Kamis, 7 Mei 2026

Opini

OPINI Masmuni Mahatma: Pemenang Sejati

Pemenang sejati adalah yang rasionalitasnya tertata dan terjaga, kematangan politiknya terarah, pemikiran dan sikap kebangsaannya terintegritas

Tayang:
Istimewa
Dr. Masmuni Mahatma, S. Fil. I., M. Ag., Wakil Rektor II IAIN SAS Bangka Belitung (Babel) 

Masmuni Mahatma (Wakil Rektor II IAIN SAS Bangka Belitung)

PEMILU tahun 2024 secara administratif, khususnya menyangkut pencoblosan dan rekapitulasi suara hampir rampung. Ada kejutan, makna, dan dinamika demokrasi yang di luar dugaan.

Sebab demokrasi kali ini disadari atau tidak, menyuguhkan beberapa kebaruan yang tidak ringan. Menggabungkan pemilihan Presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg), sama sekali bukan perkara mudah, bahkan dengan harga yang tidak murah.

Teriakan tentang indikasi ada kecurangan, rasanya memang sering kali mengemuka tiap Pemilu. Seakan menjadi ikutan naturalistik-demokratik. Atau tampak sebagai “bumbu” untuk terus menghangatkan jalannya kompetisi, pertarungan, pergulatan, dan “pertikaian politik” lima (5) tahunan ini.

Elit politik tentu lebih mafhum. konstituen, sebagian besar tidak lagi ambil pusing karena kewajiban menyalurkan aspirasi (suara) telah dilalui dengan baik dalam koridor langsung umum bebas dan rahasia (luber).

Demikian fenomenanya, selalu menanjak. Menghadirkan semacam ketegangan, kecemburuan, ketidakpuasan, dan tuntutan-tuntutan yang bisa jadi di luar nalar demokrasi.

Tuntutan yang lebih diwarnai getaran emosionalitas daripada rasionalitas berkontestasi dan berkompetisi. Tuntutan yang sesekali menampilkan kekerdilan dan kepicikan mengarungi pesta politik kebangsaan dan kemasyarakatan. Tuntutan yang dalam istilah tradisi filsafat, “kurang substansialistik,” bahkan jauh dari tipologi edukatif-produktif.

Esensi Demokrasi

Esensi demokrasi adalah keterlibatan dan kematangan rakyat dalam mewujudkan aspirasi dan kontribusinya menyangkut prosesi, tahapan, maupun pelaksanaan Pemilu. Bahkan dalam konteks demokrasi, suara rakyat merupakan kunci dan simbol kecenderungan kehendak Tuhan.

Tanpa keterlibatan rakyat, demokrasi hanya akan menjadi “sketsa” beku, gagasan pasif, ide yang tidak aspiratif, dan mungkin “kerangka” sosio-kebangsaan yang mati suri.

Dalam konteks demokrasi, peran sosial rakyat (konstituen) sangat sentral dan vital serta mahal. Demokrasi senantiasa milik rakyat, sebab awal dan ujungnya memang untuk memediasi sekaligus mengantarkan kehendak publik, bukan semata kepentingan elit politik.

Menjadi bagian pelaksanaan prosesi demokrasi, sejatinya mesti terus menjaga, mengawal, dan menumbuhkan aspirasi, harapan, serta mendewasakan perilaku politik kebangsaan. Tidak etis kalau hanya “mengompori” dan “mengipasi” rakyat lantaran kegagalan.

Memahami esensi demokrasi, merupakan “parfum” yang akan membuat tiap-tiap pelaku politik senantiasa tampil gairah, sehat, jernih, segar, dan tetap rasional. Tidak tiba-tiba emosional, secepat kilat negatif menyikapi kelemahan-kelemahan dan keterbatasan sistem demokrasi. Sehingga proporsionalitas dan akuntabilitas demokrasi dapat ditransformasikan semaksimal mungkin.

Kelemahan dalam pelaksanaan pesta demokrasi tidak lagi dikambing-hitamkan, melainkan bersikap lebih jujur, paradigmatik, obyektif, dan edukatif memberikan evaluasi di hadapan publik.  

Menggali esensi demokrasi, mesti diiringi semangat mendandaninya sepenuh keterbukaan. Tanpa rumus ini, yang timbul mudah menyalahkan, gampang menyudutkan pihak di luar dirinya, parsialistik menganalisa, diwarnai kecurigaan dalam menyelami urutan dan irisan hasil pencoblosan.

Dikira rakyat tidak punya “kesadaran.” Apapun tampilan dan kesimpulan yang ada, tidak pernah dianggap sah dan terus dicap salah. Seakan kebenaran hanya lahir dan berada diantara “kemauan” maupun “kepentingan” yang dipropagandakannya.

Pemenang Sejati

Demi mengawal dan menyehatkan demokratisasi berbasis kerakyatan, kita memerlukan pemenang sejati dalam tiap pertarungan dan pergulatan atau kontestasi (politik).

Pemenang sejati bukan hanya mereka yang sedang dan telah berkompetisi secara terbuka memburu kekuasaan politik. Juga bukan mereka yang menjadi “tim sukses,” “tim siluman” penabuh musik, biola, piano, pemetik gitar Pemilu dan pendulang suara di masing-masing tingkatan.

Pemenang sejati adalah siapa saja yang rasionalitasnya tertata dan terjaga, kematangan politiknya terarah, pemikiran dan sikap kebangsaannya terintegrasi dalam moralitas demokrasinya.

Pemenang sejati ini tidak akan pernah menempatkan pertarungan dan kegagalan sebagai “bencana” atau “kiamat kubro” dalam menata eksistensi dirinya. Pemenang sejati selalu sadar dan siaga bahwa pada momen setiap pertarungan, kontestasi, dan kompetisi, menang dan kalah itu memang realita.

Pemenang sejati senantiasa memiliki kesadaran kstaria berdemokrasi. Kesadaran yang tidak picik memaknai kontestasi dan kompetisi. Kesadaran yang tidak menjebak atau menyeretkan diri pada tarikan duniawiyah-partikularistik belaka, tetapi pelbagai ikhtiarinya dikembalikan pada garis takdir dari Allah SWT. Terlebih lagi, yang abadi dan cukup berharga bagi manusia, tegas Moh. Iqbal, salah satunya adalah bernama kesadaran.

Lebih jauh Moh. Iqbal menguraikan, bahwa tujuan akhir aktivitas manusia adalah keagungan, kegairahan dan kekuatan berbasis kesadaran. Bukan semata ambisi kuasa dan manipulasi kepentingan.

Dari kekuatan (kesadaran), manusia akan diperhitungkan menghadapi dan mengatasi pelbagai dinamika sosial kemasyarakatan. Sebab kedewasaan dan kearifan, dalam perspektif kekhalifahan mesti terus menerus menjadi pilihan pemikiran maupun sikap kemanusiaan sekaligus demokrasi berkebangsaan.

Demokrasi, kata Al-Farabi (Yamani : 2002), merupakan wujud keberadaan masyarakat yang konsen atau istiqamah atas kebebasan, tidak suka pengekangan, senantiasa bertolak pada kehendak (aspirasi) nya.

Tiap individu yang mengaku mampu berdemokrasi, tegas Al-Farabi, tidak boleh sekali-kali larut dalam kepentingan kelompok tertentu, apalagi ambisi pribadi yang jauh dari koridor kolektif.

Mereka harus menjadi pemenang sejati. Sebab politik kata Aristoteles, adalah etika sosial berbasis aspirasi publik, bukan tendensi personalitas berlebih, termasuk karena kalah berkompetisi. (*/E1)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved