Breaking News:

Kepolisian

Awalnya Digunakan Menpor, Ini Alasan dan Sejarah Penggunaan Loreng 'Darah Mengering' Korps Brimob

dia menganggap seragam itu efektif dipakai di tempat-tempat tertentu berkadar gangguan keamanan dan ketertiban tinggi, seperti hutan dan

Penulis: Iwan Satriawan CC | Editor: Iwan Satriawan
Foto: kompasiana.com
Anggota Brimob dengan seragam lorengnya 

BANGKAPOS.COM-Korps Brigade mobil (Brimob) Polri sebagai tak hanya memiliki tugas melakukan penegakan hukum.

Dalam melaksanakan tugasnya mereka juga dituntut untuk punya keahlian dan kemampuan yang lazim dimiliki oleh kesatuan militer pada umumnya, meski tetap dalam koridor penegakan hukum.

Untuk itu mereka dibekali seragam loreng sendiri layaknya satuan militer di Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pemakaian seragam loreng khusus untuk pasukan Brimob memiliki akar sejarah sendiri.

Logo korps Brimob Polri
Logo korps Brimob Polri (Istimewa)

Penggunaan seragam loreng Brimob ini tertuang dalam keputusan Kapolri Nomor Kep/748/IX/2014 tentang Penggunaan Pakaian Dinas Lapangan Loreng yang dikeluarkan pada 24 September 2014.

Ajang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-69 Brimob, Jumat (14/11/2014), di Depok, Jawa Barat, menjadi peresmian penggunaan kembali seragam loreng itu.

Pada perayaan itu, semua polisi dan anggota Brimob menggunakan seragam tersebut.

Loreng pelopor atau loreng ”darah mengering” berwarna dasar hijau dipadu loreng berwarna hitam, putih, dan kuning.

Seragam itu pertama kali dipakai Brimob pada 1962 ketika ikut serta dalam Operasi Mandala.

Memasuki era reformasi, seragam itu dilarang digunakan seiring kedudukan Polri yang berpisah dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) sekaligus mengukuhkan Polri sebagai kekuatan sipil yang dipersenjatai.

Kepala Polri yang menjabat saat itu yaitu Jenderal (Pol) Sutarman mengatakan, penggunaan baju dinas lapangan bermotif loreng guna mempertahankan nilai-nilai historis perjuangan Brimob.

Selain itu, dia menganggap seragam itu efektif dipakai di tempat-tempat tertentu berkadar gangguan keamanan dan ketertiban tinggi, seperti hutan dan pegunungan.

Keputusan itu hasil evaluasi Polri terhadap korban jiwa anggota Brimob dalam upaya memberantas terorisme di Poso, Sulawesi Tengah, Februari lalu.

”Untuk menghindari korban tambahan dari anggota Brimob, saya memberlakukan kembali penggunaan seragam loreng itu dalam tugas-tugas operasional,” ujar Sutarman seusai menghadiri perayaan HUT Brimob seperti dikutip dari kompas.com.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved