Kisah Operasi Rahasia Pasukan Khusus Australia Selamatkan Sultan Ternate
rupa-rupanya Sekutu dalam PD II menaruh perhatian pada keselamatan Sultan Ternate Iskandar Muhammad Jabir Syah
BANGKAPOS.COM--Leluhur Australian Special Air Service Regiment dapat ditarik ke masa-masa Perang Dunia II.
Dengan ancaman Jepang yang seolah tak terbendung, Australia sebagai satu-satunya kekuatan Barat di belahan Selatan yang masih tersisa harus membeli waktu agar Jepang tak terburu menginjakkan kakinya di negeri Kanguru itu.
Satu-satunya jalan untuk menjinakkan Jepang yang begitu perkasa adalah melakukan serangan ke titik-titik strategis yang ada di garis belakang Jepang, mengacaukan persediaan logistik perbekalan, bahan bakar, dan tentu saja moral pasukan Jepang.
Yang bisa melakukan misi semacam ini tentu saja hanya pasukan yang dididik dan bertugas secara khusus dalam unit-unit kecil dengan kemampuan gerilya dan sabotase.
Inggris sudah kenyang pengalaman melancarkan operasi semacam ini yang jatuh ke bawah kendali SOE (Special Operations Executive).
Agen-agen SOE diterjunkan ke garis belakang di Perancis, Yunani, Yugoslavia, dan negara lainnya untuk berkerjasama dengan partisan lokal dan menyerang Jerman di lokasi yang tak terduga.
Jenderal Sir Thomas Blarney, Panglima Pasukan Darat Sekutu di Teater Pasifik Tenggara mengajukan ide untuk membentuk SOE di Pasifik.
Ide untuk membentuk organisasi serupa SOE di teater Pasifik dengan cepat disetujui oleh Jenderal Douglas MacArthur pada bulan Maret 1942.
Jenderal karismatik ini tidak punya alasan untuk tidak setuju; ia butuh segala macam siasat untuk dapat memukul balik Jepang yang baru saja melengserkannya dari Filipina.
London merestui pembentukan SOE Pasifik dan secara resmi disebut sebagai SOA (Special Operation Australia), namun untuk mencegahnya kalau-kalau sampai ketahuan Jepang, organisasi ini disebut IASD (Inter Allied Services Department) agar aroma pasukan khusus tidak tercium Jepang.
Anggotanya datang dari Inggris, yaitu eks agen SOE yang berhasil lari dari Singapura yang jatuh ke tangan Jepang, Belanda yaitu dinas intelijennya AFNEI, dan juga Australia.
Australia mengirimkan sejumlah orang-orangnya bergabung masuk ke dalam IASD, yang diorganisasikan sebagai Z Special Unit atau Z Force.
Anggota Z Special Unit dilatih di Fraser Commando School, Cairns, Richmond, Cowan Creek, Camp X, Careening Bay, Queensland, dan Mount Martha Research Station.
Markas rahasia Z Force ada di East Arm di Darwin, yang dekat dengan Indonesia. Sebagai kamuflase, markas mereka diberi nama resmi Lugger Maintenance Unit.
Pendidikan anggota Z Force disamakan dengan SOE, yaitu kemampuan beroperasi tunggal di belakang garis lawan, teknik penghindaran, kemampuan membuat bahan peledak dan sabotase.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/sultan-ternate_20160911_090633.jpg)