'Macan-macan Loreng Berbaret Merah' Menyusup ke Daerah Halim yang Penuh Misteri

Kostrad yang panglimanya, Mayjen Suharto lewat jam 6.30 datang ke markas tanpa pengetahuan sedikitpun tentang apa yang telah terjadi

Editor: fitriadi
Kompas.com
Jenderal Abdul Haris Nasution dan Mayor Jenderal Soeharto berdoa di depan peti jenazah almarhum Jenderal Sutojo Siswomihardjo dan enam rekannya yang gugur dalam Peristiwa 1 Oktober 1965. 

Baca: Tangis Soekarno Pecah di 3 Peristiwa Bersejarah

Konsultasi antara perwira-perwira senior di markas Kostrad menghasilkan persetujuan, bahwa Pak Harto untuk sementara memegang pimpinan Angkatan Darat.

Segera Pak Harto mengambil tindakan-tindakan yang luas untuk pengamanan, ialah dengan menghubungi angkatan-angkatan lainnya.

Dengan Angkatan Laut dan Kepolisian segera terdapat katas sepakat. Kedua angkatan ini kemudian menempatkan perwira-perwira penghubung di markas Kostrad. Hanya AURI tetap sukar dihubungi.

Sementara itu di markas Kostrad pimpinan ABRI terus menganalisa situasi, berdasarkan informasi yang sedikit demi sedikit bertambah.

Diketahui bahwa Jenderal Nasution lolos; bahwa pasukan di sekitar Medan Merdeka ialah Yon 454 Para dan Yon 530 Para yang didatangkan atas perraintaan Presiden untuk memeriahkan Hari Angkatan Bersenjata tanggal 5 Oktober.

Dan akhirnya terdengar siaran resmi G-30-S Iewat RRI jam 7.20 pagi, yang membuat jelas bahwa hari itu telah terjadi kup.

Baca: Istri Jenderal Achmad Yani Sering Menangis Pegangi Baju Suami yang Ada Bekas Darahnya

Berdasarkan data-data ini Jenderal Suharto lalu menarik analisa baru. Dalam analisa ini Yon I KK Men Cakrabiravva, Yon 454 serta Yon 530 dimasukkan dalam kategori lawan.

Hasil analisa segera diikuti olieh tindakan. Pak Harto memerintahkan menetralisir kekuatan militer seikitar Medan Merdeka dan istana, sambil berpegang teguh pada patokan: menguasai kembali suasana tanpa pertumpahan darah. Bagaimana ini harus dilaksanakan?

Rentetan tindakan-tindakan sampai jam 21.00

Setelah mendapat gambaran tentang situasi, pada jam 9.00 pagi Kostrad mulai mengambil tindakan-tindakan konkrit, yaitu mengeluarkah perintah kepada Yon 454 Para dan Yon 530 Para agar meninggalkan daerah pertahanan mereka dan menarik diri ke markas Kostrad — suatu perintah yang mudah dipahami karena kedua batalyon tersebut secara operasional berada di bawah komandan Brigade III/Para Kostrad.

Tetapi perintah ini tidak ditaati. Sem«ntara itu Kostrad pun mengadakan konsinyering seluruh pasukan  yang ada di Jakarta.

Karena perintah jam 9 00 pagi belum juga mendapatkan  reaksi, maka jam 11.00 sekali lagi Kostrad mengeluarkan perintah yang sama kepada Yon 454 dan 530 Para.

Juga kali ini tanpa hasil. Tanpa kehilangan kesabaran dan tanpa meninggalkan kebijaksanaan “memulihkan suasana tanpa pertumpahan darah”, Pak Harto dan kawan-kawan mengambil tidnakan-tindakan lain yang dapat dilakukan.

Halaman
1234
Sumber: Intisari
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved