Breaking News:

Tongin Fangin Jitjong dan Sebuah Frasa yang Meredam Radikalisme

Sebuah kalimat yang ternyata menjadi bagian pondasi kuat untuk meredam permusuhan dan radikalisme di Bangka Belitung.

GOOGLE
Masjid Jami' dan Kelenteng Kong Fuk Miau di Muntok, letaknya berdampingan. 

TONGIN fangin jit jong berarti ''Cina Melayu Sama Saja'' sebuah frasa yang melekat pada nilai-nilai melayu Bangka Belitung dan orang-orang keturunan. Sebuah kalimat yang ternyata menjadi bagian pondasi kuat untuk meredam permusuhan dan radikalisme di Bangka Belitung.

Faktanya adalah saat ini potensi radikalisme di Bangka Belitung memang cukup rendah. Namun angka semata tentunya saja tak memberikan rasa aman.

"Hasil penelitian yang baru-baru ini kami lakukan, potensi radikalisme di Bangka Belitung memang tidak terlalu tinggi, berada di posisi 12 persen. Tapi apakah ini aman, tentu saja tidak," kata Faisal, Bidang Kehumasan Forum Koordinasi Penanggulangan Teroris (FKPT), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Senin (13/11/202).

Angka yang cukup anomali. Apalagi berdasarkan survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BMPT) tahun 2017 yang dirilis tahun 2018 potensi radikalisme di segmen dunia pendidikan yang sampelnya diambil dari siswa SMA, guru, mahasiswa dan dosen, ternyata Provinsi Bangka Belitung menempati urutan ke 5 secara nasional.

Meskipun statistik aksi terorisme masih nihil, bukan berarti Bangka Belitung tidak memperhatikan isu terorisme, karena faktanya berdasarkan pengakuan Ali Fauzi, adik Amrozi dan Imam Samudra, pelaku Bom Bali 2001, pada salah satu acara Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekitar 27 November 2015 bahwa Bangka Belitung pernah dijadikan jalur distribusi logistik aksi teror, khususnya kelompok Malaysia.

Meski belum ada kasus mencuat, namun menangani radikalisme sangatlah penting. Menurut Faisal, kearifan lokal bisa saja menjadi instrumen penting untuk meredam hal itu.

"Bagaimana kemudian meredam ini. Satu di antaranya ‘’tongin fangin jitjong’’ sebagai perekat umat dan menjadi simbol masyarakat Bangka Belitung  yang harmonis," kata dia.

Lebih jauh tentang pengaruh frasa ini, Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Bangka Belitung, dr Subuh Wibisono menyebut, frasa ini bukan semata kearifan lokal. Tetapi menjadi simbol keberagaman di Bangka Belitung.

Harmonisasi antara melayu dan cina di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ibarat lukisan atau mozaik indahnya kerukunan hidup antar masyarakat di negeri serumpun sebalai ini.

"Ini menjadi bagian dari pondasi, bagaimana orang Bangka Belitung sebetulnya sangat harmonis," kata dia.

Halaman
1234
Penulis: Teddy Malaka (CC)
Editor: Teddy Malaka
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved