berlangsung dalam hitungan hari, bukan berminggu-minggu.

Hingga kini, baik Kementerian Pertahanan maupun otoritas penerbangan sipil China belum memberikan klarifikasi resmi terkait tujuan kebijakan tersebut.

Ray Powell, Direktur Proyek SeaLight di Universitas Stanford, menilai kombinasi antara status ruang udara dari permukaan hingga ketinggian tak terbatas (SFC-UNL) dan durasi panjang tanpa pengumuman latihan sebagai sesuatu yang sangat tidak biasa.

Menurutnya, langkah ini lebih mencerminkan kesiapan operasional berkelanjutan, bukan sekadar latihan militer rutin.

Jika benar terkait aktivitas militer, kebijakan ini bisa menandai perubahan pendekatan China dalam memanfaatkan kontrol ruang udara sebagai bentuk sinyal kekuatan.

 
Cakupan Wilayah Sangat Luas

Berdasarkan data Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat, area yang dibatasi bahkan lebih luas dari pulau utama Taiwan.

Zona tersebut mencakup wilayah udara lepas pantai di utara dan selatan Shanghai, membentang dari Laut Kuning yang berbatasan dengan Korea Selatan hingga Laut China Timur yang mengarah ke Jepang.

Christopher Sharman dari US Naval War College menilai kawasan ini berpotensi digunakan untuk simulasi konflik udara.

Ia menyebut, area tersebut memungkinkan latihan berbagai manuver tempur yang relevan dalam skenario peperangan modern.

Penetapan zona ini terjadi di tengah menurunnya aktivitas penerbangan militer China di sekitar Taiwan, yang sebelumnya hampir berlangsung setiap hari.

Seorang pejabat keamanan Taiwan menduga langkah ini berkaitan dengan strategi China memanfaatkan fokus Amerika Serikat yang sedang teralihkan ke konflik Timur Tengah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved