Gubernur Erzaldi dan Herman Deru Sepakati Bahtera Sriwijaya, Begini Kata Pengamat
Tos ala Erzaldi dan Herman itu, sebagai tanda kesepakatan monumental pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya
Menurutnya, pembahasan Jembatan Bahtera Sriwijaya sudah dilakukan sejak 2019.
Saat itu, Gubernur Babel, Gubernur Sumsel, dan Menteri Bappenas bertemu. Hanya saja, proyek tersebut belum masuk Program Strategis Nasional.
Noviar menjelaskan, titik yang disepakati yakni Desa Sebagin, Bangka Selatan ke Desa Tanjung Tapak Sumsel merupakan lokasi yang kerap dilalui masyarakat melalui transportasi laut.
"Daerah itu secara umum digunakan masyarakat untuk bertransportasi lewat laut, karena jaraknya pendek. Apabila tahapan FS pada Desember 2020 selesai, tahun depan masuk DED. Selesai pada 2023, bila uang ada, langsung jalan. Ibaratnya, kita memberikan ke orangtua, lalu ia mengatakan silakan kerjakan," jelasnya.
Sangat Memungkinkan
Dosen Teknik Sipil Universitas Bangka Belitung Revy Safitri menyebutkan sangat memungkinkan dibangun jembatan dari Bangka Selatan ke Desa Tanjung Tapak, Sumsel sepanjang 13,5 Km.
"Membangun jembatan sepanjang 13,5 Km dari segi konstruksi sangat memungkinkan. Namun, semakin panjang jembatan yang akan dibangun, berbanding lurus pula dengan biaya yang dikeluarkan," ujar Revy.
Dia mengatakan Bahtera Sriwijaya tentunya menelan dana besar, yang secara teknis dapat berbentuk jembatan lengkung, gantung, kabel, rangka, dan lain-lain.
"Perlu kajian terlebih dahulu untuk menentukan bentuk suatu jembatan. Karena ada banyak faktor yang mempengaruhi bentuk suatu jembatan, termasuk dana yang dibutuhkan. Semakin kompleks bentuk suatu jembatan, maka semakin besar dana yang dibutuhkan," jelas Revy.
Ia menambahkan mungkin saja secara struktur Jembatan Bahtera Sriwijaya memiliki bentuk yang mirip dengan Jembatan Suramadu.
"Secara geografis, pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya dilakukan untuk menghubungkan Pulau Bangka dengan Pulau Sumatera melalui Sumatera Selatan. Pembangunan infrastruktur memberikan dampak jangka panjang, sama halnya dengan pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya," katanya.
Dampak jangka panjang dalam artian dirasakan tidak serta merta langsung ketika jembatan selesai dibangun.
Menurutnya, pembangunan jembatan ini tentunya memberikan dampak positif dan negatif bagi masyarakat Bangka Belitung.
"Dampak positif yang terjadi antara lain membuka akses yang lebih besar dari dan menuju Pulau Bangka melalui jalur darat. Selama ini kebutuhan pokok di Pulau Bangka didatangkan dari luar karena keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat secara mandiri. Barang yang didatangkan sebagian melalui jalur laut menggunakan moda transportasi kapal," ujar Revy.
Ada banyak kelemahan ketika barang diangkut menggunakan kapal, karena pergerakan kapal dipengaruhi faktor cuaca, pasang surut air laut, dan juga waktu berlayar yang memakan waktu cukup lama, belum lagi kebutuhan pokok yang mudah rusak selama di perjalanan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ilustrasi-jembatan-bahterabangkapos.jpg)