Tribunners
TikTok Mengasuh Anak Kita
Satu hal yang tidak boleh hilang adalah kehadiran emosional dalam keluarga.
Oleh: Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd. - Dosen Prodi PGSD Unisri Surakarta
BEBERAPA waktu lalu, sebuah video viral di media sosial memperlihatkan seorang balita menangis histeris di pusat perbelanjaan karena telepon genggamnya diambil orang tua. Anak itu berguling di lantai, berteriak, memukul, bahkan sulit ditenangkan selama beberapa menit. Alih-alih merasa prihatin, sebagian orang justru menganggapnya lucu dan menjadikannya hiburan digital.
Di tempat lain, seorang guru taman kanak-kanak mengeluhkan murid-murid yang sulit fokus lebih dari beberapa menit. Anak-anak cepat bosan, sulit diajak berbicara, dan terus meminta tontonan. Bahkan ada anak yang lebih hafal jargon kreator TikTok daripada nama teman sekelasnya sendiri.
Fenomena ini bukan lagi kasus terpisah. Kita sedang menghadapi perubahan besar dalam pola pengasuhan modern: ketika layar digital perlahan mengambil alih peran emosional orang tua. Anak-anak kini lebih sering ditenangkan oleh algoritma daripada pelukan. Mereka lebih akrab dengan video pendek dibanding percakapan hangat di rumah.
TikTok dan media sosial sebenarnya bukan musuh. Namun, persoalannya muncul ketika teknologi tidak lagi menjadi alat bantu, melainkan berubah menjadi “pengasuh utama” dalam kehidupan anak.
Hari ini, banyak orang tua tanpa sadar menjadikan gawai sebagai solusi tercepat menghadapi kerewelan anak. Saat anak menangis, diberikan video. Saat orang tua lelah bekerja, anak disibukkan layar. Saat rumah terlalu sunyi, media sosial menggantikannya dengan suara tanpa henti.
Semua terasa praktis. Semua tampak membantu. Tetapi dampaknya perlahan mulai terlihat.
Penelitian terbaru tahun 2024 yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Pediatrics menemukan bahwa paparan screen time berlebihan pada anak usia dini berkaitan dengan gangguan regulasi emosi, keterlambatan bahasa, dan penurunan kemampuan sosial-interaktif.
Penelitian lain dari American Academy of Pediatrics juga menunjukkan bahwa penggunaan media digital tanpa pendampingan meningkatkan risiko gangguan perhatian dan perilaku impulsif pada anak.
Sementara itu, laporan UNICEF tahun 2025 mengingatkan bahwa anak-anak generasi digital menghadapi ancaman baru berupa “social isolation in connected spaces”, yaitu kondisi ketika anak terlihat terhubung secara online tetapi justru kehilangan kedekatan emosional nyata dalam keluarga.
Yang lebih mengkhawatirkan, video pendek seperti TikTok bekerja dengan sistem algoritma yang dirancang mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Perpindahan gambar cepat, suara keras, warna mencolok, dan banjir stimulasi instan memicu lonjakan dopamin di otak. Pada orang dewasa saja hal ini dapat memicu kecanduan digital, apalagi pada anak-anak yang perkembangan otaknya belum matang.
Akibatnya, banyak anak menjadi mudah marah, sulit sabar, cepat bosan terhadap aktivitas belajar, dan tidak terbiasa dengan proses yang lambat. Dunia nyata akhirnya terasa kurang menarik dibanding dunia digital yang serba cepat.
Di Indonesia, fenomena ini mulai tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit balita makan sambil menonton video berjam-jam. Banyak anak sulit tidur tanpa gadget. Bahkan beberapa orang tua mengaku panik ketika kuota internet habis karena anak langsung tantrum.
Ironisnya, di tengah situasi ini, sebagian orang tua juga ikut terjebak dalam budaya media sosial. Banyak momen keluarga kini lebih sibuk direkam daripada dirasakan. Anak dijadikan konten harian demi validasi digital. Kehangatan keluarga perlahan berubah menjadi kebutuhan tampil sempurna di depan kamera.
Kita mulai hidup di era ketika rumah terlihat ramai oleh suara video, tetapi miskin percakapan. Orang tua hadir secara fisik, tetapi tidak selalu hadir secara emosional.
Padahal, anak tidak membutuhkan orang tua sempurna. Mereka membutuhkan keterhubungan emosional yang nyata. Otak anak berkembang melalui interaksi manusia: tatapan mata, sentuhan, respons suara, cerita sebelum tidur, dan percakapan sederhana di meja makan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260313_Elinda-Rizkasari.jpg)