Resonansi
Demokrasi
Selepas pandemic Covid-19, Indonesia tetap masuk dalam kategori demokrasi cacat dengan skor 6,44.
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: fitriadi
Kecemasan justru datang ketika ada ajakan untuk mencari demokrasi sejati, yang sempat diutarakan Bung Karno saat di depan utusan pemuda, 28 Oktober 1956.
Dalam pidato yang dijuduli Indonesia, Pilihlah Demokrasimu yang Sejati, Bung Karno mengingatkan mimpi indahnya agar pemimpin politik bersedia mengubur partai masing-masing.
Kata-kata "Pilihlah Demokrasimu yang Sejati" menyuarakan semangat Bung Karno dalam membangun demokrasi Indonesia yang berlandaskan pada nilai-nilai keadilan sosial, persatuan, dan kedaulatan rakyat.
Bung Karno sering kali menyerukan kepada bangsa Indonesia untuk menemukan jalan demokrasi yang sesuai dengan kepribadian bangsa, tanpa sekadar meniru sistem dari luar.
Hal ini sejalan dengan konsep Demokrasi Terpimpin yang pernah ia gagas. Sebuah ide yang mengutamakan musyawarah untuk mufakat sebagai inti dari demokrasi Indonesia, berpijak pada falsafah Pancasila.
Namun, banyak tokoh mengurai kelemahan Demokrasi Terpimpin Bung Karno.
Sutan Sjahrir, satu dari tokoh Sosialis menilai demokrasi terpimpin mengabaikan prinsip demokrasi parlementer.
Sementara Mohammad Hatta menilai demokrasi terpimpin justru bertentangan dengan demokrasi sejati. Sebabnya, sistem ini terlalu terpusat pada kekuasaan presiden dan berpotensi menjadi otoriter.
Seorang tokoh dari Masyumi, Mohammad Natsir juga ikut angkat suara. Ia menyebut sistem tersebut tidak memberikan ruang yang cukup bagi partai politik untuk berperan secara bebas.
Kini, setelah banyak bumbu demokrasi di Indonesia. Soalnya kemudian, demokrasi apa yang akan dilukiskan di masa depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)