'Macan-macan Loreng Berbaret Merah' Menyusup ke Daerah Halim yang Penuh Misteri

Kostrad yang panglimanya, Mayjen Suharto lewat jam 6.30 datang ke markas tanpa pengetahuan sedikitpun tentang apa yang telah terjadi

Editor: fitriadi
Kompas.com
Jenderal Abdul Haris Nasution dan Mayor Jenderal Soeharto berdoa di depan peti jenazah almarhum Jenderal Sutojo Siswomihardjo dan enam rekannya yang gugur dalam Peristiwa 1 Oktober 1965. 

Skogar yang langsung dipimpin Pak  Umar tidak tinggal diam untuk memperkuat counter-move Pak Harto. Sementara itu satu kompi batalyon 328/Kujang ditempatkan di bawah Skogar.

Hampir 4 jam setelan perintah kedua pada jam 11.00 lagi, belum juga Yon 454 dan 530 masuk markas Kostrad.

Makd jam 15.00 untuk ketiga kalinya  memanggil kedua batalyon tersebut. Kali ini ada jawaban. Kapten Sukardi, perwira tertua Yon 530 dan Kapten Kuncoro, wakil komandan Yon 454 datang menghadap, mereka diberi penerangan tentang duduk persoalan yang sebenarnya, dan diperintahkan menarik pasukan mereka ke Kostrad.

Jam 15.30 Kapten Kuncoro dan Sukardi meningallkan markas Kostrad. Jam 16.30 benar Kapten Sukardi membawa pasukannya dengan kekuatan 1  batalyon (minus satu kompi yang tetap tertipu oleh G-30-S) ke pangkuan KOSTRAD.

Tetapi kapten Kuntjoro tidak kembali dengau pasukannya, Yon 454, yang tetap belum menyadari bahwa mereka diperalat G-30-S dan kemudian ternyata mundur ke Halim menggabungkan diri pada Cenko Gestapu.

Baca: Angkat Tangan! Sukitman Lemas tapi Akhirnya Lolos dari Lubang Buaya, Begini Kisahnya

Dengan kembalinya Yon 530 strategi Kostrad telah berhasil sebagian. Sementara itu  Kostrad pun menghubungi RPKAD yang pada jam 17.00 telah siap di perbatasan kota dengan kekuatan 2 batalyon. Dari kekuatan ini, 1 batalyon terus menuju Kostrad.

Dengan kekuatan yang berhasil dihimpunnya, kini Pak Harto bertekad membereskan krisis di jantung ibukota.

Jam 19.00 dikeluarkan perintah kepada RPKAD untuk menguasai kembali sepenuhnya Medan Merdeka dan sekitarnya, termasuk merebut kembali Gedung  RRI dan Pusat Telekomuniikasi tanpa meninggalkan prinsip "menghindari pertumpahan darah”.

 Dengan cepat dan taktis pasukan pembebas bergerak. Dan sungguh membanggakan — 20 (duapuluh) menit kemudian Gedung RRI dan Telekomunikasi sudah berhasil dibebaskan, tanpa pertumpahan darah!

Sementara itu, Kostrad pun mengerahkam Batalyon 530 yang sudah menggabungkan diri untuk menjalankan tugas penngamanan di sekitar Pusat Telokomunikasi.

Hasilnya, segerombolan Pemuda Rakyat dapat disergap lengkap dengan senjatanja. Rupanya gerombolan G-30-S ini belum mengetahui perubahan situasi dan mendapat tugas menduduki kantor Front Nasional.

Dari mereka inilah, makin jelas peranan Halim sehingga mempertebal tekad Pak Harto untuk secepat mungkin mendudukinya.

Sebelum menyergap Halim, Kostrad dengan bantuan Skogar mengambil pelbagai langkah-langkah pengamanan terlebih dahulu di beberapa tempat penting lainnya di ibukota.

Batalyon 328/Kujang berkekuatan 2 Batalyon diperintahkan menjaga di Jl. Radio dan sisanya disediakan untuk gerakan ke Halim.

Halaman
1234
Sumber: Intisari
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved