Manusia Pramuka
Kemah Pramuka Madrasah Nasional (KPMN) tahun 2024 memiliki beberapa sentuhan yang patut diselami dan diapresiasi
Oleh Masmuni Mahatma, Kakanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
KEMAH Pramuka Madrasah Nasional (KPMN) tahun 2024 di Bumi Perkemahan (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur, tanggal 17 sampai 22 November 2024 yang lalu, memiliki beberapa sentuhan yang patut diselami dan diapresiasi. Terlebih karena KPMN ini dibuka langsung oleh Menteri Agama RI, Nazaruddin Umar.
Bahkan Menteri Agama menganggap bahwa KPMN kali ini adalah prestasi bagi Kementerian Agama. Apalagi pelaksanaan dan pesertanya berasal dari pejabat kemenag bersama siswa-siswi madrasah di seluruh Indonesia.
Mereka bagian dari masyarakat pendidikan yang identik dengan tradisi keilmuan dan kurikulum keagamaan maupun orientasi religiusitas.
Sementara Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis), Abu Rochmad, menegaskan bahwasanya gerakan pramuka merupakan salah satu wadah pendidikan non-formal yang sedemikian fokus terhadap pembentukan karakter sekaligus kemandirian diri.
Terang sekali, tradisi kepramukaan, disadari atau tidak, sulit dipisahkan dari pemompaan mentalitas dan pengentalan karakteristik anak didik sebagai makhluk sosial yang handal serta mumpuni.
Ketika memiliki mentalitas dan karakteristik yang tangguh, kuat, digjaya, maka perlahan mereka akan kreatif dan visible melangsungkan kehadiran maupun mengeksplorasi peran-peran strategisnya berbasis nilai-nilai dan spirit luhur pendidikan. Ini merupakan konstruksi fundamental dan prinsipil dari aluran esensial kependidikan.
Dasar-dasar luhur dari (ke)Pramuka(an) sebagai salah satu disiplin membimbing dan mengedukasi maupun menggodok mentalitas anak didik atau siswa-siswi madrasah adalah keniscayaan yang harus dirawat.
Ia perlu ditumbuhkan dan ditanamkan sedemikian optimal. Terutama untuk menjaga eksistensi dan regenerasi ideal sekaligus yang mempunyai kepekaan moralitas dan spiritualitas kemanusiaan. Kepekaan seperti ini merupakan modal berharga dari dan untuk generasi bangsa Indonesia.
Terlebih di tengah pelbagai lompatan-lompatan modernitas-digitalistik yang kadang jauh lebih cepat mengada dibanding imajinasi dan orientasi kebanyakan manusia. Bahkan mungkin bisa dibilang bukan saja tak terduga, melainkan benar-benar merenggut geliat nalar-nalar fitrati manusia pada umumnya.
Nilai (ke)Pramuka(an)
Selaiknya jalur atau medium pendidikan, kegiatan (ke)Pramuka(an) jelas mempunyai semangat, orientasi, obsesi, dan nilai-nilai luhur yang patut dilestarikan semaksimal mungkin.
Dari Pramuka telah banyak hal yang dilahirkan dan dikontribusikan terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan kelangsungan bangsa maupun negara.
Tak berlebihan bila pemerintah sampai menyediakan bumi perkemahan pramuka yang sedemikian luas di Cibubur ini. Jelas sekali bahwa tidak ada satu pun para leluhur bangsa yang abai atas masa depan generasinya.
Ini bukti bahwa leluhur yang memandang keberadaan dan kelangsungan generasi secara arif dan bijaksana, sama sekali mereka tidak akan pernah lalai pula terhadap hal-hal yang patut dipersiapkan demi kemaslahatan hidup generasi itu sendiri.
Diantara nilai-nilai luhur (ke)Pramuka(an) adalah melatih tumbuh suburnya cahaya kepekaan solidaritas, kesederhanaan, kemandirian, keuletan, penghidmatan atau pengabdian yang optimal, ketercerahan pemikiran dan ketangguhan sikap.
Dalam perspektif yang lebih lancip, semua itu merupakan wujud dari kematangan dan pendewasaan diri berkehidupan.
Anak Pramuka, kata sebagian aktifisnya, adalah sosok atau pribadi yang ulet, tekun, tidak kenal lelah, tak gampang menyerah, kreatif, inovatif, produktif, dan terus menerus mencari serta melahirkan solusi agar mampu mengada mengarungi dinamika sosial.
Bahkan guyonan di kalangan aktifis Pramuka, “menjadi anak Pramuka tidak boleh berkeluh. Disimpan di hutan pun pasti bisa bertumbuh dan mengelola kehidupan sedemikian bertuah.”
Kebaktian sosok-sosok yang ditempa melalui kegiatan (ke)Pramuka(an), adalah kebaktian yang dilandasi spirit kekompakan dan karakter loyalitas serta kesetiaan. Meminjam ajaran Hindu dan Budha, inilah darma atau derma bakti untuk penjernihan dan kualitas diri sebagai makhluk.
Sehingga memahami esensi dan urgensi hidup berkolaborasi dengan sesama dan demi kebaikan bersama. Ini tipologi pribadi berkarakter luhur tapi tiada henti melebarkan kerja-kerja kebaktian untuk kebajikan dan keharmonisan semesta.
Dalam istilah lain, siapa saja yang dibesarkan dari segarnya nilai-nilai (ke)Pramuka(an), maka pelan tapi pasti akan menjadi diri yang siaga untuk “keterpanduan” dengan dan atasnama kekhalifahan di muka bumi. Ini prestasi sekaligus prestise yang patut diapresiasi dan diinternalisasi.
Nilai-nilai dimaksud, disadari atau tidak sejatinya sejalan dengan Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka. Artinya, siswa-siswi yang dibesarkan melalui pendidikan (ke)Pramuka(an), sejatinya memang telah bersungguh-sungguh memompa diri sebagai hamba dan bagian elemen bangsa lahir maupun batin.
Mereka harus religius, spiritualis, dan Pancasilais. Senantiasa sigap dan siaga untuk menjadi diri yang peka dan komitmen menolong sesama dan mendesai mentalitas membangun masyarakat berkeadaban.
Mereka tidak saja patriotik, tetapi seyogianya progresif-empatik. Bukan saja nasionalistik, namun mesti beriman secara etik-transformatif. Bahkan mereka ditakdirkan untuk menghibahkan diri demi produktifitas personal sekaligus komunal dalam konteks kemanusiaan universal.
Pramuka Madrasah
Sebagaimana dimafhumi selama ini madrasah menjadi tempat generasi Islam (muslim) untuk dididik dan dikuatkan dari aspek keimanan, keilmuan, akhlak, serta misi kekhalifahan. Atasnama spirit luhur itu madrasah terus dikembangkan secara tata kependidikan dan pengelolaan kelembagaan.
Disadari atau tidak, ternyata madrasah melaju kompetitif-progresif. Eksistensinya terus sejajar dengan lembaga pendidikan lain yang ada di hamparan bangsa ini. Panggung-panggung nasional dan internasional pun semakin sering dihiasi oleh madrasah.
Termasuk KPMN di atas, merupakan salah satu bukti keterlibatan aktif dan kontributif madrasah dengan warna maupun polanya yang unik. Dari ruang dan anugerah ini madrasah kian menjadi harapan masa depan pendidikan bangsa Indonesia dan dunia.
Kembalinya Pramuka hidup, tumbuh, berkembang, dan menyala di lingkungan madrasah, layak diapresiasi. Perkemahan kepramukaan siswa-siswi berbasis spirit, orientasi, dan nilai-nilai madrasah digalakkan dengan modal dan model tersendiri.
Tidak saja pada level nasional, di berbagai daerah (regional) juga mulai menggalakkan (ke)Pramuka(an). Bahkan belakangan ada yang dimitrakan bersama Satuan Komunitas Pandu (SAKO) Lembaga Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) yang secara visi maupun misi luhurnya tidak jauh beda dengan orientasi ideal (ke)Pramuka(an).
Lagi-lagi ini merupakan bukti sejatinya pendidikan berbasis karakter, seperti yang termaktub dalam semangat Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka, cukup rasional dan urgen untuk kembali diterapkan dan diinternalisasi dari dan untuk keilmuan, keimanan, sekaligus keterampilan hidup siswa-siswi madrasah.
Pramuka madrasah, bukan sekadar meniru latah atau memenuhi tuntutan ekstrakurekuler biasa-biasa saja.
Jauh di balik itu, Pramuka madrasah harus dikentalkan selaiknya medium untuk mencetak dan melahirkan anak-anak didik yang lincah, terampil, berskill handal, dan kelak menjadi manusia pramuka kebanggaan. Yakni manusia yang sadar betul jalur dan alur sosio-kehambaan di hadapan semesta.
Manusia yang bukan semata terampil dalam urusan berkreasi di tengah hutan, berinisiasi di pusat lapangan, berinovasi di tanah lapang, kebun, pingggir pantai dan lain-lain dalam rangka mengisi waktu perkemahan.
Akan tetapi, manusia yang sungguh jujur mengaktualisasikan dirinya sebagai khalifah, pembawa kabar gembira, solusi dan cahaya kehidupan bagi setiap makhluk Tuhan.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, siswa-siswi madrasah yang didandani dengan baju dan lipstik (ke)Pramuka(an), seyogianya menjadi manusia teladan siap tanding, terutama dalam konteks karakter, mentalitas, produktifitas, dan ketercerahan diri.
Mereka harus sehat secara jasmani, rohani, pemikiran, sikap, komunikasi, interaksi, dan dedikasi. Mesti tampil terampil secara keilmuan dan keimanan, minimal menjadi inspirator dan kreator berbasis religiusitas-spiritualitas universal dalam seluruh ruang-ruang sosial.
Mereka tidak boleh sedikit pun mendistorsi, mendegradasi, dan mendelegitimasi amanah serta nilai-nilai etik kenabian yang diteladankan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Sehingga dari dan untuk stabilisasi kehidupan, mereka merupakan tumpuan harapan dan keberkahan seluruh makhluk Tuhan. (*/E1)
| Jemaah Haji Babel Dalam Kondisi Baik, Bersiap Hadapi Puncak Haji di Armuzna |
|
|---|
| Soal Plasma dan TBS, Warga 8 Desa Mengadu ke DPRD Babel |
|
|---|
| DPW PPP Babel Ajak Masyarakat Panjatkan Doakan Suami Wagub Babel Hellyana Semoga Husnul Khatimah |
|
|---|
| Co-Payment dan Masa Depan Asuransi Kesehatan: Masyarakat Bangka Belitung Mulai Khawatir? |
|
|---|
| Breaking News: Suami Wagub Babel Hellyana, Herry Setiyobudi Meninggal Dunia di Jakarta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240804_Masmuni-Mahatma.jpg)