Senin, 4 Mei 2026

Kurs Rupiah

Rupiah Terus Melemah, Diprediksi Tembus Rp16.500 per Dollar AS

Pelemahan rupiah sebagai dampak dari kebijakan PBoC melakukan fixing rate terlemah sejak November 2023.

Tayang:
Penulis: Teddy Malaka CC | Editor: fitriadi
THINKSTOCKS
Ilustrasi rupiah dan dollar AS 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Rupiah terus melemah. Pada 20 Juni 2024, kurs Rupiah terhadap dollar kembali tertekan dan berada di posisi Rp16.503,55 per Dollar AS.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah sebagai dampak dari kebijakan PBoC melakukan fixing rate terlemah sejak November 2023. Kebijakan ini kemudian mendorong depresiasi mata uang di Asia.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunganya di level 6,25 persen.

"BI juga menyempurnakan kebijakan makroprudensial Rasio Pendanaan Luar Negeri Bank (RPLN) untuk penguatan pengelolaan pendanaan luar negeri bank, yang akan berlaku pada 1 Agustus 2024," kata Josua kepada Kontan.co.id, Kamis (20/6).

Untuk besok, Josua memproyeksikan rupiah masih akan lanjut melemah. Ini sejalan dengan potensi penurunan data klaim pengangguran di AS.

Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong sependapat. Ia menyebut pasar memperkirakan jumlah pengangguran turun menjadi 235 ribu dari 242 ribu pada bulan lalu.

"Selain itu, tekanan juga masih akan terasa seiring dengan menguatnya imbal hasil obligasi AS," sebutnya.

Kedua analis memproyeksikan rupiah akan berada di rentang Rp 16.400 per dolar AS-Rp 16.500 per dolar AS pada Jumat (21/6).

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS semakin tertekan. Rencana Presiden terpilih, Prabowo Subianto menggerek rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) jadi satu di antara penyebabnya.

Berdasarkan sumber informasi yang namanya enggan disebutkan, Prabowo disebut berencana meningkatkan rasio utang sebesar 2 persen setiap tahunnya, hingga mendekati 50 persen.

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, kabar tersebut tentu berpengaruh terhadap pergerakan kurs rupiah. Pasalnya, kabar itu berpengaruh terhadap kepercayaan investor dengan kondisi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) RI.

"Bagaimanapun juga peningkatan utang yang akan direncanakan oleh pemerintah mendatang tentu akan berdampak terhadap berbagai hal," kata dia, kepada Kompas.com, Selasa (18/6/2024).

Yusuf menjelaskan, kekhawatiran itu kemudian membuat investor berbondong-bondong untuk menarik modalnya di pasar keuangan RI. Hal ini yang kemudian membuat rupiah tertekan.

"Ada kekhawatiran terkait bagaimana pengelolaan fiskal ke depannya, apakah kemudian kesehatan fiskal yang kerap kali diukur dari rasio atau batas devisa anggaran itu akan terpenuhi," tutur dia.

Sementara itu Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyebutkan, kenaikan rasio utang bakal berdampak terhadap rasio pembayara utang (debt to service ratio) yang meningkat. Semakin besarnya kebutuhan pemerintah untuk membayar bunga serta pokok utang diyakini dapat membuat rupiah terperosok kian dalam.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved