Opini: Peran Guru dalam Menumbuhkan Karakter Siswa
Bersekolah di gerbong kereta sudah cukup aneh, tapi ternyata pengaturan tempat duduk di sekolah ini
Opini: Akhmad Faisal, M.Pd.I, Aktivis Madania Center Babel/Guru SMPN9 Pangkalpinang
Bersekolah di gerbong kereta sudah cukup aneh, tapi ternyata pengaturan tempat duduk di sekolah ini lebih aneh lagi. Di sekolah lain setiap anak diberi satu bangku tetap. Sebaliknya di sini mereka boleh duduk sesuka hati, di mana saja dan kapan saja.
Diantara "keluarbiasaan" lain dari sekolah ini adalah setiap kali memulai pelajaran pada jam pertama, guru terlebih dahulu membuat daftar semua materi yang akan diajarkan pada hari itu. Kemudian guru meminta para siswa memilih pelajaran yang mereka suka. Jadi bukan suatu masalah jika siswa memulai dengan belajar bahasa, atau berhitung, dan atau menggambar terlebih dahulu. Dengan cara ini guru dapat mengamati minat siswa, termasuk cara berpikir dan karakter mereka. Bagi guru di sekolah ini, cara tersebut cukup ideal dalam memahami dan mengenal para siswanya.
Demikian gambaran sebuah sekolah tua di Jepang yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi dalam buku best sellernya "Totto-chan", mengisahkan tentang masa kecil sang penulis yang amat berkesan di sekolah bernama Tomoe.
Di dalam buku yang menjadi sejarah penerbitan Jepang karena terjual 4.500.000 kopi dalam setahun tersebut, sebenarnya sang penulis hanya ingin berbagi kisah tentang masa kecilnya bersekolah di Tomoe, dan betapa dia ingin menceritakan kepada khalayak tentang sosok seorang guru sekaligus kepala sekolah bernama Sosaku Kobayashi yang penuh semangat, sederhana, namun sangat inspiratif melalui metode-metode dan pendekatan pengajarannya yang lebih menekankan kepada pembangunan karakter anak didiknya ketimbang hanya memenuhi keunggulan angka-angka kognitif belaka.
Maka tak heran pada masanya buku yang merupakan manifestasi dari sistim pengajaran Sosaku Kobayashi menjadi materi pelajaran resmi dan diwajibkan, terutama untuk pelajaran etika dan budi pekerti pada kelas empat.
Ketika Jepang terpuruk karena kekalahan perang dunia ke-2, yang ditanyakan kaisar Jepang bukanlah berapa prajurit yang masih hidup, tetapi berapa guru yang masih hidup. Inilah yang menjadi kunci sukses Jepang sampai saat ini, menjadi negara kecil namun maju. Guru bagi mereka berperan sangat penting dalam mencerdaskan bangsa dan mengubah nasib bangsa yang terpuruk menjadi bangkit kembali melalui pendidikan yang diberikan olehnya.
Di negeri sendiri, tentunya bangsa ini tidak kekurangan stok pendidik handal. Bangsa ini merekam dengan baik perjuangan para tokoh pendidikan, sebut saja Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Ajaran beliau yaitu tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberi dorongan, di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa, di depan memberi teladan), merupakan contoh pembangunan karakter bangsa melalui peran pendidik atau para guru.
Ajaran sang maestro pendidikan ini sekiranya dapat dipahami sebagai bentuk kemampuan guru sebagai seorang pendidik yang berperan untuk mengarahkan, menjembatani dan memberi contoh terbaik bagi para peserta didiknya.
Berbeda dengan seorang arsitek yang berusaha membuat gedung sesuai keinginannya, seharusnya seorang guru memiliki kemampuan mengenali dengan baik karakteristik siswanya dan memahami bahwa setiap individu memiliki keragaman karakter yang melekat pada diri masing-masing. Dengan demikian tidak wajar bila seorang guru memaksakan siswanya unggul pada bidang pelajaran yang diampu oleh guru tersebut.
Namun lebih dari itu tugas seorang guru semestinya menginspirasi siswanya untuk menjadi diri sendiri seraya memfasilitasi mereka meraih cita-citanya di masa depan.
William Fraser Connell, seorang profesor dalam bidang pendidikan meletakkan peran guru sebagai pendidik diurutan teratas dari ketujuh pembagian peran guru yang dikemukakannya. Hal ini dapat dipahami karena guru diharapkan tidak hanya menjadi sumber pengetahuan yang hanya berfungsi mentransfer pengetahuan tersebut kepada para siswa.
Namun yang terpenting adalah membimbing mereka menggali kemampuan diri mereka sendiri agar menjadi pribadi yang mandiri di masa depan, tanpa harus mengandalkan sosok guru lagi. Pada titik inilah seorang guru baru terbukti berhasil dalam mendidik siswanya.
Fakta masih banyaknya perilaku tercela yang dilakukan oleh putra-putri bangsa ini, seperti korupsi, penyalahgunaan obat terlarang, seks bebas, tawuran atau hal-hal yang dianggap remeh seperti mencontek, barkata kasar dan lain-lain, adalah beberapa bukti menurunnya nilai-nilai karakter bangsa yang dulu dikenal sebagai bangsa berbudi luhur. Jika mencari kambing hitam, tentusaja sasaran tembak paling empuk untuk disalahkan adalah dunia pendidikan. Guru dianggap belum mampu merubah perilaku bangsa pada umumnya, dan para siswa khususnya. Hal ini dianggap wajar, karena tumpuan harapan bangsa ini memang diletakkan pada pundak para guru sebagai pendidik.
Mencetak guru yang tidak hanya menjadi pengajar namun juga seorang pendidik merupakan tantangan tersendiri bangsa ini. Masih banyak anggapan yang menyebutkan bahwa profesi sebagai guru tidaklah menjanjikan secara finansial. Karena itu masih sering terjadi profesi ini hanya sekedar dijadikan batu loncatan sebelum mendapatkan pekerjaan ideal secara finansial. Namun demikian,masih banyak pula sosok-sosok penuh keikhlasan dalam mengabdi sebagai seorang guru.
Bagi mereka yang telah membaca buku atau menonton film Laskar Pelangi, mungkin akan teringat dengan sosok ibu Muslimah yang begitu semangat mengajar dengan sepenuh hati meskipun sering tidak menerima rupiah sebagai kompensasi keringatnya dalam mengabdi pada dunia pendidikan.
Contoh-contoh tauladan, berupa semangat juang, pengabdian, keikhlasan, kreatifitas dan kemauan merubah diri ke arah yang lebih baik, seyogyanya ditunjukkan oleh para guru, karena hal ini akan berdampak langsung terhadap para siswa, yang mau tidak mau, suka tidak suka menjadi pengamat perilaku langsung bagi para guru.