Tribunners
Meratapi Nasib Pariwisata di Bangka Belitung
Masa depan pariwisata daerah ini tidak terletak pada kompromi yang mustahil, melainkan pada komitmen tegas untuk melindungi fundamen ekologis
Melihat pengalaman yang sudah pernah terjadi menjadi cerminan bahwa tambang dan pariwisata tidak dapat berjalan secara beriringan. Bayangkan jika seluruh laut ditambang, siapa yang akan mengisi pasokan ikan di restoran, siapa yang menginap di hotel, siapa yang akan mengunjungi pantai dan siapa yang akan berliburan ke Bangka Belitung? Pertanyaan ini seharusnya menegaskan bahwa apabila kegiatan ekstraktif tambang laut terjadi, maka bukan hanya nelayan namun, sektor pariwisata adalah salah satu yang berdampak buruk paling besar.
Benarkah pariwisata dan pertambangan bisa berdampingan?
Jika ditelisik secara kritis pariwisata dan pertambangan secara fundamental berdiri di atas dua fondasi yang berbeda. Pertanyaannya: apakah pariwisata dan pertambangan bisa berdampingan? Tentu, pariwisata dan pertambangan beroperasi pada paradigma ontologis yang bertentangan, yang satu membangun nilai melalui kelestarian dan keberlanjutan lingkungan, sementara yang lain menciptakan profit melalui ekonomi yang sangat merusak dan eksploitatif.
Klaim bahwa keduanya bisa ‘berdampingan’ patut untuk selalu dikritisi karena bisa jadi bagian dari ilusi berbahaya yang mengaburkan kenyataan bahwa setiap ribuan ton mineral yang ditambang dari laut Bangka Belitung merupakan nilai pariwisata yang pelan-pelan dirusak sehingga banyak sumber-sumber daya ekologis yang hilang dan tak lagi sehat dan stabil seperti semula.
Sekali lagi, pariwisata hadir merupakan identik dengan keindahan, pelestarian, melindungi, dan perjalanan yang menyenangkan. Sementara, tambang identik dengan eksploitasi, perusakan dan merubah lanskap alam.
Dari aksi gerakan nelayan Bangka Belitung pada bulan Juli kemarin, bukan hanya tentang mempertahankan ruang hidup nelayan, namun juga sebagai perlawanan untuk menyelamatkan sektor pariwisata. Dalam momentum Hari Pariwisata Dunia yang diperingati pada 27 September, harus menjadi refleksi bagi semua pihak bahwa keberlanjutan pariwisata di Bangka Belitung tidak terlepas dari peran keberlanjutan ekologi di laut di Bangka Belitung.
Masa depan pariwisata daerah ini tidak terletak pada kompromi yang mustahil, melainkan pada komitmen tegas untuk melindungi fundamen ekologis yang menjadi basis economic resilience generasi mendatang. Bahkan bisa saja pariwisata menjadi modal dalam melawan sektor pertambangan di laut Bangka Belitung. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250929_Imam-Yudi-Saputra.jpg)