Kamis, 23 April 2026

Dampak Kenaikan Harga BBM di Babel

Bio Solar Babel Dibatasi Ketat, Kendaraan Diesel Plat Luar Harus Isi Dexlite

Kenaikan Dexlite membuat pemilik mobil kendaraan diesel berpelat luar daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung semakin menjerit

Bangka Pos
Bangka Pos, 21 April 2026 

Selain mengumumkan penyesuaian harga tersebut, Pertamina memastikan stok BBM di wilayah Sumbagsel tetap aman dan distribusi berjalan lancar. 

Balik Kanan

Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Dexlite mengejukan Susanto (38) alias Codet, warga Desa Pangkalbuluh, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dia terpaksa menyuruh sopir truk miliknya di SPBU untuk pulang setelah mendapat kabar kenaikan harga.

“Saya kira naiknya paling seribu dua ribu, ternyata langsung melonjak hampir dua kali lipat. Saya suruh sopir balik
dulu karena masih ada sisa,” ujar Codet saat dihubungi Bangka Pos, Minggu (19/4).

Menurut Codet, lonjakan harga tersebut terjadi secara mendadak tanpa informasi yang memadai, sehingga mengacaukan perhitungan operasional yang telah disusun sebelumnya.

“Perasaan pertama jelas kaget dan marah. Tidak ada pemberitahuan, tiba-tiba naik tinggi. Mau tidak mau semua hitungan operasional harus diubah,” katanya.

Biasanya, Codet hanya merogoh koceknya sebanyak Rp350.000 untuk pengisian 25 liter BBM Dexlite. Per hari, dia bisa menghabiskan BBM antara 25 liter sampai 40 liter untuk aktivitasnya sebagai pengepul Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit.

“Sekarang 25 liter sudah sekitar Rp600 ribu. Kalau sehari habis 40 liter, bisa tembus Rp900 ribu lebih, bahkan hampir Rp1 juta kalau antar sampai Bangka Barat. Modal BBM saja sudah dua kali lipat, jelas bikin stres,” ungkapnya.

“Seumur hidup saya pakai truk, ini kenaikan paling besar, sampai 100 persen. Dampaknya luar biasa, terutama untuk usaha transportasi,” lanjutnya.

Kesulitan Antre

Di sisi lain, penggunaan BBM subsidi bukan tanpa kendala. Ia mengaku kesulitan memperoleh solar bersubsidi karena antrean panjang dan keterbatasan stok.

“Kalau pakai subsidi sulit. Antre dari subuh, jam 9 pagi sudah habis. Sementara pekerjaan kami tidak bisa menunggu,” katanya.

Ia juga menyoroti bahwa dampak kenaikan BBM nonsubsidi tidak hanya dirasakan kalangan tertentu, tetapi juga pelaku usaha kecil.

“Katanya untuk kendaraan tertentu, tapi kami yang kerja juga kena. Pendapatan tidak besar, tapi biaya operasional naik drastis. Ini sangat menekan,” ujarnya.

Sumber: bangkapos
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved