Mengurangi Kecanduan Gadget dengan Konseling SFBC
Kebutuhan teknologi merupakan sebuah kebutuhan penting dan mendesak saat ini. Hal itu terjadi, karena teknologi sangat dibutuhkan untuk banyk hal.
Penulis: iklan bangkapos | Editor: Novita
Di zaman sekarang tentu banyak membantu segala pekerjaan apalagi dalam hal pendidikan. Penggunaan gadget juga tentu akan sangat membantu keperluan. Di usia anak-anak sekarang yang seharusnya tanggung jawab mereka belajar namun sering tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Karena mereka akan lebih memilih bermain gadget dengan intensitas penggunaan yang tinggi.
Hal ini yang dapat memberikan dampak buruk baik secara pribadi maupun sosial, karena mereka tidak menjalankan tanggung jawab yang semestinya dilakukan anak-anak seusia mereka.
Dalam hal inilah, peran guru BK sangat di perlukan untuk membantu permasalahan siswa menghadapi kecanduan penggunaan gadget. Dalam dunia pendidikan, layanan bimbingan dan konseling sangat diperlukan mengingat banyaknya permasalahan yang dihadapi anak-anak usia sekolah.
Setiap permasalahan pun penggunaan teknik untuk mengatasi nya berbeda. Pada masalah kecanduan gadget dapat menggunakan konseling kelompok pendekatan Solution Focus Brief Counseling (SFBC), dengan teknik scalling question, miracle question dan exception question.
Konseling kelompok itu sendiri bertujuan untuk pengembangan diri, pembahasan dan pemecahan masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok, agar terhindar dari masalah, dan masalah terselesaikan dengan cepat melalui bantuan anggota kelompok yang lain (Wibowo, 2005).
Layanan konseling kelompok merupakan proses pemberian bantuan pada sekelompok orang. Layanan yang diberikan dalam suasana kelompok. Selain itu, juga bisa dijadikan media penyampaian informasi, sekaligus bisa membantu siswa menyusun rencana dalam membuat keputusan yang tepat sehingga diharapkan akan berdampak positif bagi siswa yang nantinya akan membentuk kepribadian yang lebih positif.
Dalam pelaksanaan konseling kelompok, guru BK harus menerapkan beberapa asas. Di antaranya, Asas Kerahasiaan, Asas Kesukarelaan, Asas Keterbukaan, Asas Kekinian dan yang lainnya.
Dalam kegiatannya pelaksanaan konseling SFBC, diawali dengan menyusun rancangan perencanaan, rancangan tindakan, rancangan pengamatan dan refleksi hasil. Konseling kelompok dengan pendekatan SFBC ini menerapkan 3 pertanyaan pada saat pelaksanaannya. Scalling Question yang merupakan pertanyaan berskala rentang 1-10 untuk mengetahui sejauh mana tingkat ketergantungan siswa pada gadget.
Miracle Question pertanyaan keajaiban di mana konseli diminta untuk membayangkan jika permasalahannya selesai dalam waktu satu malam langkah apa yang akan diambil. Exception Question pertanyaan pengecualian siswa menjawab saat-saat yang bagaimana dia merasa tidak ada ketergantungan dengan gadget.
Setelah kegiatan konseling, peserta didik ditanyakan kembali menggunakan scalling question untuk mengetahui apakah ada penurunan rentang angka.
Dari jawaban ketiga pertanyaan itu sebenarnya siswa sudah dapat menemukan solusi. Namun perlu dijelaskan dan dikuatkan kembali agar lebih yakin. Karena sejatinya pelaksanaan kegiatan konseling, yang akan dicapai ialah kemandirian siswa dan solusi yang ada juga akan dijalankan oleh siswa itu sendiri, serta sesuai dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai.
Di zaman sekarang dengan segala kemajuan yang ada serta adanya dampak yang akan dirasakan tentu peran guru BK sangat penting untuk membantu tugas-tugas perkembangan peserta didik agar lebih optimal dan mandiri. (*)