Gubernur Erzaldi dan Herman Deru Sepakati Bahtera Sriwijaya, Begini Kata Pengamat
Tos ala Erzaldi dan Herman itu, sebagai tanda kesepakatan monumental pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya
Bahkan sektor usaha, investor dan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota telah menyiapkan atau tidak, imbas positif ekonomi dari kehadiran jembatan penghubung ini.
"Sebenarnya saya agak kurang sepakat jika nama yang disematkan pada jembatan ini adalah "Bahtera Sriwijaya", sebab menurut saya ini agak mengecilkan kesetaraan serta posisi tawar Bangka Belitung secara ekonomi dan Pulau Sumatera. Lebih mengesankan bahwa jembatan penghubung ini menjadi sasaran antara Provinsi Sumsel dalam mendorong perekonomiannya," sebut Suhardi.
Padahal, keberadaan jembatan penghubung ini berperan strategis tidak hanya Babel maupun Sumsel namun juga Sumatera.
Karena antar Provinsi se-Sumatera dapat mengambil manfaat sosial maupun ekonomi dari adanya jembatan ini, khususnya perdagangan antarpulau dan antarwilayah.
Berbagai produk dan jasa dapat lebih efketif dan efisien karena teratasinya kendala konektivitas antar wilayah dan antar pulau.
"Selain itu, dengan mengoptimalkan sektor pertanian, perkebunan, kelautan perikanan serta pariwisata tentu Bangka Belitung dapat menikmati laju pertumbuhan ekonomi dari keberadaan jembatan penghubung ini," bebernya.
Ia menambahkan walaupun berdasarkan data jumlah penduduk tahun 2019, penduduk Sumsel sebanyak 8,497 juta jiwa dan menempati urutan kedua penduduk terbanyak se-Sumatera yang berjumlah sekitar 58,46 juta jiwa.
Sementara Babel berada pada urutan penduduk terkecil se-Sumatera dengan jumlah penduduk sebanyak 1,45 Juta jiwa.
Namun, penting sekali untuk menyiapkan infrastruktur ekonomi serta masyarakat agar tidak hanya menjadi penonton atau pemain kecil dalam pembagian ekonomi antara Babel, Sumsel dan Sumatera.
Pembangunan ini merupakan suatu keniscayaan dari kemajuan peradaban, pemangku kepentingan di Babel harus menyiapkan diri, pandai mengambil peluang, kreatif serta inovatif, dan menghilangkan kesan negatif serta apriori dari kehadiran jembatan penghubung ini.
"Jika membandingkan dari sisi jumlah penduduk, Singapura lebih sedikit dari Indonesia dan Malaysia, namun dengan berbagai daya jelajah, kreativitas, inovatif, serta jiwa entrepreneur penduduknya mereka dapat mengambil porsi ekonomi lebih besar dan lebih kaya dibandingkan negara tetangganya," tutur Suhardi.
Pemda Harus Libatkan Masyarakat
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bangka Belitung menyoroti esensi dan keterdesakan yang diambil oleh Gubernur Babel dan Gubernur Sumsel.
Menurut Ketua Umum HMI Cabang Bangka Belitung Rizqi Khulafahu Shidi, keputusan tersebut terlalu terburu-buru, sementara hasil studi kelayakannya tidak transparan dan tidak jelas.
"Informasi ini kita terima sewaktu mengadakan webinar beberapa waktu yang lalu. Kita bukan persoalan menolak atau menerima pembangunan jembatan ini, tetapi terlalu tergesa-gesa dan arogan apabila gubernur menetapkan pembangunan ini. Tidak memikirkan jangka panjang di tengah masyarakat Babel," ungkap Rizqi Jumat pekan lalu.
Dia mengungkapkan dibangunnya Jembatan Bahtera Sriwijaya bukan berarti dapat meningkatkam ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
"Keuntungan hanya satu, hanya muncul jalan darat saja. Persoalan ekonomi meningkat bukan hanya jalan darat saja, tetapi tergantung kepala daerahnya seperti apa mengelolanya. Bukannya pelabuhan kita sekarang saja masih belum terkelola, apalagi adanya jembatan ini," sebut Rizqi.
Dia menyarankan pemerintah daerah untuk melibatkan berbagai pihak terlebih dahulu untuk memberi masukan terkait pembangunan jembatan seperti pemuda, tokoh adat, tokoh agama, masyarakat, dan mahasiswa.
"Jangan hanya memikirkan beberapa kelompok, kasihan masyarakat Babel yang tidak dilibatkan dalam penentuan pelaksanaan jembatan ini. Padahal, semua kebijakan itu akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat kita di Babel ini," tegasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ilustrasi-jembatan-bahterabangkapos.jpg)