Wahai Para Istri Inilah Daftar Dosa-Dosa Suami yang Perlu Diketahui
tulisan singkat ini, akan diulas beberapa dosa suami yang sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga seorang Muslim bahkan disadarinya atau tidak
Meluapkan emosi kepada istri bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Seorang sahabat berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Ya Rasulullah, berpesanlah kepadaku.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpesan, “Jangan suka marah (emosi).” Sahabat itu bertanya berulang-ulang dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tetap berulang kali berpesan, “Jangan suka marah!” (HR. Bukhari).
Betapa penting akhlak seorang suami untuk menahan emosinya agar tidak diluapkan kepada istrinya. Dan betapa hancur hati seorang istri jika suaminya tiba-tiba meluapkan emosinya tanpa mau menjelaskan terlebih dulu apa yang menjadi sebab ia marah-marah kepada istrinya.
Di sinilah seorang suami harus mampu menahan emosinya dan mengisi spiritualnya agar mempunyai kelembutan.
Pelit pada Istri
Tidak sedikit suami yang jika mendapatkan uang lalu disimpannya sendiri di dalam dompetnya. Tak serupiah pun ia bagi kepada istrinya kecuali jika istrinya melapor karena untuk membeli kebutuhan dapur, dan anak-anaknya. Prilaku seperti ini tentu saja seolah-olah sang suami tidak mempunyai rasa percaya kepada istrinya.
Padahal dalam Islam tidaklah seperti itu. Seharusnya, setelah seharian suami bekerja dan mendapatkan uang, maka ia beri tahu dan diberikan kepada istrinya.
Dan jika ia perlu untuk memenuhi kebutuhannya, maka mintalah kepada istrinya. Kepercayaan suami kepada istri dengan memberikan gaji atau uang kepada istri sepenuhnya akan membuahkan rasa cinta yang semakin berlipat. Sebab istri merasakan betapa ia benar-benar telah dipercaya untuk menjadi ‘bendahara’ bagi suaminya.
Karena itu, janganlah seorang suami bersikap kikir (pelit) kepada istrinya, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang bersikap seperti itu. Dari Aisyah ra yang menyatakan bahwa Hindun binti Utbah pernah mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan (suamiku) tidak memberikan nafkah yang cukup kepadaku dan kepada anak-anakku.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Ambillah hartanya dengan cara yang ma’ruf (baik) sebanyak yang dibutuhkan olehmu dan anak-anakmu.” (HR. Muttafaq ‘alaih)
Hadis di atas menegaskan tentang dua hal; pertama, larangan pelit bagi seorang suami kepada istri-istrinya. Kedua, tidak berdosa seorang istri mengambil harta suaminya demi memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan anak-anaknya. Tidak berdosa sebab istri dan anak-anak adalah tanggungan suaminya.
Banyak Mencela dan Mengritik Istri
Banyak suami yang merasa tidak berdosa jika ia mencela dan mengritik istrinya.
Padahal, hati seorang istri itu begitu lembut, halus dan sensitif. Karena itu, berhati-hatilah jika bicara kepada istri, sebab bisa jadi niatnya baik untuk menasihati atau memotivasi, tapi karena kata-kata yang diucapkan tidak dengan lemah lembut, akhirnya membuat istri tersakiti.
Tak ada yang membuat seorang istri menangis kecuali jika hatinya terluka.
Mencela memang tidak boleh dilakukan oleh seorang Muslim kepada Muslim lainnya, terlebih lagi kepada istrinya sendiri. Mengritik boleh-boleh saja selama kritik itu justeru membangun dan memotivasi istri untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri dan keilmuan agar menjadi istri dan ibu yang solehah.
Tapi tentu saja, kritik membangun itu tetap harus disampaikan dengan kata-kata yang penuh ruh kasih sayang.
Suami yang lemah lembut merupakan lelaki yang sempurna imannya sebab ia telah berbuat baik kepada istrinya. Hal ini seperti diingatkan dalam sebuah hadis.
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya dan orang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi).
Tidak Berdoa Ketika Menggauli Istri
Islam adalah agama beradab yang mengajarkan kepada setiap pemeluknya agar berakhlak mulia dalam memperlakukan istri termasuk saat menggaulinya.
Ada kelembutan, kasih sayang, dan tentu saja berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saat akan menggauli istri agar mendapat keberkahan dari Allah Ta’ala. Tapi hari ini, tak sedikit suami yang menggauli istrinya tanpa membaca doa.
Sebabnya entah ia tidak memahami adab berjima’ (bersetubuh) atau memang ia lupa karena buncahan nafsu yang bergejolak.
Padahal sejak 1400 tahun lalu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah mengajarkan kepada setiap suami agar berdoa kepada Allah sebelum ia menyetubuhi istrinya.
Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”
Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Maka, bila Allah menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan antara keduanya, niscaya setan tidak akan membahayakannya selama-lamanya.” (HR. Bukhari (no. 141, 3271, 3283, 5165), Muslim (no. 1434), Abu Dawud (no. 2161), at-Tirmidzi (no. 1092).
Menyebarkan Rahasia Ranjang pada Orang Lain
Tentu bukan sikap yang teramat buruk jika ada seorang suami yang tanpa merasa berdosa menceritakan rahasia ranjang bersama istrinya kepada orang lain.
Selain secara akal sehat adalah sebuah prilaku yang tidak bisa diterima akal sehat, juga dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya.” (HR. Ibn Abi Syaibah, Ahmad, dan Muslim)
Menggauli Istri ketika Haid dan Melalui Anusnya
Di antara dosa seorang suami yang sering dilakukan kepada istrinya adalah menggaulinya saat ia haid atau menggaulinya melalui anus (dubur)nya.
Istri memang pakaian bagi suaminya, tapi bukan berarti seorang suami bebas menggauli istrinya melalui anus atau menggaulinya saat istri sedang haid.
Firman Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ’Haid itu adalah suatu kotoran’. Oleh karena itu hendaklah engkau menjauhkan diri dari wanita (istri, red) di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sampai mereka suci. Bila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (Qs. Al Baqarah: 222)
Dalam beberapa hadis, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dilaknat, orang yang mendatangi perempuan pada duburnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasaa’i)
Diriwayatkan oleh Ash-habus Sunan, kecuali an-Nasa-i, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mencampuri wanita (istri) yang sedang haidh atau (mencampuri) wanita pada duburnya, atau (mendatangi) dukun, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa (wahyu) yang diturunkan pada Muhammad.” (HR. At-Tirmidzi (no. 135) kitab ath-Thahaarah, Abu Dawud (no. 3904) kitab ath-Thibb, Ibnu Majah (no. 639) kitab ath-Thahaarah wa Sunanuhaa, Ahmad (no. 9035)).
Itulah beberapa dosa suami yang sering dilakukan kepada istrinya entah disadari atau tidak. Masih banyak dosa-dosa suami yang dilakukan kepada istrinya yang belum disebutkan dalam tulisan singkat ini.
Sebagai seorang suami, semestinya berhati-hati dan berakhlaklah sesuai akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam memperlakukan istri. (Bahron Ansori, Pengamat Sosial Keagamaan, tinggal di Majalengka , Jawa Barat)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/pasangan-romantis_20160528_111832.jpg)