Jumat, 10 April 2026

Mang Day Setengah Frustasi, Harga Lada Naik Turun Ditambah Penyakit Kuning

oleh Mang Day warga Sungai Selan Kabupaten Bangka Tengah yang mengaku sampai sejauh ini, masalah lada sempat membuat frustasi

Penulis: M Zulkodri | Editor: Hendra
bangkapos.com/Agus Nuryadhyn
Penyakit Kuning Lada 

Laporan wartawan Bangka Pos,  Zulkodri

BANGKAPOS.COM,  BANGKA -- Belakangan ini,  masalah kejayaan lada dan karet di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sedang menjadi trend pembicaraan warga,  terlebih memasuki pilkada saat ini. 

Calon Gubernur Babel,  Dr H Yusron Ihza maupun pasangannya,  H Yusroni Yazid, SE juga selalu mendapat pertanyaan dari warga persoalan lada dan karet ini saat bertemu warga.

Seperti ditanyakan,  oleh Mang Day warga Sungai Selan Kabupaten Bangka Tengah yang mengaku sampai sejauh ini,  masalah lada sempat membuat frustasi ditambah harga yang tidak stabil.

Hingga sampai Penyakit kuning yang menyerang tanaman lada mereka.

"Kami ne lah setengah frustasi,  dengan harga lada.  Kadang naik, kadang turun, dak jelas harganya. Persoalan pas harga naik,  sahang (lada)  kami diserang penyakit kuning.  Mana program penyakit kuning buktinya masih banyak sakit kuning lada kami, " ujarnya.

Hal yang sama dikatakan oleh Kiki warga Desa Bedengung Kecamatan Payung Kabupaten Bangka Selatan yang menanyakan bagaimana meningkatkan harga karet,  sehingga petani karet semakin sejahtera.

Menangapi hal ini,  menurut Dr.  H Yusron Ihza persoalan lada dan karet tidak bisa dijawab secara parsial (bagian-red)  semata.  Tetapi harus digarap secara komprehensif (menyeluruh-red)  dari hulu hingga hilir.

Saat ini, lanjut Yusron ada logika ganjil,  soal tentang Babel pasca timah.  Menurutnya kalau dirinya bicara tentang Babel Pasca Timah,  ini mungkin wajar. 

Karena dirinya belum pernah memimpin Babel.  Tapi jika mereka yang sudah sekian lama memerintah tiba-tiba  bicara tentang peremajaan lada,  karet dan Babel pasca timah. Selama ini  kemana?.  Dan kalau sudah, kenapa masih juga belum ada stabilitas harga.

" Masalah lada  dan karet ini,  pada pokoknya adalah stabilitas harga.  Kenapa, karena terjadi hukum pasar, terlebih sainganya sekarang ada lada dari Vietnam,  Thailand dan Brasil. Padahal mungkin awal bibitnya dari Bangka Belitung dengan Muntok White Papernya.  Berbicara hukum pasar kalau penawaran lebih banyak dari permintaan maka otomatis akan mempengaruhi harga, " ucap Yusron.

Makanya untuk program stabilitas harga ini, lanjut Yusron dirinya  akan merangkum negara produsen lada dan karet membentuk semacam konsorsium atau apa untuk stabilitas harga baik di pasar domestik dan internasional.

Terus bagaimana dengan pemeliharaan dan kualitas baik lada maupun karet?. Soal ini,  lanjut Yusron para petani diberikan penyuluhan,  subsidi pupuk hingga penampungan produk yang juga diawasi pemerintah langsung. 

" Disini peran pemerintah harus terjun langsung ke kelompok tani,  berdialog langsung, dan setiap tiga bulan atau enam bulan sekali, dilakukan evaluasi,  apa kendala yang terjadi.  Jadi mulai dari hulu dan hilir harus terintegrasi, " ungkapnya.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved