Rabu, 8 April 2026

Opini: Ramadan Momentum Meningkatkan Karya dan Takwa

ALLAH SWT telah memilih Ramadhan sebagai bulan istimewa. Nabi menyampaikan bahwa seorang muslim harus

TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Ilustrasi: Umat Muslim melaksanakan salat Tarawih di Masjid Agung, Medan bulan suci Ramadan 1436 H. 

Opini: Heriyanto, Guru PAI SMP Negeri 4 Gantung Belitung Timur

ALLAH SWT telah memilih Ramadhan sebagai bulan istimewa. Nabi menyampaikan bahwa seorang muslim harus bergembira bila bertemu dengan bulan mulia tersebut. Karena bila seseorang mengetahui keutamaan bulan Ramadhan, dia ingin setiap bulan adalah bulan Ramadhan.

Allah pun memilih beberapa peristiwa penting dalam bulan Ramadhan. Allah melantik nabi pada bulan Ramadhan. Alquran pun diturunkan pada bulan Ramadhan. Di bulan ini juga ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam lailatul qadr. Saat itu, malaikat Jibril memimpin barisan malaikat Allah turun ke bumi dan mendoakan para manusia yang mengharapkan ridho Allah.

Dalam hal ibadah pun, pahalanya jauh lebih besar dibandingkan beribadah di bulan-bulan lainnya. Dimaksud ibadah di sini tidak hanya ibadah ritual, tetapi juga perbuatan baik lainnya, seperti kepada lingkungan, teman, saudara, keluarga, dan lainnya. Bila dilakukan di bulan Ramadhan, semuanya memiliki nilai kebaikan yang tinggi.

Di bidang penelitian pun, banyak karya-karya monumental dibuat di bulan Ramadhan. Imam Malik dan Imam Syafi'i beberapa contohnya. Mereka memanfaatkan Ramadhan untuk melahirkan karya tulis yang sangat monumental. Buku Imam Syafi'i karyanya terus dibaca orang banyak, meskipun sudah berusia 1.400 tahun. Banyak peristiwa sejarah yang terjadi di bulan Ramadhan.

Termasuk proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 pun, jatuh di bulan Ramadhan. Bagaimana pun, bulan prestasi yang dicetak umat Islam ada dalam bulan Ramadhan.

Shaum bulan Ramadhan diperintahkan oleh Allah pada tahun ketiga kenabian Rasulullah. Meskipun begitu, tradisi shaum sudah dikenal oleh Rasulullah sebelum perintah ini turun, yaitu Shaum Arafah pada bulan Dzulhijjah. Saat ini, ibadah tersebut menjadi shaum sunnah.

Ada dua shaum yang diwajibkan dalam Islam, yaitu shaum di bulan Ramadhan dan shaum Qadha. Shaum Qadha adalah shaum pengganti ketika tidak mampu melakukan shaum ketika bulan Ramadhan. Ada beberapa kondisi yang memperbolehkan hal ini, yaitu ketika seorang wanita sedang nifas, ketika seorang ibu sedang hamil dan menyusui, dan ketika seorang muslim berada dalam perjalanan jauh.

Dalam kasus rumah tangga, apabila seorang suami mengharamkan istrinya, maka wajib bagi suami berpuasa 3 hari. Ada juga shaum 10 hari, yaitu pada haji Tamattu dan Khiram. Pada saat di Mina, jamaah haji wajib melakukan kurban 1 ekor kambing.

Sembilan puluh delapan persen jamaah haji Indonesia melakukan haji Tamattu. Bila tidak mampu melakukan kurban, maka wajib baginya berpuasa 3 hari di tanah suci, dan 7 hari ketika kembali di negerinya sendiri. Ada juga shaum Khifarat berjumlah 60 hari dan harus dilakukan terus menerus serta tidak boleh terputus.

Mereka yang harus melakukan shaum ini adalah seseorang yang telah membunuh orang lain. Selain itu, suami yang mengharamkan istrinya seharam bersetubuh dengan ibunya, wajib melakukan shaum ini. Pihak lainnya yang harus melakukan shaum ini adalah pasangan suami-istri yang melakukan hubungan badan di siang hari di Bulan Ramadhan.

Puasa juga pernah diwajibkan untuk umat sebelum umat Muhammad SAW. Umat nabi Musa diwajibkan shaum selama 60 hari lamanya. Sedangkan nabi Zakaria diperintahkan berpuasa dengan tidak berbicara berhari-hari. Hal ini karena ketika dia berusia 80 tahun dan istrinya yang berusia 70 tahun melahirkan bayi bernama Yahya. Pada saat itu, umatnya meributkan hal ini, sehingga Zakaria diperintahkan untuk shaum berbicara.

Siti Maryam ketika melahirkan Isa pun pernah diperintahkan untuk shaum bicara ini. Ketika datang malaikat Jibril kepadanya untuk menyampaikan bahwa dirinya akan melahirkan seorang putra, Maryam kebingungan dan mengkhawatirkan orang-orang di sekitarnya yang akan memfitnahnya.

Maka Siti Maryam pun diperintahkan untuk shaum tidak berbicara ini. Nabi Adam sendiri pada saat terusir dari surga, diperintahkan untuk melakukan shaum.

Nabi Nuh ketika berada di atas bahtera tatkala banjir merendam dunia, pun diperintahkan untuk melakukan shaum. Nabi Ibrahim ketika dibakar oleh kaumnya, dia pun melakukan shaum. Nabi Yusuf ketika berada di dalam penjara diperintahkan untuk shaum. Para nabi diperintahkan untuk shaum untuk membangkitkan perjuangan dalam dirinya. Selain itu, shaum juga untuk mendorong keinginan yang ingin diperoleh.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Cerpen: Aaah !

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved