Enam Alasan Golput Mengecil
Golongan Putih (Golput) menjadi nilai penting dalam pelaksanaan pesta demokrasi. Adalah bagaimana masyarakat
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Golongan
Putih (Golput) menjadi nilai penting dalam pelaksanaan pesta demokrasi.
Adalah bagaimana masyarakat yang memiliki hak pilih dapat menentukan
sikap tentunya dengan pilihan memilih siapa yang menjadi pemimpin secara
rasional.
Praktisi akademisi UBB, Ibrahim menganalisa bahwa ada beberapa hal yang bisa membuat golput untuk Pemiluadka Babel akan kecil.
Berikut analisanya :
MAJUNYA
para kepala daerah dalam Pilgub mendatang berpeluang untuk memperkecil
angka golput dengan beberapa alasan. Pertama, para kepala daerah di
kabupaten/kota akan mengerahkan kekuatan pemilih di daerah masing
masing. Para kepala daerah dan mantan ini memiliki dukungan yang jelas
dan ini sekaligus menjadi akar wilayah.
Kedua, masyarakat pemilih memiliki kepentingan secara langsung
terhadap hasil pemilihan gubernur karena jika kepala daerah yang
berangkat dari satu kabupaten/kota terpilih, maka para pemilih akan
dapat lebih berdekatan dengan pengambil kebijakan. Situasi berbeda jika
yang terpilh adalah orang orang yang tidak secara personal dekat dengan
pemilih. Dalam hal ini, masyarakat akan lebih bersemangat untuk
menyalurkan hak suaranya.
Ketiga, para tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, dan
sebagainya akan berpikir sama dengan pemilih kebanyakan dan pada
akhirnya akan bergerak lebih aktif untuk mensosialisasikan kandidat
terdukung. Pergerakn ini positif untuk membangun jumlah partisipasi
pemilih.
Keempat, vis a vis kandidat yang berbeda dalam hal kebijakan
pertimahan berpotensi membuat para pendukung bergerak lebih massif.
Mereka yang pro pada penambangan inkonvensional berkepentingan untuk
mendukung kandidat yang dianggap pro pada pertimahan demikian, sementara
mereka yang kontra juga berkepentingan untuk mensosialisasikan potensi
kebijakan yang akan berubah pasca transisi kekuasaan.
Kelima, politik uang dan barang akan membuat angka golput semakin
mengecil. Sepertinya setiap kandidat akan mengucurkan dana besar dalam
Pilgub kali ini. Uang dan barang akan merangsang pemilih untuk tidak
apatis, bergerak menyalurkan suara, dan menentukan pilihan walau di
tengah keraguan.
Keenam, pertarungan kali ini nampaknya akan menjadi pertarungan
"habis habisan". Bagi incumbent, Pilgub kali ini akan menjadi
pertarungan antara "pensiun dini" atau karir yang akan lebih meningkat
setelahnya. Jika menang, incumbent pun tampaknya akan berpikir karir
yang lebih tinggi, sementara jika kalah, karirnya akan berhenti.
Sementara bagi Zul, Yusroni, dan Darmansyah, pemilihan kali ini akan
menempatkan mereka dalam posisi kritis. Menang menuju Air Item, kalah
menuju peraduan.
Bagi Yusron, Hudar, Justiar, Pilgub kali ini tidaklah begitu
berpengaruh karena mereka sudah memiliki riwayat tereliminasi. Bagi
Rustam sendiri, Pilgub kali ini barangkali sebatas coba coba.
Apapun alasan atas peningkatan partisipasi pemilih kali ini, apresiasi tetap menjadi penting. Ini positif bagi penghayatan demokrasi. Saya cuma mewanti wanti, jangan sampai angka golput yang mengecil ditutupi oleh penggelembungan suara di hari H. Jangan sampai pemilih sudah dibanderol sebelum masuk bilik suara, walau di sana misteri masih menjadi angka angka bisu.