Kisah Operasi Rahasia Pasukan Khusus Australia Selamatkan Sultan Ternate
rupa-rupanya Sekutu dalam PD II menaruh perhatian pada keselamatan Sultan Ternate Iskandar Muhammad Jabir Syah
Seluruh anggota Z Force disumpah untuk tidak membocorkan keberadaan unit ini sampai dengan tahun 1980, padahal boleh dikata bahwa merekalah peletak dasar pembentukan pasukan khusus Australia, khususnya SASR yang menjadi penerus lineage kemampuan tempur unit kecil Angkatan Bersenjata Australia.
Satu kisah terselip dalam sejarah yang terkait dengan Indonesia seperti pernah dimuat di Majalah Commando. Walaupun tidak punya kaitan langsung dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia, rupa-rupanya Sekutu dalam PD II menaruh perhatian pada keselamatan Sultan Ternate Iskandar Muhammad Jabir Syah, yang secara tegas menolak kehadiran Jepang di wilayah Kesultanan Ternate.
Menganggap bahwa Sultan Jabir punya pengaruh kuat di Kepulauan Maluku, Sekutu menganggap bahwa beliau merupakan aset berharga, dimana berlaku adagium enemy of my enemy is my friend.
Sultan Jabir Syah tentu saja merasa tidak aman, makin hari Jepang makin bertindak semena-mena. Karena Sultan Jabir menolak menjadi kolaborator, maka Jepang merampas seluruh harta benda, persediaan pangan, dan obat-obatan rakyat.
Mata-mata Jepang pun disebar kemana-mana. Meski diblokade, orang-orang yang setia pada Sultan menyelinap keluar Ternate, mendayung perahu sejauh 200 kilometer (!) sampai ke pulau Morotai yang saat itu sudah direbut oleh Sekutu.
Permintaan untuk mengungsikan Sultan pun disampaikan, dan diterima dengan tangan terbuka oleh Sekutu.
Satu operasi khusus pun disiapkan, dengan sandi Project Opossum yang perintahnya turun sendiri dari Panglima Mandala Pasifik, Jenderal Douglas MacArthur.
Z Force diperintahkan untuk mengeksekusi operasi ini, mengeluarkan Sultan Jabir Syah dari Ternate dan mengungsikannya ke tempat aman. Ini bukan perkara mudah, karena Jepang sudah terlanjur bercokol di sana.
Satu regu yang terdiri dari 9 orang Australia dan seorang dari Timor Barat plus satu orang dari Minahasa diperintahkan untuk melakukan operasi tersebut.
Dalam lindungan gelap malam, perahu yang dipergunakan oleh Z Force perlahan mendekati pulau Ternate, mendarat di pulau Hiri yang letaknya dua kilometer di sisi Utara Ternate.
Dari situ mereka bertemu dengan utusan Sultan dan meminta agar Sultan segera mempersiapkan diri untuk mengungsi.
Setelah menyeberang ke Ternate, regu Z Force akhirnya bisa bertemu dengan Sultan di istananya tepat pada tengah malam.
Setelah persiapan seadanya, rombongan Sultan yang membawa dua istri yang salah satunya sedang hamil, delapan anaknya, serta para dayang dan pelayan pun berangkat ke arah pantai.
Bukan hal yang mudah untuk menempuh jalan setapak yang terbuat dari lava yang mengeras, melewati rimbunnya pohon pala dan cengkeh yang meruapkan harum dan membuat Maluku terkenal. Ahmad Basir, salah satu pelayan Sultan memimpin di depan, dikawal seorang anggota Z Force yang membawa pistol mitraliur Owen.
Mengawal rombongan yang berjumlah empat puluh orang yang semuanya tidak bisa bertempur bukan hal yang mudah; bila mereka bertemu Jepang maka habislah sudah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/sultan-ternate_20160911_090633.jpg)