Opini

Lebaran dan Ampunan

Lebaran bukan saja hari kemenangan, terutama bagi mereka yang sebulan penuh menjalani puasa Ramadan

Editor: Hendra
ISTIMEWA
Masmuni Mahatma - Kakanwil Kemenag Bangka Belitung 

LEBARAN DAN AMPUNAN

Oleh: Masmuni Mahatma
Kakanwil Kemenag Propinsi Kep. Babel  

Lebaran bukan saja hari kemenangan, terutama bagi mereka yang sebulan penuh menjalani puasa Ramadan. Lebih dari itu, lebaran merupakan hari (peng)ampunan dari dan antar sesama makhluk Tuhan di muka bumi.

Pada hari ini kemenangan berbasis religiusitas begitu nyata. Sejatinya jua tiap-tiap diri hamba telah dijamin memberikan dan mengalirkan sikap saling maaf-memaafkan, mengampuni, dan saling menempatkan kembali jiwanya dalam perspektif kefitrian.

Tak berlebihan bila hari kemenangan ini disebut dengan Idul Fitri, ruang dan waktu luhur untuk kelangsungan diri (manusia) secara fitrati. Hari yang begitu bermakna, berharga, dan teramat mengharukan khususnya untuk mereka yang sungguh sedari awal beriman.

Dalam napas filosofi kuno Madura, lebaran itu sering kali diistilahkan “tellasan” atau “lebberen,” yakni pelepasan dan keterbukaan rasa, peleburan dan penghapusan sikap, terutama menyangkut kealfaan, kekhilafan, kesalahan, dan dosa selaiknya hamba dari dan untuk kebersamaan berkemanusiaan.

Wajar kalau dari awal ditegaskan bahwa lebaran adalah juga momentum pengampunan untuk terus saling menguatkan atasnama iman dan ketakwaan sekaligus. Namanya juga “lebberen,” pelbagai hal kontradiktif dan negatif yang berakar dari kelemahan atau kekurangan sisi basyariyah, insaniyah, al-nasiyah, dan makhlukiyah, perlu dimaklumkan dan diarifi dalam rangka perbaikan maupun penyehatan harmoni kehambaan secara kualitatif.

Kalau dikaitkan dengan semangat luhur bulan Ramadan, sebagai bulan ampunan, tidak ada satu pun yang memungkiri nilai-nilai korelatifnya. Bilamana Allah SWT yang menjanjikan dan mewujudkan akan ampunan itu bukan semata hakNya, melainkan juga bagian dari konstruksi paradigmatik mengedukasi diri yang cukup layak diinternalisasi siapa saja yang merasa manusia (hamba).

Terlebih lagi lebaran memang merupakan aktualisasi dari keberkahan, ampunan dan kemenangan religiusitas serta sosial kemasyarakatan yang ditarik dan dialirkan bersenyawa dengan spirit tahmid dan takbir sedemikian menggemuruh di seantero jagad. Takbir yang tidak hanya mengagungkan Allah Yang Maha Agung, tetapi takbir “pemutihan” diri dari pelbagai sifat, mental, dan perilaku kontradiktif berkehambaan. 

Halal bi Halal

Tradisi unik dan ikonik masyarakat muslim Indonesia dalam memaknai dan menyemarakkan Idul Fitri ialah mengadakan halal bi halal. Bahwa secara linguistik istilah ini tidak populer di era Rasulullah Saw., ya memang betul adanya. Tapi kurang baik pula kalau langsung divonis “bid’ah” atau menyesatkan. Bahkan dalam tradisi masyarakat Arab pun istilah halal bi halal  ini tidak masyhur. Jalaluddin Rahmat (1996 : 1), misalnya, mensinyalir istilah halal bi halal ini dianggap bukan kata Arab yang tepat, dan sulit juga dipahami oleh orang Arab sendiri. Meskipun sebutan “halal” adalah kata dari bahasa Arab dan sangat familiar di kalangan masyarakat Arab. Namun demikian, lebih arifnya, mari cermati dan iris spirit serta makna yang dikandung secara positive thinking (husnu al-dhan) saja dulu. 

Ada pula yang menyatakan bahwa halal bi halal itu serupa al-haflah ba’da yaumul Id al-fithri, yakni sebuah perayaan berbasis spirit religiusitas dan kearifan lokal usai kelangsungan Hari Raya Idul Fitri. Istilah yang mengakomodir semangat kolektifitas dan keharmonisan yang dikonstruksi dari nilai-nilai kearifan lokal (al-‘adatu dan al-‘urfiyah) kemudian dikawinkan secara jernih dengan amanah Ilahi Rabbi.

Setidaknya, dalam rangka melejitkan dan membumikan substansi dari hablu min Allah dan hablu min al-nas. Kedua jalur ini adalah amanah Allah. Mesti senantiasa ditransformasikan dalam konteks kehambaan. Harus terus dirawat, dipompa, dilestarikan, dan dikuatkan demi aktualisasi prinsip-prinsip imani dan ketakwaan di hadapan Allah SWT.

Terlepas dari itu, lanjut Jalaluddin Rahmat (1996 : 1), halal bi halal merupakan budaya lokal untuk mewujudkan kerukunan, kesaling maafkan, keceriaan, kemesraan, dan keharmonisan dari dan antar umat Islam. Dan esensi budaya lokal ini tidak mereduksi spirit luhur ajaran Islam.

Sebaliknya, terus menguatkan. Sehingga nilai-nilai lokal Indonesia yang arif dan bijaksana, juga berseiringan dengan nilai-nilai Islam yang merahmati semesta alam. Ini unik, ikonik, dan khas Indonesia. Ini sangat mahal dalam konteks peradaban keumatan dan kebangsaan. Apalagi Islam, sebagai agama penyempurna, tidak hadir dalam kebudayaan yang kosong. Islam, terang Jalaluddin Rahmat, selalu diberi warna oleh berbagai celupan dan budaya lokal.        

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved