Menyapa Nusantara
Mengukur mutu peradaban: Pendidikan Harus Lahirkan inovasi
Inisiatif seperti penerapan micro-credentials atau sertifikat modular, yang kini diakui perusahaan teknologi global sekelas Google dan ...
Kampus tidak bisa hanya menanamkan ilmu; ia harus menjadi teladan karakter sekaligus pendorong kemandirian berpikir. Prinsip tersebut menegaskan bahwa kampus harus melayani mahasiswa sebagai subjek yang memiliki kodratnya sendiri.
Artinya, kurikulum kaku harus diganti dengan pembelajaran yang mengakui keunikan potensi setiap individu, sejalan dengan dorongan Deep Learning yang kita bahas.
Mendorong Inovasi Lokal
Kunci keluar dari stagnasi adalah mentransformasi fungsi kampus melalui pendekatan triple helix plus. Model tersebut memperluas kolaborasi tradisional (perguruan tinggi, industri, dan pemerintah) dengan memasukkan pemerintah daerah dan komunitas/UMKM.
Di wilayah maritim, perguruan tinggi harus fokus pada teknologi kelautan. Di kawasan agraris, riset harus diarahkan pada pertanian presisi. Langkah ini memastikan riset kampus secara inheren memiliki dampak sosial dan ekonomi yang kuat.
Secara sosiologis, desakan untuk kolaborasi erat dengan pembangunan peradaban yang berkeadilan. Sosiolog ternama, Manuel Castells, dalam karyanya The Information Age, sering membahas bagaimana kekuatan jaringan (network) akan menjadi penentu utama kekayaan dan kekuasaan di era informasi.
Bagi negara berkembang, ia menegaskan, jika lembaga pendidikan tidak terhubung kuat dengan industri, pemerintah daerah, dan komunitas lokal, risikonya tinggi menjadi "pulau-pulau informasi" yang terputus dari arus pembangunan global.
Kampus harus membangun jaringan kuat untuk memastikan pengetahuan mengalir dan memberi daya ungkit bagi pembangunan di semua level masyarakat, membenarkan perlunya model triple helix plus mengatasi kesenjangan regional.
Kurikulum wajib dirombak total. Pendidikan harus fleksibel, tidak lagi membedakan secara kontras antara jalur akademik dan vokasi.
Pengembangan micro-credentials harus didorong masif untuk mendukung program yang memungkinkan pelajar dan pekerja belajar sepanjang hayat.
Diimbangi dengan penguatan karakter melalui pendekatan Deep Learning—yang menekankan meaningful, mindful, dan joyful learning—kita dapat membentuk lulusan yang tak hanya cerdas teknologi, tetapi juga memiliki integritas etika Pancasila.
Andrew Ng, salah satu pelopor kecerdasan buatan dan pendiri Coursera, berpendapat bahwa di masa depan, gelar perguruan tinggi saja tidak akan cukup; masyarakat perlu beralih ke pembelajaran yang berfokus pada keterampilan dan parsial (micro-credentials).
Pandangan tersebut menjustifikasi urgensi perguruan tinggi merespons tuntutan pasar yang sangat dinamis. Pendidikan harus menjadi proses just-in-time, tempat pelajar bisa segera mengambil modul keterampilan relevan dengan tren AI tanpa menunggu empat tahun masa studi.
Perjalanan pendidikan tinggi kita tidak butuh wacana baru, melainkan keberanian untuk implementasi yang substantif. Kita harus memastikan anggaran 20 persen APBN didorong proporsional untuk riset berdampak dan program mengatasi kesenjangan mutu.
Karena pada akhirnya, seperti diingatkan Amartya Sen dalam Development as Freedom, pembangunan sejati adalah tentang memperluas pilihan dan kebebasan masyarakat. Pendidikan tinggi harus menjadi penggerak kebebasan itu.
Kini, saatnya pendidikan tinggi kita tampil sebagai lokomotif transformasi. Kampus harus beralih fungsi dari tempat mencetak kertas ijazah menjadi laboratorium peradaban yang mendefinisikan masa depan bangsa. (*/E3)
*) Rioberto Sidauruk adalah Dosen STIH Gunung Jati Tangerang dan bertugas sebagai Tenaga Ahli AKD DPR RI.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20251126-Mahasiswi-penyandang-disabitas-Eprisa-Nova-Rahmawati.jpg)