Opini

Lebaran dan Ampunan

Lebaran bukan saja hari kemenangan, terutama bagi mereka yang sebulan penuh menjalani puasa Ramadan

Editor: Hendra
ISTIMEWA
Masmuni Mahatma - Kakanwil Kemenag Bangka Belitung 

Melalui halal bi halal, umat Islam saling berpelukan, melepaskan rindu, merajut kemesraan, memusnahkan dan mengampuni pelbagai kealfaan, kesalahan, dan dosa atasnama kemanusiaan disertai pemujaan terhadap keagungan Tuhan (takbir). Sebab Idul Fitri, kata Jalaluddin Rahmat, mengandung nilai ajaran Islam yang universal. Islam yang membawa kabar gembira dan jutaan hikmah kepada semua manusia.

Islam yang tidak mengajarkan egoisme, melainkan mengedepankan kasih sayang dan pengampunan. Sementara lebaran, masih kata Jalaluddin Rahmat, adalah nilai lokal yang diberikan kepada Idul Fitri. Nilai lokal yang terus menerus menguatkan mozaik budaya Islam. Ini kontribusi produktif kearifan lokal Indonesia untuk Islam. Patut diapresiasi, diinternalisasi, dibumisasikan, dan diamplifikasi selamanya.

Yang (akan) Terampuni

Siapakah kira-kira yang (akan) terampuni melalui perayaan Idul Fitri dan halal bi halal ini?

Pertama, mengacu pada amanah Alquran (QS. al-Nisa [4] : 1), adalah yang tulus menjalin silaturrahim, bersalaman dan saling memaafkan. Sebab silaturrahim merupakan perintah Allah SWT yang kedua setelah takwa. Selaku umat dan hambaNya, setiap diri telah diminta Allah untuk senantiasa bertakwa, dan demi nama Allah sendiri kita memang saling meminta dan juga memelihara silaturrahim. Barang siapa yang memutuskan silaturrahim, terutama tanpa alasan yang etis, menurut Alquran, akan dilaknat Allah SWT (QS. al-Ra’d [13] : 25). Sebaliknya, kata Rasulullah, siapa saja yang menyambungkan silaturrahim (kekeluargaan) dan berbuat kebajikan, umurnya akan dipanjangkan, rezekinya akan ditambah, rumahnya akan dimakmurkan, meskipun pelaku silaturrahim itu (masih) termasuk mereka yang berbuat maksiat. 

Kedua, mereka yang terus beriman dan berbuat kebajikan, mengalirkan amal salih, demi aktualisasi kehambaan di hadapan Allah SWT. Ini sejalan dengan seruan Allah SWT dalam Alquran, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih, bahwa bagi mereka akan ada ampunan dan pahala yang besar (QS. al-Maidah : 9). Tampak sekilas, bahwa untuk memperoleh ampunan Allah, ternyata tidak melulu harus ber-istighfar ribuan kali. Jalur amal salih ini merupakan alternatif yang jelas disediakan oleh Allah SWT bagi setiap diri. Tak berlebihan jika dalam hidup keseharian bergulir pameo, “perbanyak sedekah, itu akan meringankan dosa dan akan mengucurkan berkah.” Apalagi kalau berbuat baik kepada anak-anak yatim, mereka yang terlantar, insya Allah, ampunan Allah akan hadir. 

Ketiga, mereka yang tidak mengerdilkan puasa Ramadan. Ada banyak nilai pendidikan yang dialirkan puasa Ramadan. Salah satunya adalah mengedukasi diri untuk konsisten dalam kebaikan, menjernihkan diri dari hal-hal kontradiktif selama menjalani hidmah kehambaan, dan menahan diri dari perilaku destruktif sosial-berkemanusiaan. Berlaku jujur, murah hati, istiqomah dalam menunaikan ibadah, terus menyantuni, menyayangi fakir dan miskin, adalah bagian nilai-nilai pendidikan yang dialirkan puasa Ramadan. Ini harus disuburkan dan ditransformasikan. Tidak boleh dikerdilkan hanya lantaran puasa Ramadan telah berlalu. Nilai-nilai pendidikan dari puasa Ramadan ini mesti menjadi energi positif dalam etika sosial kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan.

Puasa Ramadan, bulan penuh ampunan, seperti dilalui baru-baru ini, jelas telah melahirkan Idul Fitri. Pesan dan nilai puasa Ramadan harus dibawa dan diolah segurih mungkin melalui Idul Fitri.

Sehingga tak ada perilaku yang akan mengerdilkan pesan moral puasa Ramadan. Sekira abai terhadap hal ini, bisa jadi diantara tiap-tiap diri berarti telah mengkhianati keluhuran orientasi puasa Ramadan dan jauh dari kerangka Islami.

Oleh karena itu, kehadiran Idul Fitri, harus diposisikan semaksimal mungkin dalam konteks penguatan kualitas kehambaan.

Sebagai lebaran sekaligus edukasi untuk saling mengulurkan ampunan atas hal-hal yang dianggap salah dan dosa sesama keturuan Nabi Adam. Dan cukup wajar bila Jeihan Sukmantoro (1992 : 3) bertutur melalui sajaknya, “Salami/Selami/Islami//Salami/Selami/Idul Fitri.***

                    

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved