Kamis, 4 Juni 2026

SPPG di Bangka Belitung

Relawan SPPG Dapat Upah Rp100 Ribu, Warga dari Sekolah Penerima Manfaat Ramai Jadi Relawan

Yang melamar kebanyakan anak muda bahkan yang baru lulus kuliah ikut melamar dan ibu rumah tangga sehingga setiap hari SPPG ini ada yang melamar

Tayang:
Bangka Pos
Bangka Pos Hari Ini, Rabu (22/10/2025) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polda Babel di Jalan Linggar Jati No 1, Kelurahan Batin Tikal, Kecamatan Tamansari, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, turut mendapat bantuan relawan dalam aktivitasnya menyiapkan Makan Bergizi Gratis (MBG).

Uniknya, relawan itu adalah warga yang berasa dari sekolah penerima manfaat.

“Yang melamar kebanyakan anak muda bahkan yang baru lulus kuliah pun ikut melamar dan ibu rumah tangga sehingga setiap hari SPPG ini ada yang melamar. Mereka ingin ikut berkontribusi. Ini bukti bahwa masyarakat mulai punya kesadaran untuk terlibat langsung,” kata Hafiz, Kepala SPPG Polda Babel, Minggu (19/10).

Kehadiran relawan ini seakan menguatkan manfaat SPPG yang tak sekadar menyediakan MBG untuk siswa dan menyerap tenaga kerja lokal. MBG sendiri merupakan program kerja pemerintah Presiden dan Wakil Presiden RI, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang genap 1 tahun pada 20 Oktober 2025 lalu.

Hafiz mengatakan setidaknya ada 47 relawan yang aktif ikut terlibat dalam pelaksanaan program MBG di dapur SPPG Polda Babel. Mereka terdiri dari bapak-bapak, ibu rumah tangga termasuk single parent, serta anak-anak muda dari lingkungan sekitar.

“Relawan bukan hanya membantu, tapi juga mendapatkan pekerjaan dan penghasilan tambahan. Ini jadi dampak sosial positif yang jarang terlihat,” ujarnya.

“Relawan yang bekerja memiliki banyak latar belakang mulai dari bapakbapak umur 40an sampai50an Ibu janda dengan anak serta juga anak muda yang umur mulai dari 18 tahun semuanya kami terima kalo bekerja sesuai dengan SOP dan sehat ” tambah Hafiz yang menyebut para relawan diberi upah harian sebesar Rp100 ribu.

Hafiz mengatakan para relawan tetap harus mengikuti SOP seperti pekerja SPPG lainnya. Kepatuhan ini tidak terlepas dari tujuan menjaga mutu makanan yang disajikan dalam MBG.

Para relawan diwajibkan menggunakan APD lengkap seperti masker, sarung tangan, celemek, dan penutup kepala. Setiap bahan baku yang datang juga diperiksa oleh tim khusus untuk memastikan kesegaran dan keamanan konsumsi. Bila ditemukan bahan yang tidak layak, langsung dikembalikan ke pemasok.

“Kami tidak main-main soal bahan baku. Semua harus segar dan aman. Kalau ada yang rusak, langsung dikembalikan,” tegas Hafiz.

Kebersihan dapur pun menjadi prioritas utama. Setiap area kerja harus selalu bersih, dan relawan wajib mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja. Sebelum makanan dikirim ke sekolah, dilakukan proses final check di ruang pemorsian.

Di ruangan ini, setiap makanan terlebih dahulu dicicipi dan dicek oleh ahli gizi, kepala SPPG, serta staf laboratorium untuk memastikan rasa, kandungan gizi, dan keamanan makanan

Setelah dinyatakan aman, makanan yang telah didinginkan akan dimasukkan ke dalam omprengan khusus untuk kemudian didistribusikan ke sekolah dan posyandu penerima manfaat.

“Proses ini penting untuk memastikan makanan tidak hanya bergizi, tapi juga aman dikonsumsi. Kami ingin anak-anak mendapatkan makanan yang layak dari sisi kualitas maupun kebersihan,” kata Hafiz.

Selama pelaksanaan, program MBG menunjukkan berbagai dampak nyata. Anak-anak terlihat lebih bersemangat belajar, tingkat kehadiran di sekolah meningkat, dan orang tua merasa lebih tenang karena kebutuhan gizi anak terpenuhi.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved