Jumat, 1 Mei 2026

Dialog Ruang Tengah

Sosok Uda Yamin, Sosok Dibalik Sanggar Cikar Sinar Gemala Perawat Seni Tari Tradisional Babel

Ketekunan dan kecintaan Uda Yamin pada kesenian itu, membuat Tari tradisional Melayu Bangka bisa bertahan di zaman modern ini.

Tayang:
Penulis: Rifqi Nugroho | Editor: Hendra
Tim Video Bangka Pos 
SENIMAN - Pemilik Sanggar Cikar Sinar Gemala, Uda Yamin, saat hadir dalam Program Dialog Ruang Tengah Bangka Pos, edisi Jumat (30/5/2025) yang dipandu Jurnalis Bangka Pos Edy Yusmanto. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Sanggar Cikar Sinar Gemala dikenal sebagai salah satu dari sedikit tempat pengajaran kesenian khusus seni Tari di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Eksistensi sanggar yang terletak di Kota Pangkalpinang ini tidak terlepas dari dedikasi seorang Muhammad Yamin atau akrab disapa Uda Yamin.

Ketekunan dan kecintaan Uda Yamin pada kesenian itu, membuat Tari tradisional Melayu Bangka bisa bertahan di zaman modern ini.

Secara khusus Uda Yamin mengisahkan perjalanan dalam merawat seni tari lewat sanggar yang dibukanya sejak periode 1990an lalu.

Hal itu disampaikan oleh dirinya saat hadir dalam Program Dialog Ruang Tengah Bangka Pos, edisi Jumat (30/5/2025) yang dipandu Jurnalis Bangka Pos Edy Yusmanto.

Berikut petikan wawancara eksklusif bersama Uda Yamin tersebut:

1. Q: Berarti sejak kapan menekuni hoby menari itu?
A: SMA lah ya, kurang lebih begitu. Kemudian waktu itu sempat kerja di asuransi, lalu sempat ikut kursus rias pengantian dan salon, buka usaha dirumah. Untuk menari itu, memang sudah ada kemampuan saat ikut dalam sanggar menari warisan budaya. Kebetulan saya generasi pertama ikut dalam sanggar, setelah itu sempat membuka sanggar sendiri dan melatih ke sekolah-sekolah, tahun 90-an.

2. Q: Kapan memutuskan untuk fokus dalam bidang seni ini di saat juga bekerja di perusahaan pertambangan?
A: Pemicunya mungkin kepuasan batin waktu itu, karena kurang merasa cocok. Alhamdulillah orang tua memberikan support, jadi akhirnya kita merasa bebas setelah merasa terkungkung tujuh tahun, setelah itu merasa merdeka diri kita ini.

3. Q: Berarti saat itu muncul mendirikan sanggar ini?
A: Iya waktu itu punya ide, menggabungkan antara rias dan sanggar tari ini. Jadi orang kan bisa sekalian, jadi kegiatan senin yang kita jalani itu bisa bersinergi, antara ini dan ini. Pada awalnya masih sekalian melatih di ekstra kulikuler sekolah-sekolah, tapi kemudian di bilang saya fokus di sanggar sendiri.

4. Q: Kemudian bagaimana muncul nama Cikar untuk sanggar ini?
A: Kalau dalam bahasa Indonesia itu kan untuk wanita itu cantik, tapi untuk laki-laki kan tampan. Waktu itu ketika sanggar sudah di bentuk tahun 90an, kita mengumpulkan sesepuh budayawan untuk mengadakan acara teater Dul Muluk. Saat kami mulai latihan di sanggar kami, tapi belum bernama Cikar. Saat berjalannya waktu itu nama Cikar itu diberikan oleh para sesepuh tadi yang memberikan nama itu. Untuk nama Sanggar Cikar Sinar Gemala ini kan ada filosofinya. Jadi cikar ini kan ketampanan atau kecantikan, sinar sendiri berarti memancarkan cahaya, kemudian gemala ini bahasa Melayu lama yang artinya kilau batu permata.

5. Q: Berarti sudah berapa tahun untuk Sanggar Cikar Sinar Gemala ini?
A: Untuk eksistensi sudah lama memang, seperti yang saya bilang tadi. Tapi untuk SK dari Dinas Pariwisata itu baru tahub 2007, itu untuk administrasinya.

6. Q: Bagaimana melihat eksistensi sanggar kesenian di Bangka untuk saat ini?
A: Bahasanya itu tergerus zaman dan teknologi, belum lagi kemarin terbentur dengan Corona. Sekarang mungkin sudah sedikit lebih baik, terutama di Pangkalpinang karena dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan nya. Untuk di kami, kemarin memang meski 6 bulan tidak ada pekerjaan untuk event, kami tetap latihan untuk menjaga kemampuan anak-anak itu tetap terjaga.

7. Q: Sulit tidak melanjutkan regenerasi di bidang seni untuk sekarang ini?
A: Itu tergantung pendekatan kita pada generasi muda, jadi harus ada bahasa sendiri untuk melakukan itu. Tergantung dengan niat kita juga. Karena di kami banyak yang datang ke sanggar, dengan terus ada yang datang setiap tahunnya. Tapi tetap ada pergantian generasi, ada yang lulus kuliah terus keluar daerah, namun ada juga yang datang mendaftar.

8. Q: Apa pendapat soal prediksi terbenamnya seni seiring perkembangan zaman?
A: Tidak seperti itu juga, tergantung bagaimana kita melihat budaya itu. Ibarat kita mengangkat batang terendam, itu kan harus kita gali baru kita angkat. Ketika kita gali itu kan ada batang yang bisa digunakan untuk membuat figura segala macam, tapi memang ada proses yang harus dilalui untuk menjadi sebuah karya.

9. Q: Sampai kapan akan terus menari atau beraktifitas dalam bidang seni ini?
A: Sampai kapan waktu, sampai akhir hayat. Insyaallah sekarang juga banyak kegiatan, baik itu di Lembaga Adat Melayu atau yang lain.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved