Timah
Harga Timah Dunia Merangkak Naik, Pengusaha Menuggu Sikap Pemerintah
Harga timah dunia mulai merangkak naik pekan ini. Saat ini harga timah berada di posisi 23 ribu USD per MT.
Penulis: Teddy Malaka CC | Editor: Teddy Malaka
BANGKAPOS.COM - Harga timah dunia mulai merangkak naik pekan ini. Saat ini harga timah berada di posisi 23 ribu USD per MT.
Di London Metal Exchange (LME) harga timah dipasarkan pada posisi 23.145 USD per MT. Sehari sebeumnya timah diperdagangkan pada posisi 22.800 USD per MT.
Dengan demikian terjadi kenaikan sebesar 345 USD per MT,
Sementara harga timah dunia pada kontrak 3 bulan berada di posisi 23.175 USD per MT. Sedangkan timah kontrak 15 bulan berada di posisi 23.145 USD per MT.
Saat ini bisnis pertimahan dunia masih menunggu sikap Indonesia.
Iklim berusaha di sektor timah Indonesia terguncang setelah beberapa wacana tentang pengaturan tata kelola pertimahan yang akan dikeluarkan pemerintah. Pengusaha mendukung langkah itu, namun butuh waktu yang lebih untuk menyiapkan industri hilirisasi.
Isu penghentian ekspor ingot dan hilirisasi menjadi topik dalam seminar yang digelar oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Sabtu (18/3/2023) di Novotel Bangka. Harwendro Adityo Dewanto satu di antara pembicara dalam seminar itu mengungkapkan kondisi bisnis timah Indonesia saat ini.
Ia mengungkapkan ketidakstabilan bisnis pertimahan di Bangka Belitung. "Nah yang teman-teman AETI sering pusing kepala, deg-degan sebagai pelaku usaha, karena regulasi pemerintah berubah-ubah. Dikatakan ada moratorium, belum selesai, ada hilirirsasi, belum selesai, ada mineral strategis nasional," katanya,
Menurut Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) itu, pengusaha merasa tidak ada kepastian terhadap regulasi tentang bisnis pertimahan di Indonesia. "Itu tentu membuat iklim usaha jadi bergoyang-goyang, tidak ada kepastian, yang bagaimana kita mau berusaha ke depan, padahal kita sudah investasi dengan cukup banyak, nggak sedikit," katanya.
Selain masih terbentur regulasi, hilirisasi industri timah membutuhkan waktu. "Bangun pabrik saja gampang, dengan investasi yang ada, uang yang ada, kita bangun pabrik selesai. Tapi kami butuh kepastian tentang relaksasi waktu, untuk itu, supaya bisa berjalan," kata dia.
Ia menyebutkan inveastasi industri hilirisasi berkisar Rp20 miliar hingga Rp2 Triliun, tergantung dengan jenis industrinya. Namun persoalan bukan sekadar nilai investasi, tetapi keberlanjutan perusahaan.
Sampai saat ini pihaknya belum mengetahui kapan pemerintah akan secara resmi melarang ekspor ingot. "Sebetulnya wacana akhir tahun yang lalu soal hilirisasi, ternyata ada relaksasi setahun ini, dan kita nggak tahu di awal tahun 2024 di mana , di akhir 2023 bagaimana," katanya.
Ia mengatakan 17 anggota AETI mendukung langkah hilirisasi. Perusahaan Mitra Stania Prima yang dikelola dirinya, sudah memulai langkah itu dengan melakukan feasibility study. "Kalau dari saya sendiri, perusahaan saya sudah siap hilirisasi tahun ini, tapi saat ini sedang menyusun feasibility study," ujarnya.
Sementara itu Pj Gubernur Bangka Belitung, Ridwan Djamaluddin mengatakan Pokja Hilirisasi Timah sudah menyampaikan hasil ke Menteri ESDM. Hasilnya kajian itu terkait skenario terhadap kebijakan hilirisasi timah.
"Secara umum kita mengusulkan siap hilirisasi tapi kalau bisa bertahap, yang kedua bertahap dan tidak larangan nol logamnya. Akan dibuat skenario, bagaimana kita melaksanakan kewajiban hilirisasi, tetapi tetap ada ruang untuk kita menyiapkan diri," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Timah-batangan.jpg)