Kamis, 4 Juni 2026

G30S PKI

Alasan PKI di Madiun Berontak, Rupanya Ada Kaitannya dengan Kabinet yang Dipimpin Tokoh Ini Lengser

Alasan PKI di Madiun Memberontak, Rupanya Ada Kaitannya dengan Kabinet yang Dipimpin Tokoh Ini Lengser

Tayang:
Penulis: Widodo | Editor: Teddy Malaka
KOMPAS.COM/Wienda Putri Novianty
Ilustrasi Diorama penyerbuan DR. A.H Nasution di kamarnya dapat dilihat di Museum DR. A. H Nasution, Jakarta, Selasa (26/9/2017). 

BANGKAPOS.COM -- Pemberontakan PKI Madiun dilatarbelakangi jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin pada Tahun 1948 silam.

Kabinet Amir jatuh setelah penandatanganan Perjanjian Renville yang ternyata berdampak buruk terhadap Indonesia.

Melansir Kompas.com, terjadinya pemberontakan PKI Madiun diawali dengan jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin, karena tidak lagi mendapat dukungan setelah kesepakatan Perjanjian Renville.

Dalam perjanjian tersebut Belanda dianggap menjadi pihak paling diuntungkan dan Indonesia yang dirugikan.

Dengan kemunduran Amir ini, Presiden Soekarno kemudian menunjuk Mohammad Hatta sebagai perdana menteri dan membentuk kabinet baru.

Baca juga: Berharap Tambah Penghasilan dari Judi Togel Online

Baca juga: Heboh Lagi Video Gisel Berdurasi 19 Detik, Goyang Pakai Daster Hijau, Tapi Bukan Sama Nobu

Baca juga: Info Terbaru Tentang Gaji PNS Golongan I, II, III dan IV Serta Batas Usia Pensiun dan Tunjangannya

Namun, Amir beserta kelompok sayap kirinya (komunis) tidak setuju dengan pergantian kabinet tersebut, sehingga Amir dan komplotannya berusaha menggulingkan mereka.

Gerakan Amir ini dibantu oleh Musso, pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pernah belajar ke Uni Soviet.

Musso menggelar rapat raksasa di Yogya, di sana ia melontarkan pendapatnya tentang pentingnya mengganti kabinet presidensil menjadi kabinet front persatuan.

Musso bersama Amir dan kelompoknya berusaha untuk menguasai daerah-daerah yang dianggap strategis di Jawa Tengah, yaitu Solo, Madiun, Kediri, dan lainnya.

Rencana awal yang akan dilakukan yaitu dengan melakukan penculikan dan pembunuhan para tokoh di kota Surakarta, serta mengadu domba kesatuan TNI setempat.

Kerusuhan yang terjadi di Surakarta membuat perhatian semua pihak pro-pemerintah terfokus pada pemilihan di Surakarta.

Sedangkan pada 18 September 1948, PKI/FDR sedang menuju ke arah Timur dan berusaha menguasai kota Madiun.

Keesokan harinya, FDR mengumumkan terbentuknya pemerintahan baru yang disebut Republik Soviet Indonesia.

Selain di Madiun, PKI/FDR juga melakukan hal yang sama di Pati, Jawa Tengah.

Pemberontakan ini pun menewaskan Gubernur Jawa Timur RM Suryo, serta beberapa tokoh lainnya.

Sumber: Intisari
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved