Negara Sepakbola

Masyarakat Indonesia mencintai sepakbola. Bukan hanya urusan Timnas Garuda. Mayoritas masyarakat Indonesia mencintai sepakbola melalui Liga besar

Istimewa
Masmuni Mahatma, Kakanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 

Wajar kalau pelatih dan sebagian pemain Australia mengutarakan bahwa stadion Gelora Bung Karno (GKB), kurang bersahabat. Seperti “kandang sapi,” berisik, dan tiada henti melepaskan yel-yel Pasukan Garuda. Lagi-lagi ini bukti nyata kecintaan masyarakat terhadap sepakbola. bukan isapan jempol belaka. Ini sikap kolektif yang ditunjukkan masyarakat Indonesia untuk persepakbolaan.

Bahasa Sepakbola

Bahasa sepakbola adalah bahasa kebanggaan dan kemenangan. Bahasa identitas, solidaritas, loyalitas, sportifitas, akuntabilitas dan nasionalisme. Bahasa yang tidak mengenal perbedaan hal-hal parsialistik belaka. Bahasa yang menjunjung tinggi kedisiplinan, kolektifitas, dan universalisme.

Sederhananya, bahasa sepakbola itu bahasa simpati dan empati. Bahasa motivasi dan dedikasi. Bahasa militansi dan saling tumbuh-kuatkan energi. Dalam konteks ini, soal naturalisasi pemain bukan masalah besar. Itu adalah pilihan demi ketangguhan dan keutuhan Timnas. Setidaknya sekarang kita telah memiliki pasukan Garuda yang bisa memberikan harapan dan sedikit kebanggaan maupun mengangkat martabat bangsa di pentas sepakbola dunia.

Sekiranya sebagian besar pasukan Timnas memiliki bahasa yang berbeda, sebut saja bahasa Inggris dan Belanda, hal yang normal. Namanya juga untuk kualifikasi dan kompetisi kelas dunia. Tak perlu diseret-seret berlebihan. Apalagi sampai dikaitkan dengan urusan perbedaan ras, keturunan, dan agama.

Sepanjang tahapan administrasi ditempuh dan dinyatakan memenuhi syarat oleh FIFA menuju “kodrat” pemain Timnas, mari syukuri searif dan sekhidmat mungkin. Dalam sepakbola, bahasa yang berlaku adalah bahasa antusiasme, kebersamaan demi kekompakan laiknya sebuah tim. Latar dan posisi para pemain memang berbeda, tapi tetap sama dalam satu napas dan alur tim kerja. 

Eks-Presiden Barcelona, Joan Laporta, suatu saat pernah mensinyalir bahwa dalam konteks sepakbola selalu berlaku falsafah “build in regulation.” Falsafah ini kurang lebih menegaskan bahwasanya dari dan untuk sepakbola senantiasa melekat aturan satu untuk semua.

Satu yang kena, berarti semua yang tergabung dalam tim otomatis kena. Kalau tim kalah atau pun menang bertanding, maka tidak ada pengambing-hitaman atau pemujaan berlebihan diantara salah satu pemain atas pemain yang lain. Semua wujud dari keberadaan tim itu sendiri. Sekali lagi, satu kena, semua kena. Itu bahasa (filosofi) sepakbola

Sebagai penikmat dan praktisi sepakbola, Joan Laporta mengajarkan bahwa (per)sepakbola(an) bukan sekadar permainan olah-uji skil tentang cara gerak umpan-mengumpan dan kejar-mengejar bola di lapangan hijau. Sepakbola adalah wujud dari sistem, budaya, dan mekanisme kehidupan bersama. Kamus egoisme-individualisme apalagi premanisme tak berlaku.

Meminjam ungkapan revolutif Bung Karno, bangsa ini didirikan dari satu untuk semua, dan dari semua demi yang satu. Itulah dimensi Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu-padu. Dari garis bahasa dan filosofi ini pula, Indonesia jadi negara sepakbola, meskipun tidak langsung juara. Yang penting terus bersama, saling mencintai sepakbola, merangkul-membersamai pemain yang punya “kaitan darah” dan siap hidmat untuk Indonensia jiwa raga. (*/E1)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved