Opini
Spirit Nisfu Syaban
Nisfu Syaban ini benar-benar dijadikan momentum mengurut ulang keberadaan diri selaku hamba dengan cara saling memaafkan
Di sisi lain, momentum Nisyfu Saban perlu dijadikan ruang empatik-edukatif dan aplikatif memangku amanah kesemestaan maupun kekhalifahan. Sehingga tiap diri beriman, pasca taubat diterima dan dosa-dosa diampuni, seyogianya mampu berhias kebajikan dalam mengarungi dinamika berkehidupan.
Kreasi dan kolaborasi sosial kehambaan mereka, tidak boleh sekali-kali lepas dari kebajikan ilahi dan kemaslahatan insani. Artinya, dalam membawakan diri selaku hamba dan umat, perlu semakin cermat, teliti, jeli, kuat, tahan banting, dan integralistik menjaga orientasi maupun konsistensi imani di hadapan Allah SWT sekaligus sesama makhluk.
Salah satu bagian berhias kebajikan, tiap-tiap diri kian menyadari dan memaksimalkan peran kemanusiaan, kemasyarakatan dan kehambaannya. Jika selama ini masih cukup pelit, kikir, dan bakhil untuk berbagi kebaikan dengan sesama, belajarlah perlahan melenturkan egoisme dan bergegas mengulurkan tangan demi memberikan kemudahan sosial antar sesama.
Bila belakangan lekat dengan kebiasaan mempersulit komunikasi, interaksi, memanipulasi, apalagi sampai mengkhianati janji atau komitmen persahabatan, pertemanan, hatta sosial kehambaan, sebaiknya ikhtiar untuk meminta maaf dan menebus sesuai kemampuan atasnama kemanusiaan.
Dalam konteks birokrasi, seadainya mempunyai tabiat hobi menghambat potensi dan pengembangan karir orang lain, lebih etik jika berusaha meminta maaf dan tidak mengulangi lagi. Sehingga posisi birokratis yang diamanahkan bisa memberikan dan melahirkan manfaat maupun kebajikan.
Atau, jika masih ada kesempatan, sebaiknya berikhtiar mendampingi mereka bahkan kalau bisa ikut mengantarkan ke jenjang karir yang lebih prospektif. Bukankah seperti ajaran Rasulullah Saw., sebaik-baik manusia, apalagi yang mengkalim sebagai kaum beriman, seyogianya memberikan kemaslahatan dan kebajikan bagi sesama. Bukan malah mendistorsi, lebih-lebih secara antipatik.
Ciri lain berhias kebajikan, beranjak dari spirit Nisyfu Saban, tidak lagi giat membohongi umat, rakyat, dan bangsa. Kejujuran, ketulusan, dan empati dalam konteks sosial keumatan, kerakyatan dan kebangsaan, harus dijadikan prinsip dan karakter. Tak baik tampil apologis, kontradiktif, eksploitatif, konspiratif, dan politis di hadapan umat, rakyat maupun bangsa.
Apa yang dinyatakan di depan publik, tidak boleh diabaikan lantaran ada atensi kepentingan dan tekanan politik. Aspirasi umat dan rakyat, kurang elok sering dimanipulasi, diamputasi, didisorientasi, dan dimarginalisasi.
Sekali lagi, melalui spirit Nisyfu Saban, alirkan yang esensi dan berisi. Semua demi ubudiyah kepada ilahi dan harmoni untuk kemaslahatan insani. (*/E1)
Nisfu Syaban
| Belanja Dulu, Bayar Nanti: Tren Paylater di Kalangan Mahasiswa |
|
|---|
| Refleksi Ekonomi Bangka Belitung 2026: Inflasi Stabil, Fondasi Masih Rapuh |
|
|---|
| Dialektika Hukum dan Keadilan dalam Praktik Penegakan Hukum |
|
|---|
| Dunia Anak Tidak Sesederhana yang Kita Bayangkan: Belajar dari Film Na Willa |
|
|---|
| Waspada Lonjakan Kasus Campak di Indonesia: Alarm Kesehatan di Tengah Rendahnya Cakupan Imunisasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20251208-Masmuni-Mahatma.jpg)