Tribunners
Menanam Bibit Pohon dan Ekospiritual
Perlukah manusia menanam bibit pohon, menyapa, menjaga dan melestarikan alam sebagai tempat tinggal mereka?
Irawan (Rektor IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung)
TULISAN ini terinspirasi dari gerakan menanam bibit pohon yang dipimpin oleh orang nomor satu di Bangka Belitung, Pj. Gubernur Safrizal ZA pada Selasa 23 Juli 2024 sebagai launching program Semangat Menanam Rakyat Bangka Belitung (Semarak Babel) 2024.
Bibit pohon yang akan ditanam sejumlah 133.103 batang atau setara dengan 121 hektar, sedangkan bibit pohon di tanam di kawasan GOR Sahabudin Bangka Belitung sebanyak 2.000 batang terdiri dari Kalindra, Kayu Putih, Jambu Mete, dan Sirsak.
Sementara sisa bibit lain akan ditanam di beberapa Lokasi. Gerakan menanam pohon ini diharapkan diikuti oleh seluruh Forkofimda, Pj Ketua TP PKK, instansi-instansi vertikal, perguruan tinggi, sekolah-sekolah, BUMN, perbankan, dan pihak-phak lainnya. Tujuan program ini sebagai perwujudan dari ibadah, sikap sayang dan santun manusia terhadap alam semesta.
Perlukah manusia menanam bibit pohon, menyapa, menjaga dan melestarikan alam sebagai tempat tinggal mereka?
Penanaman bibit pohon bisa dilakukan bukan hanya pada saat lahan masih kosong tetapi juga pada saat kerusakan alam. Kerusakan alam, tanpa terkecuali di Bangka Belitung, perlu dilakukan melalui berbagai program, yang salah satunya menanam pohon. Kerusakan lingkungan menyebabkan berbagai dampak seperti pemanasan global, banjir, penyakit, dan rusaknya ekosistem di darat dan di laut.
Ekospiritual dan Pelestarian Alam
Istilah ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Kata ekologi diambil dari kata Yunani “Oikos‟, (yang berarti rumah atau alat rumah tangga atau sesuatu lainnya) dan “logos‟ (yang berarti pengetahuan). Dengan demikian, ekologi secara harfiah berarti studi tentang alat rumah tangga‘ (the study of household).
Di sini, istilah “alat rumah tangga” dimaknai dengan “alam’ (nature). Ernst Haeckel (1866) mengaitkan istilah ekologi dengan pengertian bagian kehidupan organik yang harus dipelihara. Dari pengertian ini dapat dijelaskan bahwa ekologi diibaratkan alat rumah tangga atau harta milik pribadi yang harus dijaga agar tidak rusak, hilang, dan dicuri oleh orang lain. Oleh karena itu, ekologi harus senantiasa dipelihara dan dijaga.
Kerusakan alam terjadi karena kurangnya pemahaman tentang pentingnya nilai-nilai spiritual dalam diri manusia ketika berhubungan dengan alam. Manusia perlu menyadari bahwa di dalam alam semesta terdapat Yang Mahahadir (Omnipresent), sehingga alam perlu disapa dan dimanfaatkan dengan santun dan bijaksana.
Dalam perspektif Islam, alam dan manusia adalah sama-sama fitrah (suci). Namun, ada perbedaan yang sangat mendasar dari keduanya, yaitu: a) manusia dikarunia akal, sedangkan alam tidak. Oleh karena itu peran sentral manusia adalah pelayan alam semesta; b) ada kebutuhan mendesak bagi umat Muslim untuk memperbaiki perilaku mereka agar hidup lebih harmonis dengan alam selain manusia; c) dimensi moral dan etika manusia sangat penting agar dapat memperlakukan alam dengan ramah dan santun; d) nilai -nilai spiritual dalam diri manusia harus senantiasa diimplikasikan dalam setiap lini kehidupan ketika berhubungan dengan alam, dan; e) tugas manusia diutus ke alam semesta tidak terlepas dari konsep tauhid, khalifah, amanah, akhirah, adl, dan mizan.
Puluhan tahun silam, filosof Muslim Seyyed Hossein Nasr mempublikasikan bukunya The Encounter of Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man, pemikir konservatif Rachel Carson, dan sejarawan Lynn White telah mengidentifikasi krisis lingkungan di alam raya baru mulai melanda dunia.
Krisis lingkungan juga dikarenakan penolakan atau meninggalkan dimensi spiritual dalam menyapa dan berhubungan dengan alam. Saintisme modern telah melupakan dimensi spiritual dan lebih mengutamakan pandangan dunia (world-views) bahwa manusia boleh memanfaatkan sumber alam sepuasnya.
Manusia modern terkadang lupa adanya doktrin tradisi yang menjelaskan hubungan terdalam (the inner nexus) alam dengan dunia fisiknya. Penolakan unsur spiritual dalam memperlakukan alam lebih disebabkan faktor ekonomi. Padahal, ketelibatan unsur spiritual adalah faktor penting untuk menemukan kembali saintifik dengan pengetahuan suci (sacred knowledge) sebagaimana tertera di dalam tradisi ajaran Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Hadis.
Simon Appolloni dan Heather Eaton menjelaskan, relasi manusia dan alam dengan istilah ekoteologi. Ekoteologi didasari pada premis hubungan antara spiritualitas manusia dan keadaan alam. Ekoteologi bertujuan untuk menemukan tingkat kerusakan alam dan mengidentifikasinya, selanjutnya mencari solusi dalam perspektif berkelanjutan dan manajemen ekosistem.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240725-Rektor-IAIN-Syaikh-Abdurrahman-Siddik-Bangka-Belitung.jpg)