Rabu, 20 Mei 2026

Opini

Guru Untuk Kehidupan

siapa saja yang memberitahukan sesuatu meski hanya berupa huruf alif, termasuk di ruang sempit, selama melahirkan pengetauan dan kemaslahatan, maka...

Tayang:
Istimewa
Dr. Masmuni Mahatma, Kepala Kanwil Kemenag Kep. Bangka Belitung 

Oleh: Masmuni Mahatma, Kepala Kanwil Kemenag Kep. Bangka Belitung

TAK pernah mudah menjadi seorang guru. Bahwa drajat, harkat, dan martabat guru senantiasa mulia dan luhur dalam kehidupan, realita yang termafhumi. Tanpa keberadaan dan peran guru, akan banyak pola maupun mentalitas kehidupan manusia yang akan terjauhkan dari alur fitrati serta amanah Ilahi Rabbi, Maha Guru Semesta dan Jagad Raya. Bahkan dalam konteks tertentu, tanpa kehadiran dan partisipasi guru di lingkungan hidup manusia, mungkin tidak sedikit mereka yang cepat sesat pikir, cacat bersikap, lepas kontrol dalam tindakan. Perilaku dan watak kebinatangan akan terus menghimpit serta mengeksploitasi laku sosial kemasyarakatan. Manusia akan mudah menjadi realita tanpa imajinasi, tanpa logika, dan tidak peduli sama sekali atas etika. 

Guru merupakan penunjuk jalan kehidupan. Guru, seperti fitrah dan filosofi luhurnya adalah pembuka dan penerang hidup setiap makhluk. Melalui sentuhan ilmu, perhatian, dan kasih sayang sosok guru, tiap diri manusia perlahan tapi pasti dapat mengenali pelbagai hal demi kelangsungan sosial kemasyarakatan dan kehambaan. Tidak sekadar mengetahui, membunyikan, menata dan memaknakan abjad, huruf, angka, tulisan, atau isyarat dan simbol-simbol. Bahkan lantaran pendampingan keilmuan dan akhlak seorang guru yang penuh ketulusan, tiap-tiap diri bisa bertumbuh secara produktif dan prospektif. Terang sekali bahwa guru benar-benar pribadi penting dari dan untuk pemompaan eksistensi tiap diri.

Sayyidina Ali kw., Sahabat sekaligus sepupu Rasulullah Saw sedari dulu telah menegaskan bahwa siapa saja yang memberitahukan sesuatu meski hanya berupa huruf alif, termasuk di ruang sempit, selama melahirkan pengetauan dan kemaslahatan, maka ia layak diposisikan sebagai guru. Sehingga siapa pun yang menunjukkan sebuah jalan setapak, misalnya, tapi benar-benar mengantarkan manusia sadar dan paham akan jalan kebaikan (Tuhan), mereka pantas dinobatkan selaiknya guru yang wajib dihormati dan diteladani. Sebab yang dilakukan merupakan wujud dari pengetahuan, dan pengetahuan merupakan pantulan juga dari keimanan. Pengetahuan dan keimanan, sama sekali tidak bisa dicerai-beraikan. Keduanya mesti dipadu-lajukan demi mengawal pertumbuhan dan perilaku yang menyehatkan dalam konteks kehambaan.

Pemompa Ilmu

Keberadaan guru sangat jelas, yakni pemompa ilmu. Tiap-tiap diri memang telah dibekali potensi atau benih-benih ilmu oleh Allah SWT. Dasar paling universal dari pernyataan ini tak pernah berubah sepanjang sejarah. Dimana setiap manusia nyata telah dianugerahi akal, logika, nalar, dan hati oleh Allah SWT.  Semua itu medium pemompaan ilmu. Karena anugerah ini, manusia dibedakan dan mempunyai keistimewaan tersendiri di hadapan makhluk Tuhan lain di muka bumi. Bahkan, lantaran anugerah akal itu jua manusia dinobatkan sebagai khalifah Allah SWT di alam semesta. Meskipun dalam perspektif khazanah filsafat, wujud manusia sering kali juga dikategorikan sebagai binatang, tetapi yang berakal. Al-Insan hayawan al-Nathiq.

Sebagai pemompa ilmu, performance atau penampilan dan kapasitas guru mesti terus “didandani” serapi dan seanggun mungkin. Dari aspek keilmuan, guru tidak boleh stagnan, apalagi apatis atau skeptis. Skil, kecakapan, dan kreasi guru perlu diasupi pelbagai gizi maupun energi positif yang prospektif. Mereka perlu terus mengembangkan eksistensi dan beradaptasi dengan fenomena maupun realitas kehidupan. Hindari sampai ketinggalan semangat, pola, dan gaya penampakan zaman. Kalau perlu, guru benar-benar selalu siap siaga menjemput, mengawal, mengantar, dan memola dinamika zaman dengan kedalaman, kejernihan, serta inovasi keilmuan. Spirit ini merupakan panggilan etik bagi guru dimana dan kapan pun.

Dengan terus memompa ilmu, guru akan menjadi pilar harapan kemajuan dan peradaban bagi setiap umat manusia. Eksistensi kehambaan dan kekhalifahan dari guru akan cepat dirasakan serta diinternalisasi oleh masyarakat. Atas kontribusi luhur ini, keberadaan dan kelangsungan guru seyogianya terus mengalirkan cahaya sekaligus kemaslahatan dari dan untuk sosial kemanusiaan. Guru, seperti dalam semangat bahasa Sansakerta, akan mewujud laiknya obor, lentera, lampion, dan sosok yang pantas digugu serta diteladani sepanjang masa. Nama dan kehadiran guru pasti terus terpatri kuat di hati dan jiwa setiap manusia. Pesan, nasihat, ucapan, dan tindakan guru pun senantiasa dirindukan manusia tanpa reduksi. Ini bentuk kemuliaan nyata bagi guru

Sebagai pemompa ilmu, sama sekali guru tidak boleh diabaikan. Kita mesti memberikan dukungan, support, atensi, dan penghormatan terbaik kepada guru. Salah satunya adalah memberikan ruang-ruang ekspresif-eksploratif dan fasilitas memadai demi pertumbuhan keilmuan mereka. Bagian dari kehidupan mereka juga mesti menjadi “cita-cita,” semangat dan komitmen kehidupan kolektif kemasyarakatan. Termasuk agar guru tidak pernah berhenti menjadi masyarakat pembelajar. Hanya dengan modal ini, kita akan tetap bisa melihat kapasitas, integritas, dan kredibelitas guru yang membanggakan dan menggairahkan kehidupan bersama. Dari jalur ini guru mampu memberikan harapan sekaligus masa depan yang mempesona.

Kharisma Guru

Sebagai teladan keilmuan dan kehidupan, guru selalu mempunyai kharisma. Ini buah dari ketulusan dan kesungguhan seorang guru memelihara sifat-sifat terpuji dan menjauhkan diri dari mentalitas tercela. Kharisma semacam ini tidak sama dengan pencitraan diri, sebagaimana berlangsung di kalangan para kontestan politik, yang kadang jauh dari spirit luhur kemanusiaan. Kalau kharisma guru lahir dan melejit lantaran ketulusan dan esensial, sementara pencitraan sosial memang dicipta untuk raupan kepentingan dan sangat parsial. Dari sini orientasi dan hasilnya juga akan terlihat sangat berbeda. Kharisma lahir dan tumbuh tanpa rekayasa, mengalir deras berbasis sentuhan dan dorongan nilai-nilai keilmuan dan keimanan. Adapun pencitraan selalu diapit rekayasa, propaganda, dan dilapisi instrumentalitas pragmatis-politis.

Kharisma guru meluncur bersamaan dengan ketawaduan, kesederhanaan, dan kesungguhan memompa maupun mengelola ilmu pengetahuan. Beranjak dari prinsip dan kualitas diri seperti itu, jarang guru-guru terjerembab dalam hedonisme sosial apalagi materialisme-partikular. Tak berlebihan bila guru kelak terus menerus menjadi kompas peradaban dan moralitas kemanusiaan. Sebab tidak terusik akan godaan aneka pola dan gaya hidup, terutama di era industrialisasi dan digitalisasi yang sedemikian cepat serta fluktuatif ini, bukan perkara ringan. Sering kali sangat menyulitkan dan membuat kita dilematis, paradoks, dan kontradiktif. Hanya diri berkualitas dan bermental bersahaja yang benar-benar mampu berdiri tegak berjalan di ruang-ruang eksotis-glamouristik-kapitalistik.

Dalam rangka terus meningkatkan kualitas diri itu, setiap guru mesti senantiasa obyektif melihat, mencermati, mendalami, dan mengevaluasi diri. Obyektif bukan berarti menutup diri dan mengabaikan fenomena atau realitas peradaban industrialistik. Sebaliknya, perlu sadar dan siaga menerima, mengawani, mengakrabi, dan menerjemahkan gestur-gestrur “centil” modernitas dengan berbagai rayuan instrumental yang disiramkan. Meminjam spirit tradisi kaum sufi, guru di era modern patut tampil perkasa tapi juga arif dan bijaksana. Tidak boleh antipati atas perubahan dan “tarian erotis” peradaban sosial kemanusiaan, terlebih menyangkut pertumbuhan keilmuan dan teknologi. Apalagi sekarang, peran teknologi sulit dielakkan.

Seorang filosof pun pernah ikut berujar, bahwa perubahan merupakan hal abadi dalam kehidupan. Tak ada yang bisa menangkal perubahan dengan pelbagai argumentasi, obsesi, regulasi, dan akselerasinya. Kejelian dan kepekaan menyikapi, mengelola, menata, serta mengeksplorasi perubahan demi transformasi kemaslahatan, sejatinya kunci utama yang mesti dimiliki dan dioptimalisasi. Tak baik menjarakkan diri atau tuna-perubahan, apalagi alergi lompatannya. Kurang produktif dan tidak konstruktif. Perubahan itu sunnatullah (QS. Ar-Ra’d [13] : 11). Maka kharisma guru adalah pertaruhan mengantisipasi, mengedukasi, dan mengadvokasi keilmuan sekaligus mentalitas anak didik di setiap satuan pendidikan. Sebab guru bersahaja bukan semata urusan mata pelajaran, melainkan selaiknya juga menjadi guru (untuk) kehidupan. (***/E4)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved