Jumat, 22 Mei 2026

Opini: Peran Guru dalam Menumbuhkan Karakter Siswa

Bersekolah di gerbong kereta sudah cukup aneh, tapi ternyata pengaturan tempat duduk di sekolah ini

Tayang:

Apa yang dilakukan guru dianggap suatu pembenaran atas segala tindakan. Terutama pada masa kanak-kanak, guru dianggap sebagai sosok penuh kesempurnaan karena ilmu dan pengetahuannya. Rasa hormat siswa terhadap guru semestinya dapat dijadikan modal awal pembinaan karakter, di mana siswa belum terlalu banyak terkontaminasi "dunia lain" selain dunia kepolosan kanak-kanaknya.

Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan pola pikir siswa tentu mengalami perubahan pula, untuk itu perlu dikemas bentuk-bentuk pendekatan dan pola komunikasi yang efektif agar siswa lebih memberdayakan kemampuan dirinya dalam berfikir, terutama dalam menilai mana perbuatan yang layak diikuti dan tidak.

Dengan pendekatan personal, melibatkan orang tua atau keluarga, maka diharapkan pengaruh-pengaruh negatif yang datangnya dari luar dapat terfilter dan terdeteksi sedini mungkin.Harus diakui bahwa masih banyak orang tua yang melepaskan kontrak tanggung jawabnya mendidik anak kepada lembaga pendidikan. Alhasil kontrol anak di luar sekolah, terutama bagi para orang tua yang sibuk bekerja menjadi tak terkendali. Hal ini tentu sangat menyulitkan para guru karena tidak adanya keterlibatan orang tua dalam kontrol perilaku di rumah.

Namun demikian, dari waktu yang terbagi untuk sekolah, rumah dan lingkungan, seorang guru profesional harus mampu memberikan prinsip-prinsip keluhuran budi pekerti dan nilai-nilai agama sebagai karakter dan jati diri bangsa untuk para siswanya. Dengan cara ini, upaya-upaya westernisasi dan peniruan budaya bangsa asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa akan dapat dihindari.

Kedekatan guru dan siswa melalui pendekatan personal dan intra personal dapat berdampak positif bagi perkembangan karakter siswa. Semangat juang dan kesederhanaan hidup yang kini menjadi barang mahal sejatinya dapat ditularkan kepada para siswa tanpa mengharapkan balas jasa, meskipun itu sekedar pujian dan ucapan terima kasih.

Bila siswa melihat gurunya penuh semangat dalam mengajar, maka siswa akan belajar cara berjuang dan ulet dalam melaksanakan tugasnya sebagai pelajar. Bila siswa menyaksikan gurunya penuh kesederhanaan baik dalam tutur kata dan keseharian, maka siswa akan belajar cara menghargai dirinya dan kehidupannyadi masa depan. Bila guru mengajar dengan penuh kreasi dan inovasi, maka siswa akan terinspirasi memaksimalkan karunia akal pemberian ilahi. Namun sebaliknya bila yang disaksikan siswa adalah sosok makhluk pemarah dan tidak peduli, maka ketidakhadiran guru bagi mereka adalah sebuah anugerah.

Alangkah mirisnya ketika kehadiran seorang guru sudah tidak dirindukan bahkan tidak lagi diinginkan oleh siswanya. Betapa sangat disayangkan saat potensi besar "take and give" antara guru dan siswa dilewatkan begitu saja. Mungkin saja pada momen mengajar tersebut menjadi satu momen bersejarah yang menjadi pemicu inspirasi siswa menggapai cita-citanya. Ingatlah cerita Andrea Hirata sang penulis novel terlaris Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, yang begitu terharu mengingat momen saat bu Muslimah mengajar di dalam kelas, dan menyemangatinya untuk menggapai cita-cita setinggi langit.

Ingatlah betapa Soekarno muda menyimpan hasrat besar menjadi pemimpin saat mendengar cerita-cerita gurunya tentang orang-orang besar yang tercatat dalam sejarah dunia.Sungguh amat disesalkan jika momen berharga ini terbuang begitu saja.

Dengan demikian, peran guru sangatlah strategis dalam menumbuhkan karakter siswanya. Dengan menjadi seorang pendidik profesional dan berkepribadian kuat, seorang guru memiliki kontribusi besar melahirkan generasi bangsa berkarakter. Melalui ketauladan, bahkan seorang guru tak perlu memberikan banyak nasihat, karena semua tutur katanya, gerak-geriknya,dan kehidupannya, adalah manifestasi dari nasihat nyata bagi bangsa.

Tak dapat disangkal apa yang dikatakan Anis Baswedan sebagai orang penting di dunia pendidikan saat ini, bahwa bukan murid, tapi orang tua dan guru yang harus diceramahi tentang karakter agar sadar bahwa anaknya cerminan karakter mereka. Bahkan ilmuwan sekelas Albert Einsten yang dianggap sebagai orang terjenius abad ini mengungkapkan "Banyak orang menganggap bahwa kepandaianlah yang menjadikan seseorang ilmuwan besar. Mereka salah, jawabannya yang benar adalah: Karakter!".(*)

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved