Jumat, 29 Mei 2026

Horizzon

Sisa dari Covid-19 yang Sudah Kehilangan Cerita

Terbitnya Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 15/2022 menjadi titik balik dari cerita Covid-19 yang berkepanjangan

Tayang:
Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr/Pemred BANGKA POS GROUP 

Hilangnya kewajiban tes PCR dan antigen memungkinkan di dalam kabin pesawat, kereta, bus, kapal, atau moda transportasi umum lainnya berbaur mereka yang sedang terpapar virus Covid-19.

Kesimpulannya, saat kita bepergian dengan moda transportasi umum, kita berpeluang berinteraksi dengan orang yang terinfeksi, atau bahkan bisa jadi kita sendiri yang terinfeksi atau terpapar dan berpeluang menularkan ke orang lain.

Baca juga: Dua Anomali yang Seragam

Apakah situasi ini berbahaya? Jika kita merunut narasi-narasi yang mulai usang, maka situasi ini sungguh merupakan situasi yang sangat berbahaya. Kita ingat bagaimana virus ini dikatakan sangat menular dan sangat mematikan. Bahkan varian terakhir disebut tingkat penularannya hingga 500 persen, sebuah angka matematika yang sulit dijelaskan melalui kata-kata.

Apa pun alasannya, tampaknya kita akan benar-benar mengakhiri episode Covid-19. Kita akan kembali ke peradaban yang sehat tanpa Covid-19. Kita semua sudah lelah, capek dan mungkin menjadi miskin di episode Covid-19 ini. Kita akan dibawa dari era pandemi ke masa endemi.

Namun, jika kebijakan ini kita sikapi hanya dengan euforia, maka peradaban ini hanya akan menjadi peradaban yang merugi. Kita harus mengambil banyak pelajaran dari dua tahun lebih kisah Covid-19 yang sudah memorakporandakan peradaban kita, termasuk memorakporandakan norma sosial dan bahkan mengoyak sisi religiositas kita.

Baca juga: Dari Jurus Nasi Kucing Hingga Keranda Mayat

Kita harus kembali ingat, virus ketakutan atas Covid-19 ini datang jauh lebih cepat dibanding virus fisiknya. Saat virus ini belum masuk ke Indonesia, semua orang sudah heboh, mulai dari menentang, memperolok, menjadikan meme yang semuanya adalah manifestasi dari kemunafikan atas hadirnya ketakutan yang akut.

Kita juga harus ingat saat pertama kali virus masuk dan terdeteksi di Jakarta pada Maret 2020, kita justru disibukkan dengan perang antar-buzzer politik berbayar. Dan bahkan hingga saat ini, saat cerita Covid-19 sudah di penghujung episode, kita tak pernah punya pemahaman utuh atas kisah tersebut. Apa yang kita jalankan adalah template dari negeri seberang yang kita adopsi mentah-mentah.

Di penghujung cerita Covid-19 juga memberikan kita pelajaran berharga, di mana kita tidak mampu menjadi bangsa yang mandiri apalagi berdikari. Bahkan secara nyata, kita hidup di bangsa yang lebih percaya dan bangga karya bangsa lain sementara karya luar biasa anak bangsa ditenggelamkan begitu saja.

Baca juga: Apa Kabar GeNose?

Ingat dengan GeNose? Atau mungkin masih ingat dengan vaksin nusantara? Dua karya membanggakan anak bangsa ini tenggelam begitu saja dan tak memperoleh tempat di negerinya sendiri.

Satu lagi yang tersisa agar kita benar-benar lepas dari mental terjajah pandemi, yaitu soal audit kematian. Seorang dokter di Yogya, Riris Andono Ahmad, yang saat itu aktif di Satgas Covid-19 DIY sejak Agustus 2020 sudah menyuarakan tentang audit kematian ini.

Setelah Riris Andono, banyak pakar epidemiologi yang juga menyuarakan hal serupa soal audit kematian terkait Covid-19 ini. Namun lagi-lagi, suara tentang audit kematian ini juga tenggelam begitu saja.

Padahal kita tahu, ada orang yang meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas yang kebetulan terpapar Covid-19 kematiannya dimasukkan ke dalam data mati karena Covid-19. Kita juga tahu dan ragu tentang beberapa kasus kematian yang dipaksakan masuk data kematian akibat Covid-19 tanpa kita pernah menggugatnya.

Akhirnya, jika memang kisah dan cerita Covid-19 ini akan berakhir, di mana pandemi berubah menjadi endemi, tak salah jika kita kembali belajar memahami ini secara utuh. Kita tentu tak ingin meninggalkan kisah lucu yang akan menjadi bahan lelucon di masa yang akan datang hanya karena kita memelihara kedunguan tanpa pernah menggugat dan mencari tahu substansinya. (*)

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved