Minggu, 26 April 2026

Mengintip Fenomena Penonton Bayaran, Mulai dari Honor hingga Jenjang Karir

Ada banyak sebutan bagi mereka yang khusus datang ke stasiun televisi untuk menjadi penonton lalu dibayar

Editor: Iwan Satriawan
Rizky Abdul Rahman/Hai Online
Ilustrasi penonton bayaran acara televisi 

Pihak televisi biasanya hanya berhubungan dengan sang koordinator untuk memastikan ketersediaan penonton

Para koordinator, yang biasanya juga pemilik agensi, rata-rata mengawali karier sebagai penonton

Seperti cerita Harsono Wahyudi, pemilik Harsono Management, yang kini memegang salah satunya adalah program Dahsyat. Mas Har awalnya menjadi penonton program Ngelaba-nya grup komedi Patrio di TPI (sekarang MNC) bersama Budi Anduk, Kiwil, Azis Gagap, dan Daus Sembako. 

“Bedanya sekarang, mereka udah pada jadi di depan layar. Saya juga jadi, tapi di belakang layar lanjut ngurusin penonton,” katanya. 

Rina Putri yang kini memiliki agensi bernama Herina Agency juga punya cerita serupa. Dia adalah penonton, salah satunya di program Religi TransTV. Lama-lama Rina berpikir, 

“Mengumpulkan orang untuk jadi penonton ini ternyata bisa jadi pekerjaan, ya.” Maka, dia membuat agensi dan kini sedang memegang program Kata Hati. 

Proyek pertama Mas Har adalah program Kupas Masalah Islam Remaja pada 2004. Saat itu, dia langsung mendapat order menyediakan 150 orang.

Sementara itu, order pertama Rina lebih sedikit yakni hanya mengumpulkan sekitar 10 orang. 

Dari RT sampai ke mal 

Segenap penjuru kota dijelajahi para koordinator penonton untuk mencari massa. Tempat pertama jelas lingkungan terdekat, yaitu sekitar rumah tinggal. Pola para koordinator ini ternyata sama, yakni mendatangi ketua Rukun Tetangga (RT) setempat. 

Ketika permintaan semakin banyak, mereka punya cara lain untuk mengumpulkan orang. Contohnya, mendatangi sekolah jika yang dibutuhkan anak sekolah, atau ke majelis pengajian jika yang dibutuhkan ibu-ibu. 

Ketika diminta mendapatkan penonton remaja, pada awal bisnis, Rina sempat bingung. Dia kemudian memutuskan ke mal. 

“Mereka banyak yang mau, tapi banyak yang kabur satu-satu. Dikira saya mau jual orang,” cerita Rina.

Namun, seiring waktu, para agensi ini tidak lagi mengalami kesulitan, termasuk ketika mendapat order permintaan berjumlah ribuan. 

Kunci suksesnya adalah memperluas pergaulan. Pada akhirnya, ketika pergaulan sudah luas dan relasi terjalin, kerja sama dengan penyedia massa berskala lebih kecil bisa lebih mudah. 

Sumber: Intisari
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved