Sabtu, 2 Mei 2026

Mengintip Fenomena Penonton Bayaran, Mulai dari Honor hingga Jenjang Karir

Ada banyak sebutan bagi mereka yang khusus datang ke stasiun televisi untuk menjadi penonton lalu dibayar

Tayang:
Editor: Iwan Satriawan
Rizky Abdul Rahman/Hai Online
Ilustrasi penonton bayaran acara televisi 

Penyedia massa berskala kecil yang tersebar di berbagai daerah ini biasanya disebut sebagai koordinator lapangan (korlap). Sejak dulu sudah marak, tapi karena tidak ada koneksi jadi sulit berkembang. 

Kini korlap-korlap tersebut telah bekerja sama dengan agensi yang lebih besar. “Misalnya, di Kedoya, ada Ibu Sofi. Di Bekasi, ada ibu ini. Di Cileduk, ada lagi siapa. Ya, yang penting saling menguntungkan saja,“ terang Mas Har. 

Tidak ada standar khusus dalam merekrut para pemeriah acara. Semuanya serba standar. Hanya saja, setidaknya cukup ekspresif, enak dipandang, mudah beradaptasi dengan segmen acara, dan profesional. 

Kriteria lebih spesifik justru datang dari pihak televisi. Lain genre program, lain pula jenis penontonnya. Misalnya, Pesbukers di ANTV membutuhkan penonton yang ramai dan bisa diajak berbalas-balasan lelucon dengan pengisi acara. 

Mel’s Update lebih membutuhkan audiens yang berpenampilan menarik. Atau, Mantap membutuhkan remaja bersemangat. 

Mereka bekerja dan dibayar. “Kadang-kadang kita dapat cemoohan. Alay disebutnya. Sebutan alay‚ ’kan jadi momok sekarang.

Akhirnya saya bilang, ‘Jangan takut dipanggil alay. Itu hanya ejekan buat ngata-ngatain orang. Yang penting kita betul-betul kerja, cari makan, buat bantu orangtua, buat sekolah.’ Akhirnya, mereka bersemangat lagi,” ucap Mas Har. 

Jangan salah sangka, pola kerja para pemeriah acara ini juga profesional. Pembagian honor berdasarkan kelas. “Misalnya, kalau Rp 20 ribu, biasa saja. Kalau kelas B Rp 50 ribu, yang lebih bagus penampilannya. Kalau eksklusif, ibu-ibu arisan, atau anak-anak yang cantik seperti figuran, kelasnya beda lagi. Kira-kira Rp 75 ribu- Rp 100 ribu,” urai Mas Har. 

Sementara, Yasmin Sanad Manajer Corporate Communication ANTV, menunjuk angka, “Budget sekitar Rp 30 ribu-Rp 75 ribu, tergantung kelas.” 

Cukup untuk hidup 

Dari waktu ke waktu, bukannya menyusut, jumlah agensi yang ada justru bertambah banyak. Setidaknya hal itu membuktikan bahwa ladang pengelolaan pemeriah acara bisa untuk sandaran hidup. Padahal, dulu, Mas Har sempat ragu untuk menyeriusi usahanya. 

Untunglah, teman-temannya yang lebih dulu sukses di bidang hiburan, seperti Akrie, Parto, dan Eko Patrio tak pernah berhenti menyemangatinya. 

“Udah, loe bisa hidup di sini. Banyak kerjaan, kok. Tapi jangan kaki satu. Loe harus nyemplung, mengabdi, dan loyal,” kata Mas Har menirukan ucapan salah satu personel Patrio. 

Seperti juga pekerjaan-pekerjaan lain, kunci utama menggeluti bidang ini adalah kemauan bekerja keras. “Kerja keras dulu, setelah itu baru bisa dinikmati hasilnya,” tegas Mas Har. 

Setali tiga uang dengan Rina. Baginya, pekerjaan ini jauh lebih menjanjikan daripada sekadar hanya jadi penonton

Sumber: Intisari
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved