Jumat, 10 April 2026

Tribunners

Mudik Lebaran, Tradisi Pulang Kampung yang Penuh Makna

Makna mudik terletak pada kesadaran untuk kembali kepada keluarga, kepada nilai-nilai luhur, dan kepada kemanusiaan kita sendiri

Editor: suhendri
Dokumentasi Tonghari
Tonghari (Yaknan) - Pranata Humas IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung 

Oleh: Tonghari (Yaknan) - Pemerhati Sosial dari Desa Sempan, Bangka 

MUDIK merupakan tradisi yang sangat khas di Indonesia, terutama menjelang hari raya Idulfitri. Setiap tahunnya, jutaan orang melakukan perjalanan pulang kampung untuk merayakan Lebaran bersama keluarga tercinta.

Mudik dalam bahasa Jawa berasal dari kata “mulih disik” yang artinya “pulang dulu”. Ini diartikan juga dengan pulang yang hanya sebentar untuk bertemu keluarga setelah lama tinggal di tanah rantau. 

Orang Betawi mengartikan mudik sebagai “kembali ke udik”, di mana dalam bahasa Betawi, “udik” sendiri memiliki arti kampung. Istilah ini merujuk pada tradisi masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan panjang untuk kembali ke tempat asal mereka, terutama menjelang Lebaran.

Perjalanan ini menjadi momen penting bagi masyarakat Indonesia, di mana banyak yang kembali ke kampung halaman setelah berbulan-bulan bekerja atau bersekolah di kota-kota besar. Selain sebagai momen berkumpul bersama keluarga, mudik juga menjadi simbol kebersamaan dan kepulangan yang penuh makna.

Setiap kali Lebaran tiba, berbagai daerah di Indonesia akan dipenuhi dengan arus pemudik yang sangat besar. Jalan-jalan utama menuju kampung halaman menjadi penuh sesak dengan kendaraan pribadi, bus, kereta api, bahkan kapal laut yang membawa para pemudik pulang ke tempat asal mereka. Fenomena ini tak hanya menjadi tradisi keluarga, namun juga menjadi ajang pertukaran sosial yang kuat antarmasyarakat yang berada di perantauan dan mereka yang tinggal di kampung halaman.

Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), total pergerakan
masyarakat selama masa angkutan Lebaran 2026 sebesar 50,60 persen penduduk atau 143,91
juta orang. Angka tersebut didapatkan berdasarkan hasil survei nasional yang dilakukan Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kemenhub.

Pergerakan terbesar pemudik angkutan Lebaran 2026 berasal dari Jawa Barat sebanyak 30,97 juta orang, diikuti DKI Jakarta (19,93 juta orang), dan Jawa Timur (17,12 juta orang). Dari sisi tujuan, arus terbesar mengarah ke Jawa Tengah sebesar 38,71 juta orang, disusul Jawa Timur (27,29 juta orang) dan Jawa Barat (25,09 juta orang). Kemenhub mencatat moda transportasi yang akan paling dominan adalah mobil pribadi sebesar 76,24 juta orang, disusul sepeda motor (24,08 juta orang) dan bus (23,34 juta orang). (metrotvnews.com/dikutip 25/2/2026).

Pemerintah melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB)
menerbitkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pelaksanaan Tugas Kedinasan bagi Pegawai Aparatur Sipil Negara di Instansi Pemerintah pada Masa Libur Nasional dan Cuti Bersama Hari Suci Nyepi (Tahun Baru Saka 1948) dan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, yang dilaksanakan selama lima hari, yaitu dua hari sebelum libur nasional dan cuti bersama Nyepi (Senin dan Selasa, 16 dan 17 Maret 2026) serta tiga hari setelah libur nasional dan cuti bersama Idulfitri (Rabu, Kamis, dan Jumat, 25, 26, dan 27 Maret 2026) selama periode mudik Lebaran dan arus balik Lebaran untuk mengurai kemacetan.

Menurut Rachmawati dalam jurnal Refleksi Budaya dalam Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia
yang diterbitkan di Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (2021), mudik merupakan refleksi budaya yang menegaskan kuatnya orientasi masyarakat Indonesia terhadap keluarga dan kampung halaman sebagai pusat identitas sosial. Tradisi ini dipandang sebagai bentuk aktualisasi nilai kekeluargaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Makna tradisi mudik lebaran secara emosional, spiritual, dan sosial

Secara emosional, mudik Lebaran merupakan wujud kerinduan akan kehangatan keluarga dan kampung halaman. Bagi perantau, kampung halaman sering kali diidentikkan dengan tempat yang penuh kenangan masa kecil, kebersamaan, dan rasa aman. Perasaan rindu ini mendorong mereka untuk mengatasi segala rintangan, seperti kemacetan, kelelahan, dan biaya yang besar, demi bisa berkumpul dengan orang-orang tercinta.

Emosi semacam itu juga mencerminkan kebutuhan manusia akan rasa memiliki (sense of belonging). Dalam psikologi, hubungan emosional dengan keluarga dan tempat asal dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam membentuk identitas diri. Mudik Lebaran menjadi momen untuk memperkuat ikatan emosional tersebut, sekaligus mengingatkan individu akan akar dan asal-usul mereka.

Dari perspektif spiritual, mudik Lebaran memiliki makna yang erat dengan nilai-nilai keagamaan. Idulfitri, yang dirayakan setelah bulan Ramadan, merupakan momen kemenangan setelah sebulan berpuasa dan mendekatkan diri kepada Allah. Mudik menjadi bagian dari proses penyucian diri, di mana seseorang tidak hanya membersihkan diri secara fisik, tetapi juga secara spiritual dengan meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan keluarga dan sesama.

Dalam Islam, silaturahmi (menjalin hubungan baik dengan keluarga dan kerabat) merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Mudik Lebaran menjadi sarana untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut. Dengan kembali ke kampung halaman, seseorang dapat mempererat hubungan dengan keluarga, meminta maaf atas kesalahan yang mungkin telah dilakukan, dan memperbarui komitmen untuk hidup dalam kebajikan.

Lebaran mencerminkan solidaritas dan kebersamaan dalam masyarakat Indonesia. Tradisi ini menjadi momen di mana batas-batas sosial, ekonomi, dan budaya seolah-olah menghilang. Semua orang, baik yang kaya maupun yang kurang mampu, berusaha untuk pulang ke kampung halaman. Hal ini menunjukkan bahwa mudik Lebaran bukan hanya tentang kepulangan fisik, tetapi juga tentang kesetaraan dan persaudaraan.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved